Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Gerilya di Hutan Bojonegoro hingga Bersua Bung Tomo

M. Yusuf Purwanto • Selasa, 20 Agustus 2019 | 17:30 WIB
Gerilya di Hutan Bojonegoro hingga Bersua Bung Tomo
Gerilya di Hutan Bojonegoro hingga Bersua Bung Tomo

IKUT perang gerilya melawan pasukan Belanda dilakoni Djajoesman pada 1940. Saat itu, usianya belum genap 15 tahun. Tergabung dalam Batalyon Ronggolawe, dia keluar masuk hutan kawasan Bojonegoro. Bergabung dengan TNI pasca Agresi Militer II, kakek 90 tahun ini ikut terjun dalam Perang Ganyang Malaysia hingga Papua.


Sosok pejuang veteran ini terlihat masih bersemangat dan energik di usianya yang hampir seabad. Ditemui di rumahnya di Jalan Danau Sentani Timur Dalam H-1 G 26, Sawojajar, Kota Malang, kemarin (16/8), kakek 19 cucu dan 5 cicit ini bersedia berbagi pengalaman sebagai veteran.


Mulai menetap di Kota Malang sejak 1977, dinas terakhirnya sebagai anggota TNI di Kesdam V Brawijaya sebagai tenaga kesehatan. Dibantu salah seorang anak laki-lakinya, Setyo Utomo, dia menceritakan kisah perjuangannya sebagai gerilyawan hingga bergabung dengan TNI.


Secara administrasi kependudukan, Djajoesman tercatat lahir di Blora, 1 Maret 1929. Namun, dia lebih yakin lahir tahun 1926. Hal itu karena saat mulai bergerilya melawan Belanda di hutan sekitar Bojonegoro tahun 1940, usianya 14 tahun.


Kala itu sosok sang kakak Dirosuroso yang lebih dulu menjadi tentara pejuang membuatnya ikut bergerilya dan mendapat tugas sebagai tenaga kesehatan di Batalyon Ronggolawe.


”Saya lihat sendiri, pejuang yang berguguran itu kemudian dikubur di hutan bersama senjata yang ditancapkan ke tanah,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Malang (Jawa Pos Group).


Salah satu pengalaman berkesan selama perang gerilya ketika dirinya mendapat kesempatan membawa senjata api hasil rampasan perang. ”Pas megang senjata jenis sten gun itu ya gemetar. Tapi setelah terjadi kontak senjata menjadi berani maju,” tambahnya.


Setelah Agresi Militer kedua, Djajoes baru bergabung dengan TNI pada 1948. Dinas pertamanya di Surabaya di Batalyon Infanteri 516 sebagai prajurit satu. ”Saat di Surabaya, saya pernah berjumpa dan bersalaman dengan Bung Tomo,” akunya.


Dia menyatakan, sosok Bung Tomo sangat dikenal karena sangat pintar berpidato membakar semangat para pejuang.


Kakek Djajoes juga menceritakan dirinya ikut berperang dalam operasi di daerah Kalimantan saat ada konfrontasi Indonesia dengan Malaysia. Beliau teringat ketika bergerilya di Gunung Kinabalu dan sering bertemu dengan orang suku Dayak Punan.


”Waktu di Kalimantan, saya juga bertemu Jenderal L.B. Moerdani,” tambahnya.


Selain itu, Djajoes juga sempat dikirim ke Papua saat perang merebut Irian Barat dari Belanda pada 1975. Nah, saat di Papua itulah, Djajoes bertemu dengan Jumiati yang asli Malang.


Setelah bertugas di Papua, Djajoes memilih Kota Malang sebagai tempat tinggalnya hingga saat ini. Kini hari-harinya dilalui dengan memperbanyak ibadah. ”Kalau saya ingin salat di masjid, saya selalu dituntun sama anak-anak,” tutupnya.


Kepada anak-anak maupun cucu-cucunya, sosok bersahaja ini selalu berpesan bahwa manusia harus terus bergerak agar tidak ketinggalan dengan yang lain. ”Saat menceritakan perjuangan, Bapak selalu menyebut bahwa perang sebenarnya tidak pernah ada yang menang dan selalu membawa korban,” terang Setyo saat mendimpingi ayahnya. (*/c2/nay)

Editor : M. Yusuf Purwanto
#blora