Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Kisah Cinta Inspiratif, dari Vespa Menuju Surga

Indra Gunawan • Sabtu, 6 Februari 2021 | 20:00 WIB
Kisah Cinta Inspiratif, dari Vespa Menuju Surga
Kisah Cinta Inspiratif, dari Vespa Menuju Surga

Radar Bojonegoro - Sehidup semati. Dan ditutup dengan Jumat Romantis. Itulah kisah romantis kiai dan nyai Haji Fatchan Sibyan dan Hajah Umi Munawaroh. Pasangan suami istri (pasutri) tinggal di Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro Kota, ini memberi kisah cinta inspiratif meniti jalan kehidupan di dunia dan akhirat. 


Pasutri tersebut dipanggil Sang Khalik di hari yang sama yakni Jumat Pahing kemarin (5/2). Hanya selisih 2,5 jam. Umi Munawaroh meninggal pukul 01.30. Selanjutnya Fatchan Sibyan menyusul istri tercintanya menghembuskan napas terakhirnya pukul 04.15.


Seketika kabar meninggalnya pasutri tersebut pun menyebar dari mulut ke mulut dan pesan berantai WhatsApp. Selain kisah begitu teguhnya kekuatan cinta sejoli ini, pasutri tersebut merupakan tokoh masyarakat di Desa Sukorejo. Sehingga, tak heran ada ratusan pelayat yang hadir dan menyalatkan kedua jenazah di rumah duka Jalan Letda Mustajab RT 04 RW 02 Desa Sukorejo kemarin.


Kabar duka pasutri romantis ini pun menyebar. Salat jenazah pun membeludak. Jamaah hingga di jalan raya kanan kiri rumah sosok kiai pernah menjabat Bendahara Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Bojonegoro periode 1993-1998.


Kalimat tahlil menggema, bersahutan-sahutan mengiringi prosesi pemakaman pasutri Fatchan dan Umi ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Sukorejo. Karena saking ternama sebagai pasangan islami yang romantis, atas kesepakatan keluarga besar, pasutri tersebut dimakamkan ke dalam satu liang lahad, sekitar pukul 10.00.


Satu liang lahad ini sebagai bukti bahwa pasutri tersebut memang sejoli sehidup semati. Jawa Pos Radar Bojonegoro berkunjung ke rumah duka pasutri tersebut. Kondisinya ramai sanak saudara kedua mendiang. Di suasana masih berkabung itu, pihak keluarga menyambut hangat kedatangan petakziah.


Muntakib, kakak kandung tertua Umi Munawaroh bersedia berbagi cerita seputar kisah semasa hidup pasutri tersebut. Muntakib mengungkapkan, bahwa jauh sebelumnya Haji Fatchan, sapaan akrab Fatchan Sibyan, memang memiliki keinginan untuk sehidup semati bersama istrinya.


Sebelum Umi Munawaroh meninggal, hari Kamis (4/2) itu masih bisa memasak. Tiba-tiba kondisinya drop, karena memiliki riwayat sakit diabetes. Akhirnya, istri Haji Fatchan meninggal dunia pukul 01.30.


Haji Fatchan merasa sangat sedih atas kepergian istri tercintanya tersebut. Hampir 44 tahun sejak menikah sekitar 1977, sejoli bersahaja ini selalu berdampingan. Berdua, karena tak memiliki anak. Tentu, begitu mengetahui sang kekasihnya meninggal, Haji Fatchan tak bisa jauh dari jasad istrinya.


Kesetiaan Haji Fatchan begitu melekat. Lelaki sebagai kiai ini memilih duduk di kursi menemani jasad istrinya. Tak henti-henti merapal doa untuk istrinya. Ternyata, sekitar 2,5 jam kemudian, Haji Fatchan berhenti berdoa dan terlihat seperti sedang tidur.


“Keluarga mengira Haji Fatchan kelelahan lalu tertidur saat masih duduk di kursi. Ternyata ketika dicek denyut nadinya, Haji Fatchan pun telah meninggal,” tutur pria akrab disapa Haji Muntakib itu. Menurut sepengetahuan Muntakib, Haji Fatchan memiliki riwayat sakit radang lambung. Haji Fatchan meninggal di usia 68 tahun dan Hajah Umi meninggal usia 60 tahun.


Kisah semasa hidup Haji Fatchan bersama istri kemanapun pasti berdua. Baik beribadah, mengikuti pengajian, hingga bekerja di toko menjual peralatan menjahit.


Salah satu orang juga merasa kehilangan sosok Haji Fatchan beserta istri yakni Ketua RT 04, Mashuri. Baginya, Haji Fatchan tokoh masyarakat patut dihormati dan dihargai. Karena tak sedikitpun ada sifat arogan dari sosok Haji Fatchan. Justru Haji Fatchan selalu menjadi penengah, pemberi saran, dan nasihat kepada banyak orang, khususnya di wilayah Desa Sukorejo.


“Setiap ada masalah di lingkup RT, saya pasti minta pertimbangan saran maupun nasihat ke Haji Fatchan. Beliau pasti bisa menjadi penengah dan selalu objektif,” ucap Huri.


Huri mengungkapkan, bahwa Haji Fatchan merupakan pecinta motor Vespa. Sehingga ketika pergi berdua bersama istri tentu mengendarai Vespa. Kata dia, Haji Fatchan tidak bersama istri ketika sedang menghadiri tahlillan. Setiap ada giat pengajian atau tahlilan, tentu Haji Fatchan dipercaya untuk memimpinnya.


“Beliau juga dengan siapapun bergaul, tidak memandang status sosial. Bagi saya, Haji Fatchan memiliki pengaruh besar di lingkup RT 04 khususnya,” tambahnya. Tentu, Jumat Romantis ini patut diberikan kepada pasutri kiai dan nyai yang telah menebar kisah cinta inspiratif.


Kisah Cinta dari Vespa Menuju Surga


Berdua berboncengan naik motor Vespa. Juga, kerap kali makan sepiring berdua. Itulah ciri khas pasutri Haji Fatchan dan Hajah Umi di mata tetangganya. Ke musala pun berdua.


Kebetulan Haji Fatchan sebagai imamnya. ‘’Pasutri romantis ini sudah akrab bagi masyarakat. Terutama kisah cinta romantisnya,’’ tutur Abid Aziz salah satu tetangga beda RT kemarin. Menurut dia, beliau menyukai kendaraan sederhana. Memiliki dua motor jenis Vespa. Satu Vespa lama satunya Vespa matic.


‘’Ke toko juga pakai motor itu,’’ jelasnya. Menurut dia, pasutri yang aktif kegiatan keagamaan ini patut menjadi teladan masyarakat setempat. Kesederhanaan hingga peduli dengan sesame serta pendidikan menjadi khas sosok menginspirasi ini.


Ketua RT 04 Mashuri menambahkan, bahwa Haji Fatchan merupakan pecinta motor Vespa. Sehingga ketika pergi berdua bersama istri tentu mengendarai Vespa. Kata dia, Haji Fatchan tidak bersama istri ketika sedang menghadiri tahlillan.


Setiap ada giat pengajian atau tahlilan, tentu Haji Fatchan dipercaya untuk memimpinnya. Yasin, tetangga almarhum pun menuturkan bahwa sosok Haji Fatchan dikenal ramah, dermawan, dan ulet. Selalu mengisi di setiap ada acara kenduri warga. Haji Fatchan saat berdakwah juga penuh kesan tunan dan keramahan.


Tanda Cinta, Bangun Dua Masjid


Dua belas hari lalu, persisnya 24 Januari 2021, Haji Fatchan Sibyan dan Hajah Umi baru saja menyerahkan Masjid Al-Ichsan dan Pondok Pesantren (Ponpes) Sunan Drajat di Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro. Menyerahkan kepada PC NU dan muslimin muslimat.


‘’Saya terharu saat itu (peresmian Masjid Al Ichsan dan Ponpes 24 Januari lalu). Sampai saya katakan, iki suwargone wes awe awe,” kata Ketua MWC NU Bojonegoro Kholidin kemarin (5/2).


Menurut sepengetahuannya, keseharian mereka selalu dinaungi kesederhanaan. Juga bisa dibilang rajin dan tekun dalam melakukan suatu hal. Misalnya saat proses pembangunan masjid, keduanya turut hadir mengawasi setiap harinya. ‘’Saya rasa keduanya sosoknya selalu melakukan sendiri apa yang mampu dilakukan,” ujar dia.


Hal sama dirasakan Bu Nyai Lu’luatul Fuad Ali Syafi’i pengasuh Ponpes Abu Dzarrin (PPAD) AlRidlwan. Dia terakhir bertemu sekitar 20 hari yang lalu di Toko Al-Ichsan. ‘’Kenangan yang selalu ku ingat, yakni Bu Hajah Umi mengatakan akan membangun masjid di selatan,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.


Mengenang Haji Fatchan memang ingin membangun dua masjid sebagai bekal di akhirat kelak. Tanah di depan Masjid Al-Ichsan ditawarkan untuk didirikan pondok pesantren Al Ridlwan pada 2017. “Menurut penuturan istri Haji Fatchan, memang niat membangun dua masjid untuk bekal di akhirat kelak,” jelasnya.


Masjid Al-Ichsan di Dusun Sumberwuluh, Desa Ngunut, Kecamatan Dander telah diresmikan 2017 lalu. Bahkan, diresmikan oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa saat masih menjabat sebagai Menteri Sosial pada 2017 lalu. Salah satu pengurus PC NU Bojonegoro Ustad Zainuddin Asyari sedikit menggali ingatannya bersama H. Fathan Sabyan dan Hajah Umi Munawaroh.


Ada beberapa kenangan masih terekam. Termasuk sosok pasutri itu di matanya. ‘’Teman lama. Saya juga sering ke rumah beliau waktu itu. Mereka berdua sangat ramah,” katanya kemarin. Menurut dia, kali pertama mengenal almarhum ketika di kepengurusan PC NU Bojonegoro. Yakni mulai 1993. Bisa dibilang menjadi bawahan almarhum. Karena pada periode kepengurusan itu Zainuddin berada di bagian tata usaha (TU).


‘’Saya tidak dipandang sebagai bawahan. Lebih ke teman sharing. Beliau kemana-mana mengendarai vespa,” ujar dia. Terkait hubungan suami istri keduanya, Zainudin tidak begitu paham betul. Namun, setiap kali bertemu, mereka merupakan pasangan harmonis dan saling mendukung satu sama lain. Sayangnya meski belum dikaruniai keturunan.


‘’Sepengetahuan saya, kemanamana berdua. Waktu ke toko berdua. Dulu ketika masih di kepengurusan, beliau ke kantor (PC NU) dan istri di toko,” jelasnya. Zainudin menuturkan Haji Fathan dan Hajah Umi merupakan pasutri nan sederhana. Tidak pernah macam-macam. Dan uniknya kemanapun selalu mengendarai vespa. Meski secara finansial bisa dibilang mampu. ‘’Dan setahu saya bentuk rumahnya dari dulu sampai sekarang ya seperti itu. Tidak ada yang berubah,” tandas dia. ‘’Beliau banyak bersedekah jariyah,” lanjut dia.

Editor : Indra Gunawan
#bojonegoro