Radar Bojonegoro - Asap penggorengan tahu di pabrik milik Zainuddin tetap mengepul. Belasan pekerja tetap bergerak memproses produksi tahu. Namun, Zainudin merasa gelisah. Produsen tahu tinggal di Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Kota, ini merasa merugi imbas harga kedelai impor dan minyak goreng naik berlipat.
‘’Tahan-tahanan berjualan tahu. Kalau kami tak produksi, terus karyawan ini dapat penghasilan dari mana,’’ keluhnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (22/12). Zainudin mengatakan, setiap hari hasil dagangan tahunya harus merugi.
Tak sesuai dengan modal yang dikeluarkan untuk memproduksi. Sempat ingin berhenti produksi sementara waktu, namun langkah itu juga terasa sulit. ‘’Selain upah karyawan, nanti kalau nggak jualan, pelanggan bisa kabur,’’ ujar pria berjualan tahu di Pasar Babat, Lamongan itu.
Zainudin hanya berharap pemerintah untuk hadir mengatasi persoalan yang dialami produsen tahu. Dan perlu ada tindakan taktis agar denyut perekonomian dari produsen tahu ini tetap berjalan karena menyerap tenaga kerja banyak. Kisah Zainudin ini dialami semua produsen tahu di Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Kota.
Para produsen tercekik oleh melambungnya harga bahan baku. Harga kedelai impor dan minyak goreng. Kenaikan harga secara bertahap sejak dua bulan lalu. Mereka khawatir nasibnya ke depan bisa berakhir dengan gulung tikar. Ketua Paguyuban Tahu Ledok Pranyoto menjelaskan, harga kedelai impor tidak pernah lebih dari Rp 7.900 per kilogram.
Saat harga stabil, kedelai impor dijual sekitar Rp 6.500 per kilogram. Namun, harga terkini kedelai impor menembus Rp 8.800 per kilogram. Sehingga, para produsen tahu di Ledok Kulon kesulitan untuk memperoleh laba.
“Anehnya lagi, hari ini (kemarin) harga kedelai impor naik dua kali. Pagi tadi harga masih Rp 8.600 per kilogram, lalu siang sudah naik menjadi Rp 8.800 per kilogram,” keluhnya. Apalagi sejak puluhan tahun lalu, para produsen tahu di Ledok Kulon selalu bergantung pada kedelai impor asal Argentina. Karena memang produksi kedelai di Bojonegoro sangat terbatas.
Pranyoto mengatakan produksi kedelai Bojonegoro hanya setahun sekali. “Pakai kedelai impor itu sudah berpuluh-puluh tahun silam. Produksi kedelai Bojonegoro hanya setahun sekali dan stoknya hanya cukup selama satu bulan saja,” bebernya.
Ditambah lagi, harga minyak goreng ikut melambung. Harga normal sekitar Rp 9.000 hingga Rp 11.000 per kilogran, kini naik menjadi Rp 13.000 per kilogram. Apabila kondisi harga kedua bahan baku tak kunjung turun, tentu nasib para produsen tahu ledok terancam.
Adapun upaya menyiasati dengan cara memperkecil ukuran tahu. “Sedangkan menaikkan harga tahu juga tidak bisa banyak, takut para pembeli kami lari. Sebelumnya, saya jual Rp 1.500 per 10 biji, sekarang saya jualnya Rp 5.000 per 30 biji,” ujar pria berjualan tahu di salah satu pasar di Blora itu.
Hal sama diungkapkan sesama produsen tahu, Mukafin, bahwa kondisi harga bahan baku melambung seperti ini sangat rentan gulung tikar. Dia berharap ada perhatian dari pemerintah untuk mencarikan solusi terbaik agar nasib para produsen tahu bisa tertolong. “Semoga segera turun harga bahan baku, agar kami tidak waswas,” katanya.
Editor : Indra Gunawan