TAK biasanya kaji Sakur resah gelisah. Tiga anaknya sudah hidup mapan dengan usaha dan pekerjaan masing-masing. Meski tidak kaya raya. Dia sendiri di usia senja masih mampu mengelola dagangan tanpa aral di pasar tradisional. Punya pelanggan setia meski jaman sudah berubah.
Keresahan tersebut muncul gegara pageblug ngelurug negeri ini. Pandemi ternyata bukan semata urusan wabah virus nggegirisi. Tetapi juga menjadi bencana hidup mati tempat usaha yang tiba-tiba sepi. Apalagi berbagai aturan pembatasan memaksa menutup berbagai aktivitas ekonomi tanpa kompromi.
Safrudin, anak pertamanya yang sukses mengembangkan bisnis tujuh unit pasar malam di berbagai kota lewat CV Mulya Jaya tak bisa lagi menghelat pertunjukan. Tiba-tiba usahanya gulung tikar. Bangkrut mendadak. Tidak ada lagi keceriaan berpendaran. Tanpa tawa anak-anak naik kuda putar. Tidak terlihat petugas tiket, pintu masuk tiap wahana.
Tong edan, kora-kora, rumah balon, bianglala, kereta kelinci, kuda putar, hingga trampolin yang biasanya jadi pendulang uang kini tak beroperasi lagi. Peralatan menumpuk bak onggokan kapal pecah. Kru yang biasa mengais sesuap nasi tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
"Din, aku dengar usahamu pasar malam bangkrut," tanya kaji Sakur di suatu siang ketika sulungnya bertandang.
"Leres,Pak. Lha wong pemerintah tegas melarang tontonan. Aturan berbagai pembatasan harus diterapkan. Harga mati tanpa solusi," ujar Saifudin berkeluh kesah.
"Apa tidak beralih profesi lain, kalau pasar malam harus terhenti beroperasi?" kaji Sakur coba menyelidik.
"Sulit, Pak. Mustahil merubah pertunjukan pasar malam menjadi usaha lain. Lokasi pertunjukan pasar malam harus terus berpindah-pindah. Tak laku kalau terlalu lama di sebuah tempat.Tanpa menetap di sebuah gedung. Kru yang terlibat dengan keahlian tertentu, sulit dialihkan pekerjaan berbeda. Seandainya benar beralih pekerjaan harus memulai lagi dari nol," jelasnya panjang lebar.
"Terus apa tidak ada peran pemerintah untuk ngopeni nasib tontonan rakyat disaat pandemi seperti ini?!" pancing kaji Sakur sambil menghisap asap rokok dalam-dalam.
"Jangankan subsidi,Pak. Ijin keramaian saja selalu berbelit. Dipersulit. Aparat rata- rata menganggap pasar malam adalah tempat meraup uang. Mereka berharap kecipratan bagian," keluh Safrudin dengan pandangan sayu.
"Pasar malam sebagai hiburan rakyat kecil harusnya dilestarikan. Jujugan kalangan bawah melihat tontonan dengan uang recehan. Ekononi usaha kecil bergeliat. Kru pertunjukan dapat menghidupi anak istri, meski kadang tak cukup untuk kebutuhan sehari hari," kalimat ngudarasa yang tak butuh jawaban karena hanya sebagai rasan-rasan.
Safrudin yang mendengar tak tahan. Lalu ikut komentar meski dengan nada datar.
"Tidak usah dipenggalih, Pak. Negeri ini belum pernah berubah. Aparaturnya masih senang dilayani. Rakyat diopeni kalau ada transaksi di bawah meja kursi," sindirnya sembari memandang sang ayah yang masih udut kebak-kebul.
Perbincangan rampung. Safrudin yang sowan tanpa mengajak anak istri, beranjak menuju dapur saat ibunya yang sudah sepuh membuatkan kopi. Bebarengan dengan itu kaji Sakur menaruh puntung rokok ke dalam asbak. Sejenak terdiam. Pikiranya melayang. Membayang anak-anaknya yang akhir-akhir ini kesulitan mengelola usahanya gegara pandemi. Kecuali si bungsu yang memang sudah hidup makmur menjadi wakil rakyat. Tidak terdampak pandemi yang tengah merebak.
Sorenya tak disangka kaji Sakur kedatangan anak keduanya, Sofiatun. Sehari-hari berjualan beras di pasar krempyeng. Sebuah pasar yang ramainya hanya saban pagi. Di sebuah perempatan jalan desa. Tanpa bangunan permanen, tidak seperti pasar pada umumnya.
Meski pasar krempyeng, kalau dihitung-hitung omzetnya relatif besar. Selain itu, pasar krempyeng bukan sekedar pasar tempat jual beli semata. Karena pasar yang menempati kiri kanan jalan desa tersebut sebagai sebuah kearifan lokal yang menjadi area saling bantu antar warga. Sembari bertransaksi diiringi gelak tawa. Saling sapa tanpa sekat sosial. Tak membedakan strata. Bahkan dagangan bisa barter atau hutang dulu dibayar lain waktu. Bukan seperti mall atau supermarket yang serba tunai. Transaksi sesuai harga pada label barcode. Sesuai angka-angka nan tertera. Tanpa interaksi sosial. Nir sambung rasa.
Kedatangan Sofiatun sambil menbawa putrinya yang masih duduk di bangku sekolah dasar, membuat kaji Sakur kaget dan nelangsa. Tidak seperti biasanya. Kalau sambang bersama seluruh keluarga. Dan kirim kabar jauh sebelumnya.
"Ada apa, Tun. Dolan kok tidak bersama suaminu?" sapa bapaknya setelah Sofiatun membawa anaknya ke dapur menemui eyang putri.
"Surti kepengin ketemu eyang putri, Pak. Sudah lama tidak sowan kemari,"
"Suamimu kemana?"
"Kirim beras ke Surabaya, Pak. Tidak banyak. Tidak seperti biasanya sebelum ada korona. Usaha sekarang serba sulit. Pasar lesu. Penghasilan pedagang turun tajam. Bahkan ada yang tidak mendapatkan penghasilan untuk menyambung hidup,"
"Saya dengar akhir-akhir ini banyak pasar digusur. Bagaimana tempatmu?"
"Lha, itu Pak. Saya sowan kemari. Juga dalam rangka minta tolong terkait penggusuran pasar tersebut. Pasar krempyeng yang selama ini saya tempati membuka usaha kecil-kecilan dan...," sahut Sofiatun pelan.
"Maksudmu?" tukas ayahnya.
"Kalau bisa penggusuran pasar krempyeng yang akan dialihfungsikan tersebut ditunda. Bapak kan ketua paguyuban, biasanya didengar suaranya. Atau lewat dik Alif yang kini menjadi wakil rakyat. Barangkali dapat memperjuangkan. Selama ini suara pedagang tidak pernah digubris. Hanya dianggap angin lalu," wadul Sofiatun dengan wajah memelas.
Kegelisahan Sofiatunlah yang sejatinya menjadi beban pikiran kaji Sakur. Sebagai ketua paguyuban pedagang, hampir setiap saat disambati para pedagang dari berbagai pasar.Sayangnya dia belum berhasil memperjuangkan, meski berkali telah mendesak lewat demontrasi. Kekerasan pemerintah daerah maupun pemerintah desa, bak raja-raja kecil yang otoriter pada rakyatnya. Pejabat yang arogan. Membaca segala permasalahan hitam putih. Tanpa pertimbangan rasa kemanusiaan. Tanpa nguwongke uwong, kata orang jawa.
Maka ketika anaknya minta bantuan menyalurkan aspirasi, dia terdiam. Lama tak menjawab. Wajahnya nampak sedih. Hatinya bak tersayat pedih. Untuk itu dia berusaha merangkai kata yang tepat dan penuh hati-hati.
"Ya Tun. Bapak siap menampung keluhanmu. Kita sampaikan ke jalur sesuai prosedur yang ada. Atau barangkali adikmu yang di legislatif bisa menampung aspirasimu dan pedagang lainnya," janji kaji Sakur menyanggupi.
"Apa penggusuran tersebut tidak disediakan tempat untuk pindah,ta Tun?" kaji Sakur masih ingin menggali informasi.
"Tidak ada Pak. Lha wong yang selama ini ditempati pasar krempyeng itu hanya trotoar sepanjang jalan. Hanya di perempatan. Kanan-kiri jalan. Yang dalam waktu dekat ini akan ditertibkan." penjelasan Sofiatun dengan air muka sedih.
Kaji Sakur mendengarkan dengan serius. Kasihan anaknya yang hanya pedagang kecil harus kena gusur. Pasar krempyeng yang para pelakunya orang-orang sahaja. Keluarga ekonomi lemah yang selama ini hidup sederhana. Harus tergusur hanya karena ambisi pemerintahan desa untuk mengambil alih lokasi strategis. Kebijakan yang cenderung menempatkan rakyat kecil pada posisi lemah. Terdhalimi karena ego keserakahan.
Tak lama kemudian, kaji Sakur menelpon anak bungsunya. Alif Billah, yang menjadi anggota dewan. Malamnya yang bersangkutan baru bisa datang. Masa reses siang malam terus menemui konstituen. Meski hanya seremonial. Bahkan seperti kegiatan pura-pura menampung aspirasi masyarakat. Karena kebijakan dan penataan anggaran yang sejatinya sudah diketok palu tak lebih sebagai transaksi politik di atas meja.
"Wonten dhawuh, Pak?" swara Alif setelah duduk di depan ayahnya.
"Saya ada perlu. Dua kakakmu datang ke rumah hampir bersamaan hari ini. Butuh jalan keluar untuk mengatasi kesulitannya," kaji Sakur lalu memanggil kakak-adik yang telah datang duluan.
Tak lama Safrudin dan Sofiatun yang sejak tadi bersama ibunya, ikut bergabung. Duduk melingkar di ruang tengah. Ruang yang sejak dulu dipakai sebagai ruang keluarga. Rumah model lama yang terbuat dari kayu jati. Rumah joglo yang memiliki nilai seni tinggi. Warisan turun temurun dari kakek buyutnya yang ditempati hingga kini.
"Ini kakak-kakakmu usahanya gulung tikar. Barangkali ada peluang usaha tolong dibantu. Sofiatun, pasar krempyeng di desanya akan digusur. Pedagang kehilangan tempat berjualan. Kalau bisa carikan jalan tengah untuk kebaikan bersama,"
"Kesempatan usaha memang serba sulit saat pandemi,Pak. Kapan-kapan kalu ada peluang saya kabari. Untuk penggusuran, saya akan mencoba dulu komunikasi ke beberapa orang. Karena kebijakan penertiban tersebut melibatkan banyak pihak," kalimat Alif diplomatis. Gaya ngeles politikus yang dikemas halus.
Dengan jawaban tersebut perbincangan keluarga berakhir. Tidak ada yang harus didiskusikan panjang lebar. Tidak ada jawaban pasti. Semua serba mengambang. Harus menunggu janji Alif yang baru diucapkan. Tak tahu ada hasil atau tidak yang bisa diharapkan.
Kaji Sakur yang sedari awal banyak berharap. Kelihatan menahan rasa kecewa. Kurang puas. Meski tak terungkap dalam kata-kata, namun dari air mukanya dapat terbaca. Pada akhirnya dia tak bisa berbuat banyak kecuali menunggu kabar.
Tidak beberapa lama, kaji Sakur menahan Alif agar tetap duduk. Saat saudaranya yang lain meninggalkan meja perbincangan. Lalu rembugan kecil dengan suara dipelankan. Kelihatannya tentang sesuatu yang sangat rahasia. Alif kelihatan tegang. Apa yang akan dibilang ayahnya, kok rasanya serius sekali.
"Lif, bapak ingin kabar terbaru terkait dengan rencana relokasi pasar tradisional di tengah kota itu," pertanyaan kaji Sakur menelisik. Sambil mendekatkan suara di telinga anaknya. Tidak keras tapi tersa menohok.
"A... a... a, saya belum dapat kabar, Pak." gugup dengan suara terbata bata.
"Kau jangan berbohong, Lif. Ayah sudah dapat perintah untuk mengemasi barang dagangan di pasar kota. Harus segera meninggalkan lapak sesuai waktu yang ditentukan. Segera relokasi ke pasar baru dengan cara paksa," tukas kaji Sakur dengan pandangan tajam.
"Saya kurang tahu, Pak. Segala sesuatunya sudah ada yang mengatur sendiri. Dewan tak tahu menahu. Itu kebijakan eksekutif," bantah Alif belepotan.
"Seminggu terakhir para pedagang demo besar besaran menentang relokasi sepihak. Dilanjutkan ibu-ibu demo mengungkapkan keresahannya, masa dewan tidak dengar!" sergah kaji Sakur dengan nada tinggi.
"Tapi..." kata kata Alif tercekat.
" Tapi memang akal julig pemerintah daerah dan dewan itu akan terus terulang. Ngeles pura pura tidak tahu meski kebijakan telah disetujui bersama. Betul kan? "
" Mmmm... ," lagi lagi Alif kehilangan kata kata.
"Rakyat sudah pintar, Lif. Tidak bisa dibodohi. Mereka tahu ruang wakil rakyat tak lebih dari arena transaksi jual beli seperti di pasar-pasar."
Tiba-tiba Halimah datang memisah perselisihan bapak-anak. Makin lama terdengar kalimat kasar. Istri kaji Sakur yang penyabar itu tetap berdiri ditengah keduanya. Kaji Sakur di kanan, Alif sebelah kiri. Lama ketiganya terdiam. Hanya berbicara dengan pikiran dan perasannya sendiri-sendiri.
“Apa yang diributkan ta,Pak?” pertanyaan memecah kesunyian.
“Aku ini sudah tidak dipercaya siapapun,Bu. Termasuk anak kita sendiri yang sudah duduk di kursi terhormat. Orang-orang di pasar tradisional sepertiku yang turut membesarkan kota ini sudah tidak dianggap. Mereka yang senasib denganku, yang telah mengukir sejarah panjang daerah ini, telah dilupakan begitu saja tanpa guna. Disingkirkan dengan dalih kebijakan, untuk mewujudkan ambisi orang-orang yang haus kekuasaan.” kalimat kaji Sakur dengan nada tinggi bak orasi politikus di panggung kontestasi.
“Dirembug yang sareh,ta Pak?” pinta hajah Halimah.
“Aku sudah kehilangan rasa sabar,Bu!” jawabnya dengan menahan amarah..
“Urusan orang banyak sebaiknya tidak dicampuradukkan kepentingan keluarga. Akan tidak baik jadinya,” rayu sang istri nyaris tak terdengar.
“Aku ketua paguyuban yang menjadi corong semua pedagang. Harusnya dapat pembelaan dari anakku yang anggota dewan,” ngeyel kaji Sakur semakin tak terkendali.
“Sudah,Lif. Kamu pulang dulu biar bapakmu bisa beristirahat” nasihat Halimah kepada Alif yang menahan rasa takut pada ayahnya.
Alif menurut pitutur ibunya. Sebelum pulang dipandanginya sang ayah yang menahan amarah. Dia merasa bersalah telah mengecewakan orang tua yang membesarkannya. Yang memperjuangkan hingga menduduki wakil rakyat. Mendapatkan posisi terhormat. Tapi apa daya, kekuatan besar politik kepentingan telah menjadikannya pengikut arus besar.
Didekatinya sang ayah. Sungkem. Memohon maaf agar amarahnya mereda.
"Ngapunten,Pak. Kalau saya banyak salah" katanya menghiba.
Lama kaji Sakur baru menyambut permintaan maaf anaknya. Meski demikian hatinya kelihatan belum ikhlas. Alif yang sungkem ditarik berdiri tegak. Dipandangi dengan tatapan tajam.
"Kalau terpaksa pasar tradisional itu digusur, bapak ingin meninggalkan hiruk-pikuk keramaian pasar. Boyongan ke pasar baru akan menghapus kenangan sejarah. Pesanku, sisakan hati nuranimu yang paling dalam, untuk tidak kehilangan segalanya di depan rakyat," sambil menepuk pundak Alif yang tak sanggup berucap.
Tak lama setelah nengutarakan kalimat terakhirnya, kaji Sakur meninggalkan pembicaraan. Beranjak, melangkah menuju kamar lalu menutup pintu rapat-rapat. Alif diam terpaku. Memandang bayangan ayahnya yang hilang di balik pintu.
*) Pegiat bahasa dan sastra di Sanggar Pamarsudi Basa Jawi (PSJB), Tinggal di Perumahan Gajah Indah Baureno Bojonegoro.
Editor : M. Yusuf Purwanto