SMAN 1 Tuban sukses menjadi juara bertahan Pawai Budaya Nusantara selama lima kali dalam enam tahun terakhir. Selain kekompakan guru dan siswanya, ada sosok Wilujeng Rina Astuti, 53, yang berperan sebagai koordinator sekaligus pencetus setiap tema yang diusung.
Teriakan heboh terdengar begitu urutan nomor tiga Pawai Budaya Nusantara dipanggil pembawa acara. Mereka terpukau dengan penampilan yang tak biasa dari SMAN 1 Tuban. Dengan tema Papua Karya Swadaya Cintaku Negeri, Smansa tak hanya menampilkan berbagai kesenian dan kebudayaan khas Kota Cendrawasih. Namun, juga menampilkan warga Papua asli. Mereka adalah pelajar di SMAN 1 Tuban.
Saat barisan pertama berangkat, tiba-tiba para pelajar Papua tersebut dipanggil forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda) untuk naik ke podium. Di atas panggung, bupati dan jajaran forkopimda bertanya beberapa hal kepada para pelajar asal pulau ujung timur Indonesia tersebut. Juga mengajak mereka berfoto bareng sekaligus ikrar damai Tuban Ramah terhadap Semua Suku, Agama, dan Ras.
Pada penampilan tersebut, sekolah rujukan nasional ini menampilkan beberapa kesenian asal Papua yang kurang populer di masyarakat. Antara lain tari Yospan, tradisi Ararem Suku Biak, tradisi Barapen Suku Dani, tradisi masyarakat muslim di Papua, dan lainnya. Seluruhnya dikemas apik dalam setiap barisan.
Adalah Wilujeng Rina Astuti yang memprakarsai serta memiliki ide pertama terkait tema yang diusung dalam karnaval tersebut.
Pendidik senior yang akrab disapa Rina ini menjelaskan, keinginan mengangkat tema tersebut sudah berada di benaknya sejak 2018. Namun, karena terkendala properti dan masih minimnya referensi, tema tersebut terpaksa ditunda. Dan baru direalisasi tahun ini. ‘’Angkat tema Papua karena unik dan idenya sudah lama. Jadi tidak ada hubungannya sama sekali dengan isu rasis yang saat ini ramai,’’ terang dia.
Itu berarti Rina menyiapkan ide Papua satu tahun sebelum pelaksanaan pawai pada Selasa (27/8). Selama itu pula, dia memperbanyak bacaan serba-serbi Papua yang jarang diketahui orang. Sebagian lagi riset dari siswinya asal Papua. Agar penampilannya totalitas, ibu satu anak ini menyewa kostum di Surabaya. Demikian pula untuk melengkapi berbagai properti kendaraan yang unik lainnya.
Sejak 2014, pendidik bahasa Inggris ini selalu diberi amanah sebagai koordinator pawai budaya di Smansa. Enam tahun menjadi koordinator, Rina hanya sekali gagal membawa pulang piala juara untuk sekolah unggulan tersebut. Selebihnya, waka bidang manajemen mutu ini sukses memikat hati juri dan penonton dengan berbagai tema yang diangkat. ‘’Sebelum karnaval, saya dan tim selalu riset dan memperbanyak referensi tentang tema yang diangkat,’’ tuturnya.
Satu-satunya yang membuat gagal membawa pulang juara saat 2016 adalah diskualifikasi dari panitia karena peserta karnaval Smansa melebihi kuota. Saat itu, panitia mengabarkan kalau tiap rombongan peserta karnaval tidak boleh lebih dari seratus siswa. Namun, kabar itu baru diumumkan ketika mendekati pelaksanaan. Sementara Rina sudah telanjur membuat koreografi yang melibatkan seratus siswa lebih. ‘’Daripada mengecewakan siswa, lebih baik didiskualifikasi,’’ tegas dia.
Di Smansa, Rina juga dikenal memiliki segudang prestasi. Antara lain, fasilitator workshop Adiwiyata dinas lingkungan hidup (DLH), juara forum ilmiah Jawa Timur, juara dua guru berprestasi 2011 dan 2012, serta masih banyak lainnya. ‘’Selalu bekerja dengan hati dan berusaha untuk selalu melakukan pekerjaan dengan sempurna. Untuk hasil, saya serahkan kepada Allah,’’ ujar ibu Rendra Arif Fathir ini.
Editor : M. Yusuf Purwanto