Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Melihat Pentas Sandur Rumah, tanpa Penonton dan Kalongking

Indra Gunawan • Jumat, 20 November 2020 | 01:30 WIB
Melihat Pentas Sandur Rumah, tanpa Penonton dan Kalongking
Melihat Pentas Sandur Rumah, tanpa Penonton dan Kalongking

Pandemi Covid-19 membuat para seniman sandur tiarap. Namun, dengan sedikit cari akal, para seniman sandur itu mengonsep pentas sandur rumah bisa ditonton secara daring. 


BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro


Keluh dan menggerutu para seniman selama pandemi Covid-19 sudah hampir delapan bulan ini. Tak bisa gelar pentas tentu pukulan bagi para seniman. Misalnya, para pelaku kesenian sandur di Bojonegoro. Namun, mereka tidak kehabisan akal. Ternyata, pentas sandur bisa digelar via live YouTube.


Awal mencoba pementasan virtual ini tentu maju mundur. Jawa Pos Radar Bojonegoro bertemu dengan pemuda pelaku seni pentas sandur. Oki Dwi Cahyo. Oki lega bisa menggelar pentas sandur, meski secara daring. Konsep diusung yakni sandur rumah, karena pentasnya diadakan benar-benar di dalam rumah. Bukan di lapangan seperti pentas pada umumnya. 


Pemuda kelahiran 1988 itu mengungkapkan, pentas sandur rumah itu mampu terselenggara atas dukungan Sanggar Sayap Jendela dan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud. Ide sandur rumah sendiri muncul secara spontan ketika Oki bersama grup sandurnya mengajukan proposal. Ternyata, ide itu diterima dan Oki secara spontan membuat naskah baru pentas tersebut.


“Kami ajukan proposal Juli lalu, akhir September ada pengumuman diterima. Selanjutnya kami presentasi pentas sandur rumah di Jakarta. Akhirnya terselenggara  15 November,” jelas Oki.  Peran Oki sebagai sutradara sandur. Dia sudah memiliki jam terbang. Hanya butuh waktu dua hari menyelesaikan satu naskah baru.


Oki dibantu penata tari Prita Dyah Winarti dan penata musik Djagat Pramudjito Judul naskah sandur rumah yaitu Selendang Kuning pada Minggu malam (15/11). Naskah mengisahkan tentang kekuatan dan kedalaman rasa seorang wanita. Kisah terinspirasi dari legenda Jaka Tarub dan Nawangwulan Tetapi, sebelum naskah itu jadi, Oki mempelajari dulu tata ruang serta tata letak perabotan rumah akan digunakan pentas sandur rumah. 


Misalnya, menurut Oki, kasur rumah bisa dijadikan seperti panggung. Lalu bak kamar mandi diibaratkan sendang. Oki tak pernah kehabisan akal. Menyiasati tidak ada penonton ketika pentas sandur rumah, Oki mengoptimalkan para pemeran pentas. 


Khususnya pemusik bukan hanya mengatur ritme serta irama, tetapi melempar celetukan kepada anak wayang layaknya penonton. Bahkan, bukan hanya tidak adanya penonton ketika pentas sandur rumah, tetapi juga tidak ada aksi kalongking. 


“Padahal kalongking itu selalu menjadi klimaks di akhir pentas sandur. Tetapi, apa boleh buat kondisinya masih pandemi Covid-19,” imbuhnya. Setelah pentas sandur rumah via YouTube, ternyata respons penonton cukup banyak. Sebanyak 1200-an pasang mata menonton pentas sandur rumah tersebut. Oki cukup kaget dengan jumlah penonton mencapai ribuan itu. 


Menurut para anak wayang, pemusik, dan penari saat memainkan sandur rumah lebih leluasa. Benarbenar tidak ada penonton. Sehingga, seluruh unsur pemain sandur lebih fokus memainkan naskah cerita. Selain itu, segi persiapan pentas sandur rumah juga tidak seribet sandur di lapangan. Karena di lapangan perlu lebih banyak properti. Seperti bambu-bambu dan obor.


“Kata mereka (penari, pemusik, dan anak wayang) eksekusinya lebih mudah, pada dasarnya para pemain sudah matang jadi tinggal menysuaikan,” jelas pemuda asal Kelurahan Jetak, Kecamatan Kota itu. Ke depannya, Oki tidak menutup kemungkinan akan menggelar pentas sandur secara daring lagi.


Kemajuan dunia digital ini harus dioptimalkan sebaik mungkin. Juga agar lebih mampu menjangkau anak-anak muda mencintai kesenian tradisional sandur. “Pandemi Covid-19 tidak akan melunturkan semangat kami melestarikan kesenian sandur,” tutur Oki.

Editor : Indra Gunawan
#sandur #bojonegoro