BUDI DAYA kelengkeng dari biji bukan hal mudah. Ngadollah sukses melakukannya. Bibit kelengkengnya kini banyak dibeli baik warga sekitar maupun luar daerah. Uniknya tak menggunakan cara setek.
Ratusan bibit kelengkeng dalam polybag berjajar rapi. Ada yang sudah siap tanam dan ada baru tumbuh. Melihatnya terasa adem. Hijau dengan daun-daun tak sebera besar. Lokasinya di Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro Kota.
’’Semua ini ditanam dari biji. Tidak ada yang setek,’’ kata Ngadollah, pemilik kebun bibit kelengkeng saat ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (30/7).
Bibit kelengkeng tersebut semua berasal langsung dari biji. Dia tidak mau menggunakan cara setek. Sebab, bibit kelengkeng dari biji memiliki rasa lebih manis. Sedangkan, bibit setek kadangkala sering mengalami perubahan. Misalnya, bibitnya kelengkeng diamond, saat berbuah menjadi kelengkeng lokal.
’’Itu sering terjadi,’’ ungkap pria akrab disapa Mbah Doel itu.
Mbah Doel selama ini dikenal sebagai pembudi daya kelengkeng. Bibit kelengkengnya banyak dibeli orang. Mulai orang Bojonegoro hingga pembeli Kalimantan. Bahkan, Mbah Doel mengklaim dia satu-satunya pembudi daya kelengkeng dari biji di Indonesia. Sebab, pembudi daya lainnya banyak menggunakan bibit setek.
’’Dulu ada di Bogor. Tempat saya menimba ilmu. Tapi sekarang sudah tutup,’’ ujarnya.
Mbah Doel memang mendapatkan ilmu budi daya kelengkeng saat di Bogor. Bukan dari universitas. Melainkan dari pembudi daya di Kota Hujan. Itu terjadi pada 2009 lalu. Tepat 10 tahun. Kala itu, Mbah Doel tidak sengaja mengetahui itu dari media sosial (medsos). Dia datang ke Bogor.
’’Di sana saya belajar cara melakukan budi daya,’’ terang bapak dua anak itu.
Dari situ Mbah Doel tahu bahwa menanam biji kelengkeng tidak asal ditancap di tanah. Melainkan harus memakai teknik. Biji harus ditanam dengan posisi horizontal. Tidak boleh vertikal. Itu supaya pertumbuhan bagus. Jika dilakukan dengan vertikal, tumbuhnya akan sulit berbuah.
Selain itu, menanamnya juga tidak boleh terlalu dalam. Hanya boleh ditanam dengan kedalaman setengah sentimeter (cm). Media tanamnya juga tidak boleh tanah semua. Berupa campuran tanah, sekam, dan pupuk kandang.
’’Kalau hanya tanah sulit tumbuh,’’ ujar pria pernah tinggal di Aceh itu.
Juga dengan pupuk. Mbah Doel sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia maupun pupuk buatan pabrik lainnya. Dia hanya menggunakan pupuk alami. Ilmunya juga didapatkan di Bogor. Pupuk itu fermentasi dari daun petai dan kulit nanas.
’’Air fermentasi itu disiramkan. Tanaman akan subur dan tahan,’’ ujarnya.
Sepuluh tahun bergelut di budi daya kelengkeng membuat Mbah Doel paham betul berbagai permasalahannya. Misalnya, masalah embun upas yang banyak melanda tanaman ketika kemarau. Awalnya, dia dibuat pusing. Namun, dia tahu cara menangami masalah embun upas itu.
’’Saya semprot air saat pagi. Jadi, embunnya tidak menempel di daun,’’ terang pria pernah bekerja di Pertamina itu.
Selain berbisnis, Mbah Doel memiliki tujuan lain dari budi daya kelengkeng itu. Yakni mendukung penghijauan. Karena itu, dia mempermudah penjualan kelengkeng. Jika ditanam dan mati, dia akan menggantinya gratis. Juga saat ditanam tidak berbuah, akan diganti gratis.
’’Rata-rata ini bisa berbuat setelah tiga tahun ditanam. Kalau tidak berbuah bawa ke sini akan saya ganti,’’ terangnya.
Mbah Doel mengklaim kelengkengnya memiliki rasa lebih manis dibanding lainnya. Itu karena kelengkengnya dari bibit biji. Bukan setek. ’’Saya berani jamin,’’ ungkap pria 56 tahun itu.
Mbah Doel juga memberikan saran-saran kepada si pembeli saat menanam. Lahan dan lain-lain. Sehingga, nantinya bisa menghasilkan kelengkeng bagus.
Pernah ada yang mau beli kelengkeng dalam jumlah besar. Ratusan biji. Senilai Rp 13 juta. Namun, Mbah Doel menolaknya. Alasannya, lahan si pembeli itu tidak cocok untuk ditanami kelengkeng. Kalau dipaksakan kelengkengnya tidak bisa berbuah.
’’Sebenarnya juga eman uang segitu. Tapi mau bagaimana lagi. Daripada nanti di akhir saya yang kena imbasnya,’’ kenangnya.
Menurut Mbah Doel, Bojonegoro sangat potensi membuat wisata agro kelengkeng. Belum ada yang menggarapnya. Karena itu, jika dikonsep dengan baik, agro kelengkeng bisa menghasilkan uang banyak. ’’Saya siap membantu jika ada yang ingin membuatnya,’’ ujarnya dengan ramah.
Editor : M. Yusuf Purwanto