Tas berbahan kulit reptil banyak menjadi idaman, Khoirul Huda pun pernah memproduksinya. Kini, gelisah gegara ada teman pehobi reptil. Berbalik arah, ajak menghindari tas berbahan kulit hewan.
TANGAN kirinya memegang penggaris. Tangan kanan memegang pensil. Dengan cekatan, Khoirul Huda menggambar di atas kertas karton dengan pensil dan penggaris tersebut. Khoirul tengah membuat garis-garis pola sebuah tas. Tahap awal merancang pembuatan tas. Ya, Khoirul merupakan perancang tas kulit.
Khoirul sudah cukup lama memproduksi tas kulit. Beragam tas. Namun, yang tertantang ketika membuat tas berbahan kulit buaya dan biawak. Tas kulit dari bahan reptil memang menjadi daya tarik sendiri. Wajar harganya melejit mahal hingga jutaan. Bahkan, dengan merek tertentu harganya bisa ratusan juta.
‘’Saya juga pernah mendapatkan pesanan tas kulit buaya itu,’’ ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Namun, dia segera menghentikan produksi tas kulit reptil itu. Itu karena dia merasa tidak cocok membuat tas dengan bahan kulit binatang. Meskipun kulit reptil itu dia membelinya di pengepul. Sama seperti bahan kulit lainnya.
‘’Reptil adalah hewan langka. Jadi, tidak baik kalau dibuat tas. Itu sama dengan mendorong orang untuk berburu reptil,’’ ujar lelaki tinggal di Kelurahan Ngrowo, Kecamatan Bojonegoro Kota itu.
Awalnya, Khoirul merasa tidak ada masalah dengan pesanan tas berbahan kulit reptil. Namun, seiring waktu, ada rasa tidak nyaman dengan temannya. Kebetulan dia punya teman kenalan pecinta reptil. Dari situlah, ia menghentikan pembuatan tas kulit reptil.
‘’Saat ini saya fokus tas kulit sapi saja. Saya juga ajak teman-teman untuk tidak memproduksi tas kulit reptil,’’ ungkapnya.
Khoirul sudah cukup lama bergelut memproduksi tas. Mulai dari nol. Awalnya, ikut pamannya kebetulan punya industri rumahan pembuatan tas. Berlanjut, dia pindah ke pabrik tas yang lebih besar di Surabaya. Di situlah dia banyak menimba ilmu. Terutama utak-atik mendesain model tas.
Beberapa tahun bekerja di pabrik tas, Khoirul memutuskan keluar. Lalu, membuka usaha merancang tas sendiri dan memasarkannya. Kian lama kian banyak peminatnya. Khoirul mulai merambah pasar luar daerah.
Saat ini tengah merancang tas lokal Bojonegoro. Saat ini dia belum menemukan tas untuk menjadi ikon Bojonegoro. Menurut dia, ciri khas Bojonegoro jangan hanya kata-kata. Sebab, kata-kata itu akan mudah berganti. Namun, harus logo atau ikon wisata. Sehingga, itu bisa awet dan dikenang banyak orang. ‘’Ini masih saya pikirkan. Semoga berhasil,’’ jelas pria kelahiran Lamongan itu.
Khoirul sudah pernah membuat tas untuk pasang pasar Lamongan. Dia menamai tasnya Megilan. Sebuah jargon khas Lamongan.