BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Produksi cabai merah besar tahun ini berjumlah 20.189 kuintal. Jumlah tersebut lebih banyak jika dibanding dengan cabai rawit sekitar 17.405 kuintal. Petani mulai beralih cabai merah besar dibanding cabai rawit. Hasil panenan lebih banyak dan harganya membaik.
Arif Saifudin petani asal Desa Nguken, Kecamatan Padangan, mengakui lebih memilih cabai merah besar. Selain hasil panen lebih banyak, juga harga jual membaik. Rerata dibeli oleh pedagang asal Kecamatan Kanor dan Baureno. Masa tanam cabai merah sekitar 80 hari. ‘’Saat ini masih panenan, harganya membaik,’’ katanya kemarin.
Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Imam Nur Hamid Arifin menjelaskan, produksi cabai merah besar tertinggi pada Agustus dengan angka mencapai 3.207 kuintal. Turun pada September menjadi 2.700 kuintal. ‘’Oktober juga turun lagi menjadi 2.412 kuintal, sedangkan November belum terdata," ujarnya.
Imam memaparkan secara keseluruhan per akhir Oktober lalu jumlah cabai merah besar tembus 20.189 kuintal. Dengan produksi paling besar tersebar di empat kecamatan. Yaitu Kecamatan Kasiman 2.798 kuintal, Sukosewu 3290 kuintal, Sugihwaras 6.210 kuintal, dan Temayang 3.820 kuintal.
Jika dibanding data dimiliki DKPP, produksi cabai rawit lebih sedikit yakni 17.406 kuintal per Oktober. Imam menjelaskan jumlah tersebut didominasi empat kecamatan. Yakni Tambakrejo 1.800 kuintal, Ngambon 1.280 kuintal, Temayang 9.500 kuintal, dan Kedungadem 1.740 kuintal. "Produksi paling sedikit berada di Maret lalu," jelasnya.
Imam menjelaskan, Agustus menjadi bulan paling tinggi jumlah produksi yakni mencapai 4.247 kuintal. Berlanjut September terjadi penurunan, namun tidak signifikan yakni berkurang 10 kuintal. Pendataan cabai rawit terakhir pada Oktober lalu. "November masih proses pendataan," jelasnya. (luk)