Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Komponen Robot dari Jerman, Juga Dibuat Sendiri dari Bahan Bekas

M. Yusuf Purwanto • Senin, 13 Desember 2021 | 21:02 WIB
Komponen Robot dari Jerman, Juga Dibuat Sendiri dari Bahan Bekas
Komponen Robot dari Jerman, Juga Dibuat Sendiri dari Bahan Bekas

Dua santri pondok pesantren (ponpes) Al Mizan Lamongan sukses menggeluti ketrampilan merangkai robot hingga meraih juara tingkat provinsi. Keduanya yakni, M Hawaari,16, asal Jalan Pramuka Babat dan Tsalits Ardhon Ar Ridho,16, asal Desa Made Kecamatan Lamongan.


SANTRI pondok pesantren tidak hanya menggeluti ilmu Agama Islam saja, tapi juga ilmu pengetahuan lain. Hal itu dibuktikan oleh santri Al Mizan Lamongan, M Hawari dan Tsalits Ardhon Ar Ridho. Keduanya sukses meraih juara lomba robot tingkat provinsi sejak di tingkat SMP hingga saat ini di kelas X SMA. ‘’Kami berdua sudah tiga kali ikut lomba robot tingkat Jatim, yakni di Madura, Malang, dan Lamongan,’’ ucap Hawaari
Dia mengaku mulai tertarik menggeluti robot setelah melihat kakak tingkatnya sedang merakit dan berhasil menggerakkan robot. Bahkan robot buatannya mampu melalui garis yang berwarna hitam yang sudah ditentukan. Setelah itu, tepatnya kelas VIII SMP pada 2019 dia memutuskan mengikuti extra kulikuler robot yang ada di ponpes-nya.
Sejak itu dia mulai familiar dengan berbagai onderdil atau komponen untuk pembuatan robot. Namun untuk mendapatkannya ternyata tidak mudah. Sebagian bisa didapat dari Lamongan sendiri atau Surabaya. Tapi juga ada yang dibeli secara online dari luar negeri. ‘’Misalnya untuk dinamo, saya beli dari Jerman melalui online. Karena beda dengan dinamo yang ada di sini,’’ ungkapnya.
Dia mengaku pernah mencoba menggunakan dinamo dari dalam negeri. Ternyata mudah rusak serta kapasitas kecepatannya kurang kencang. Sehingga, kalau digunakan untuk perlombaan jenis robot line tracer bisa error dan lemot, sehingga tak bisa melanjutkan ke babak berikutnya.
Meski begitu Hawaari juga menggunakan bahan bekas. Misalnya untuk ban roda. Daripada membeli baru yang harganya mahal, dia memilih menggunakan ban dari sandal bekas. Setelah digunting rapi, kemudian dihaluskan dengan amplas sehingga tak sampai bergelombang. Setiap kali pertandingan, harus mengganti ban agar bisa jalan stabil dan tak sampai oleng, sehingga kecepatan bisa maksimal. ‘’Untuk ban, kita buat sendiri dari bahan sandal bekas,’’ ungkapnya.
Secara umum, lanjut dia,  proses pembuatannya tak lepas dari bimbingan gurunya. Apalagi proses merangkai berbagai komponen itu membutuhkan waktu cukup lama. ‘’Dari awal hingga akhir, pembutan robot Line Tracer ini membutuhkan waktu sekita tiga bulan, sebelum diikutkan lomba,’’ bebernya.
Saat lomba, ungkap Hawaari, tim juri tidak hanya melihat robot buatan peserta. Tapi juga me-restart ulang. Sehingga peserta harus mampu melakukan settingan robotnya sejak awal, agar bisa memulihkan sensornya setelah di-restart. ‘’Tindakan itu dilakukan tim juri untuk mendeteksi kalau robot tersebut benar-benar dibuat sendiri oleh peserta. Bukan dibuat oleh  pembimbing atau orang lain,’’ terangnya.
Tsalits melanjutkan, meski sudah menguasai membuat robot sendiri, dirinya masih grogi ketika harus mengikuti lomba. ‘’Kali pertama ikut lomba tidak mendapat juara karena nervous,’’ ujarnya.
Tapi dia mengaku tak patah semangat. Akhirnya, keduanya berhasil meraih juara pertama lomba robotik Tingkat Jawa Timur 2019 kategori base desain. Sedangkan untuk kategori robot Line Tracer belum berhasil meraih juara. Kemudian pada 2021, tepatnya tiga bulan lalu, berhasil meraih juara tiga tingkat Jawa Timur lomba robot di Unisla Lamongan untuk kategori Line Tracer.
Dia mengaku, sebenarnya optimistis bisa meraih juara pertama. Namun saat masuk semi final terkendala ban robotnya tak diganti dengan ban baru, sehingga agak oleng. ‘’Kesalahannya tak mengganti ban, sehingga oleng dan mempengaruhi kecepatan robot,’’ jelasnya.
Kedua remaja kreatif tersebut mengaku tak menyurutkan niatnya terus menggeluti dan mengikuti lomba robot. ‘’Bagi kami, membuat robot sudah menjadi hobi yang mengasyikkan,’’ tukas keduanya.

Editor : M. Yusuf Purwanto
#bupati yes #bok #bupati lamongan #lamongan