Radar Bojonegoro - Empat bulan lebih beroperasi Terminal Rajekwesi masih sepi. Jumlah penumpang bus berbagai jurusan masih belum mengalami kenaikan. Penyebabnya, masyarakat masih takut naik kendaraan umum. Mereka beralih ke kendaraan pribadi saat bepergian jauh.
Pantauan Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (27/9) kondisi terminal lengang. Akhir pekan pun tak ada keramaian penumpang baik tiba maupun berangkat. Kursi penumpang juga melompong. Jumlah armada bus berbagai jurusan juga tak banyak.
‘’Saat ini benar-benar berat,’’ ujar Ketua Paguyuban Sopir Bus Terminal Rajekwesi Bojonegoro Suparno kemarin. Suparno mengatakan, kondisi penumpang yang sepi benarbenar menyulitkan sopir bus. Tentu, sopir tidak bisa memperoleh penghasilan penuh. Saat sepi seperti ini, mereka juga masih menanggung biaya bahan bakar minyak (BBM) dan setoran.
Kepala Terminal Rajekwesi Bojonegoro Sentot Sugeng Waluyo mengatakan, penumpang bus memang masih sepi. Baik hari biasa maupun hari libur. Hal itu karena perilaku masyarakat berubah akibat pandemi. Masyarakat jadi enggan naik kendaraan umum. Lebih memilih naik kendaraan pribadi atau sewa.
‘’Sehari rerata jumlah penumpang sekitar seribu orang. Bahkan, kadang tidak sampai seribu,’’ tuturnya. Menurut Sentot, jumlah penumpang bus bisa mencapai 3.000 orang lebih. Baik kedatangan maupun keberangkatan. Kondisi itu berbalik 180 derajat saat pandemi ini. Suasana terminal pun jadi tidak ramai. Bahkan, saat hari libur juga sepi.
‘’Sejak dibuka kali pertama beberapa bulan lalu ya seperti ini,’’ jelas pria asli Jombang itu. Jumlah bus beroperasi saat ini ada 67 unit. Itu untuk semua bus antarkota dalam provinsi (AKDP). Jumlah itu jauh berku rang dibanding biasanya bisa mencapai tiga kali jumlah itu. Sebab, semua perusahaan otobus (PO) hanya mengeluarkan dua atau tiga armada.
‘’Mereka tidak mau mengeluarkan semua armadanya. Kondisi masih sepi penumpang,’’ jelasnya. Selain itu, jumlah penumpang bus juga dibatasi. Di dalam bus diberi jarak setiap kursinya. Sehingga, tidak semua kursi terisi. Hal itu membuat bus tidak bisa terisi penuh.
‘’Kami terapkan itu untuk menghindari penularan,’’ jelasnya. Namun, di luar terminal, pihaknya tidak bisa memastikan penerapan itu. Sebab, masih minim pengawasan.
Editor : Indra Gunawan