Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Kisah Dodot, Penjaga Makam Ridder, Pemakaman para Bangsawan

Indra Gunawan • Senin, 23 November 2020 | 23:00 WIB
Kisah Dodot, Penjaga Makam Ridder, Pemakaman para Bangsawan
Kisah Dodot, Penjaga Makam Ridder, Pemakaman para Bangsawan

Bupati Bojonegoro ke-16, Kanjeng Raden Adipati (KRA) Tirtonoto dikenal ahli dan cakap tentang literasi. Gemar tulis menulis. Dodot salah seorang yang masih menyimpan salinan hasil tulisan kakek dari Tokoh Pers Nasional yakni Tirto Adhie Soerjo.


MUHDANY Y. LAKSONO, Radar Bojonegoro


Semilir angin terasa ketika memasuki kompleks pemakaman Ridder. Banyak pohon, tapi tak rimbun. Pohonnya pun juga tak terlalu tinggi. Bersih dan terawat. Menandakan kompleks pemakaman di Jalan Teuku Umar, Bojonegoro turut Kelurahan Kadipaten, ini terawat.


Masyarakat biasa menyebutnya makam Lideran. Seakan sepi, tapi memasuki kompleks makam tak terdapat pohon besar ini terdapat sosok menjaganya. Dodot, penjaga dan merawat kompleks makam yang sarat dengan sejarah Bojonegoro di masa lampau itu.


Dodot cukup santun dan ramah ketika berbincang dengan Jawa Pos Radar Bojonegoro, Jumat (20/11). Perbincangan gayeng kaitannya pemakaman Ridder ini. Makam ini khusus para bangsawan atau darah biru. Terutama yang memiliki pertalian darah dengan KRA Tirtonoto.


Setelah lama berbincang, Dodot mempersilakan wartawan koran ini ke rumahnya. Berada di gang, timur kompleks pemakaman Lideran. Dodot cukup senang dan ingin memperlihatkan beberapa hasil tulisan KRA Tirtonoto yang ia simpan. Setiba di rumahnya, Dodot mempersilakan duduk dan bergegas masuk.


Rumahnya sederhana. Dodot masuk rumah. Dan keluar dari pintu utama rumah sembari membopong beberapa gulungan kertas. Dan meletakkan di lantai teras rumahnya. Kertasnya besar dan lebar. Terlihat kusam, namun terawat. “Ini tulisan Eyang Ridder (KRA Tirtonoto). Tentang silsilah rajaraja di Jawa. Dari zaman Tumapel, Majapahit, Demak, sampai Mataram Islam,” katanya sembari menggelar gulungan kertasnya.


Kertas tersebut berwarna cokelat keputih-putihan. Mirip seperti warna amplop yang dibawa ketika hendak melamar kerja. Namun, tekstur kertasnya lebih kaku. Ukuran kertas lebih besar. Tampak juga di beberapa bagian kertas sudah terkikis. Mungkin karena usia kertas tak lagi muda.


“Ini kertas kalkir. Salinan hasil tulisan beliau,” ujar pria berusia 53 tahun itu. Adapun tulisan di dalam kertasnya cukup banyak. Dan benar isinya tentang silsilah para raja. Tulisan-tulisannya tidak monoton dari atas menurun. Namun, juga berpola. Salah satunya berpola seperti matahari. Tampak jelas ketika diamati dari kejauhan.


“Tulisannya gedrik (latin). Bacanya buat mata capek. Banyak sekali silsilah kerandanya (kerabat atau keturunan),” lanjut pria kelahiran 1967 itu. Menurut Dodot, setelah membaca tulisan KRA Tirtonoto tersebut, adanya pernyataan kalau Ken Dedes merupakan ibu dari para raja Jawa bisa dimungkinkan benar. Karena dalam tulisan tersebut terlihat runtutan silsilahnya.


“Dan dimungkinkan semua raja Jawa itu sebenarnya masih satu keranda (memiliki pertalian darah),” lanjut pria juga gemar memelihara ayam dan burung itu.


Asal muasal Dodot bisa memiliki tulisan tersebut karena ia merupakan keturunan orang terdekat dari KRA Tirtonoto. Adapun buyutnya merupakan pengikut setianya. Juga menjabat sebagai Asisten Wedana di Kecamatan Bojonegoro kala itu.


“Buyut saya tinggal di Gang Jiken. Dan memang di situ tinggal para penderek Eyang Ridder,” jelasnya. Hasil salinan tulisan tersebut diperoleh dari pamannya. Kebetulan saat ini berdomisili di Jakarta. Dan sebagian hasil tulisan dari KRA Tirtonoto juga masih dibawanya. Sehingga, Dodot hanya menyimpan sebagian kecilnya saja.


“Saya diberi tulisan ini oleh Om (paman, Red). Ini cuma sedikit. Yang lain dan sebagian dibawa paman,” tandas dia. Melihat dan mengamati kertaskertas tulisan KRA Tirtonoto ini cukup menyenangkan. Terasa betah menikmati tulisan-tulisan.


Setidaknya, tulisan ini merupakan arsip sejarah yang penting. Terutama bagi masa Bojonegoro di masa lampau. Tentu, tidak sembarang orang maupun pihak memilikinya. Sehingga ia cukup bangga masih bisa menyimpan dan menceritakannya kepada orang lain. Terutama pengabdian KRA Tirtonoto dalam memimpin Bojonegoro. Tulisan-tulisan arsip penting akan selalu dijaganya. Seperti menjaga makam Ridder dengan penuh ketulusan. 

Editor : Indra Gunawan
#bojonegoro