Bendungan Gerak Penopang Irigasi Pertanian saat Kemarau

Indra Gunawan • Dipublikasikan Senin, 9 Agustus 2021 | 19:00 WIB
Bendungan Gerak Penopang Irigasi Pertanian saat Kemarau
Bendungan Gerak Penopang Irigasi Pertanian saat Kemarau

Radar Bojonegoro - Bengawan Solo menjadi salah satu penopang irigasi pertanian saat musim kemarau. Itu membuat sebagian lahan pertanian di Bojonegoro masih tetap basah meskipun di puncak musim kemarau. Para petani masih tetap bisa menanam padi. Kepala UPT Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi di Bojonegoro Anton Darma mengatakan, di Bojonegoro ada beberapa aliran sungai untuk irigasi.


Yakni, dari Bengawan Solo dan Sungai Pacal. Semuanya dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. ‘’Aliran-aliran sungai itu sangat membantu irigasi pertanian saat kemarau seperti ini,’’ ujarnya.


Menurut dia, area lahan di bantara Bengawan Solo saat ini masih terus menanam padi. Karena lahannya masih basah dan penuh air. Sehingga, sangat pas untuk ditanami padi. Itu berbeda dengan lahan pertanian yang jauh dari Bengawan Solo. Rerata mereka menanam tanaman lain. Seperti kacang atau tembakau.


Kondisi berbeda terjadi saat musim hujan. Sebagian area lahan di dekat Bengawan Solo saat musim hujan tidak ditanami padi. Karena menjadi langganan banjir akibat luapang sungai terpanjang di Pulau Jawa itu. ‘’Namun, saat musim kemarau ini justru bagus untuk bercocok tanam padi,’’ imbuhnya.


Anton menjelaskan, selain Bengawan Solo, irigasi di Bojonegoro juga ditopang dari Waduk Pacal. Aliran dari waduk itu mengalir ke sungai pacal. Sungai itu mengaliri lahan pertania seluas 16 ribu hektar. Namun, pada musim kemarau ini alirannya berkurang. Sebab, debit air waduk juga berkurang.


‘’Berkurangnya sekitar 4 ribu hektar,’’ jelasnya. Dia menambahkan, Waduk Pacal memiliki volume 22,3 juta meter kubik. Namun, saat ini volume yang tersisa hanya 10 juta meter kubik. Volume itu akan terus menyusut sepanjang musim kemarau.

Editor : Indra Gunawan
bengawan solo berita daerah bojonegoro