DENYUT Muktamar ke 34 Nahdlatul Ulama (NU) seakan sudah terasa di Bojonegoro. Gerakan memasang 34 juta bendera NU sudah tersampai untuk menyambut muktamar. Warga Nahdliyin di Bojonegoro seakan sudah menanti helatan akbar yang rencananya akan berlangsung di Pondok Pesantren (Ponpes) Darus Sa’adah, Lampung.
Meskipun jauh di Lampung, muktamar NU ini terasa dekat bagi santri di Bojonegoro. Tentu dekat para ulama dan kader Nahdliyin yang begitu peduli dengan keumatan. Apapun kegiatan NU, setidaknya muaranya adalah keumatan.
Ada secercah asa baru dengan digelarnya muktamar ke 34 ini. Setidaknya muktamar selalu membawa harapan akan kehadiran NU dalam dinamika sosial kultural di masyarakat. Sehingga, hasil muktamar akan bermanfaat untuk masyarakat. Banyak pesan dan petuah dari para ulama yang bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari.
Tidak heran, bila muktamar berlangsung di tengah pandemi Covid-19 ini menjadi atensi. Pemberlakuan protokol kesehatan (prokes) dengan ketat sesuai anjuran tim gugus tugas.
Seperti diungkapkan KH Imam Aziz, ketua panitia Muktamar ke 34 NU di Majalah Aula, menyebutkan bahwa mereka yang ke Lampung, mungkin ada agenda silaturahmi dengan kiai, teman sewaktu di pesantren. Panitia akan menyediakan fasilitas nonton bareng (nobar) hingga membuat pameran. Panitia juga menyiapkan diskusi soal pembahasan materi yang akan dibahas di muktamar. Mulai persoalan bangsa, ibadah dan lain-lain dalam komisi bahtsul masail.
Muhammad Shodiq dalam buku Dinamika Kepemimpinan NU mengungkapkan bahwa latar belakang berdirinya NU adalan kondisi transisi dari keterpurukan umat menuju kepada penyadaran pemahaman keagamaan mengalami puncaknya pada 20-an.
Buku diterbitkan Lajnah Ta’lif Wa Nasyr (LTN) PW NU Jawa Timur itu juga memastikan NU sebagai jam’iyah (organisasi massa) lahir dari wawasan keagamaan bertujuan memajukan paham Islam ahlus sunnah waljama’ah. Dalam sosial kemasyarakatan berlandaskan prinsip keagamaan bercorak tasamuh (toleran) dan bersifat tasawud atau moderat. Sehingga konsep ini memberi ruang gerak yang luas kepada NU untuk merespons berbagai perubahan di lingkungannya.
Alasan inilah muktamar tentu membawa keberkahan untuk umat. Warga Nahdliyin di Bojonegoro tentu akan bersemangat lagi dalam berdedikasi untuk umat, karena NU bukan partai politik. Sudah saatnya, meneruskan estafet muktamar ini ke tempat tinggal kita dengan mendakwahkan agama. Mulai dari terkecil di lingkup keluarga, bermasyarakat, hingga bersosial.
Melahirkan tokoh-tokoh muda NU yang berkompeten. Meneguhkan kaderisasi agar lebih tertata demi keumatan. Kaderisasi ini seakan enteng, namun butuh keseriusan dengan manajerial tertata, mengingat begitu besarnya kader NU yang tersebar.
Setidaknya, kita harus berpikir 10 tahun ke depan, mengingat serbuan teknologi (terutama dampak negatifnya) harus semakin menguatkan kaderisasi. Menguatkan dalam tali keumatan. Setidaknya, menghindari adanya tokoh NU yang begitu teguh, justru anak-anaknya tidak paham tentang NU. Tentu, konsep menata kaderisasi ini diperlukan dalam ideologi dan struktural.
Konsistensi terhadap khitah NU sangat diperlukan? Gagasan politik keumatan dikedepankan agar tidak terseret politik praktis. Mengingat betapa besarnya godaan politik ini sewaktu-waktu. Sebab, betapa besarnya NU melahirkan tokoh-tokoh muda kompeten hingga di kancah politik.
Karena itu, cukup beralasan bila mantan Ketua PB NU KH. Hasyim Muzadi mengungkapkan studi kajian cukup menarik disebabkan beberapa hal. Pertama, mengingat jumlah umatnya lebih dari 40 juta orang. Kedua, masih langkanya perhatian serius para peneliti yang melakukan studi khusus mengenai hal ini.
Ketiga, warga NU pernah menjadi presiden dan kini ada yang menjadi wapres. Keempat, NU intens mencetak pemimpin-pemimpin nasional. Kelima, munculnya generasi muda NU yang mengelaborasi pemikiran keislaman. Alasan inilah mengapa dinamika NU selalu ditunggu, karena ormas ini selalu melahirkan pemimpin-pemimpin hingga di kabupaten/kota.
Bojonegoro dengan memiliki penduduk lebih dari 1,3 juta jiwa merupakan kabupaten yang menjaga toleransi. Religiutas begitu hidup. Organisasi masyarakat (ormas) bergandengan tangan menjaga ketenangan bermasyarakat.
Berdasar data Kantor Kemenag Bojonegoro, jumlah pondok pesantren sebanyak 260 lembaga. Madin ula ada 928 lembaga, madin Wustha 236 lembaga, TPQ/TPA ada 1.980 lembaga. Juga, jumlah masjid yang terus bertambah.
Semoga, dengan muktamar ini semakin menambah religiutas masyarakat. Estafet para kiai, ulama, dan santri terus mengalir untuk menjaga kehidupan sosial masyarakat yang sesuai dengan agama dan bangsa.
* Mustasyar PC NU Bojonegoro