Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Delapan Jam, Siswa Butuh Belajar Nyaman

M. Yusuf Purwanto • Rabu, 24 Juli 2019 | 18:00 WIB
Delapan Jam, Siswa Butuh Belajar Nyaman
Delapan Jam, Siswa Butuh Belajar Nyaman

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Bel tanda berakhirnya sekolah telah berbunyi, Senin (22/7). Para siswa berhamburan keluar dari gerbang menuju parkiran. Tawa canda serta obrolan mereka menggema.


Terlihat Meilinda Putri berjalan santai usai bersekolah. Siswi SMAN 1 Kedungadem, itu sedang merasakan hal baru dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Tahun ajaran baru ini mulai menjalani program full day school (FDS) atau sekolah sehari penuh.


Diperlukan adaptasi terhadap siswa yang sekolahnya baru menerapkan FDS. ’’Tapi masih belum terlihat adanya perbedaan. Mungkin karena baru awal ajaran,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.


Belum semua SMA/SMK di Kota Ledre menerapkan sistem full day school. Hanya, SMA/SMK di Kecamatan Kota. Berbeda dengan sekolah di kecamatan pinggiran, masih minim menerapkan FDS. FDS ini menerapkan KBM selama delapan jam dalam sehari. Mulai Senin-Jumat.


’’Bedanya sekarang Sabtu libur. Tapi ritme KBM pasti akan berubah dan mungkin akan sedikit melelahkan,” ujar Meilinda.


Meski begitu, tahun ajaran baru ini tak akan berbeda jauh dengan sebelumnya. Sebab, sekolahnya telah menyiapkan diri sebelum menerapkan FDS. Sehingga, siswa harus pandai mengatur waktu dan tenaga agar kondisi fisik dan stamina tetap terjaga.


Belum lagi jika mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Sehingga tak bisa sembarangan seperti tahun ajaran sebelumnya. ’’Sebab, jika terlalu lelah, otak tidak bisa menerima pelajaran dengan maksimal. Terlebih rentang belajarnya delapan jam,” ujar dia.


Zafira Iffat, siswi SMAN 1 Bojonegoro menambahkan, penerapan FDS akan terasa nyaman jika terdapat fasilitas dan sarana prasarana yang mendukung. Seperti musala untuk melaksanakan salat bagi pelajar muslim, ruang kelas nyaman, dan makanan sehat di kantin.


’’Selain itu juga tempat nyaman untuk menghilangkan kebosanan seperti perpustakaan, gazebo, dan taman,” ujarnya.


Namun, tak semua sekolah memiliki fasilitas serta sarana dan prasarana mendukung. Hal tersebut rentan memengaruhi suasana hati dan pikiran siswa. Sebab, rentang waktu belajar yang lebih lama rentan dengan kebosanan atau stres.


’’Jika komponennya mendukung, siswa dapat belajar dengan fleksibel, nyaman, dan menyenangkan,” ucapnya.


Terpisah, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Bojonegoro-Tuban Adi Prayitno mengatakan, sistem FDS tersebut telah tercantum dalam peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan (permendikbud). Namun, bukan sesuatu yang wajib.


’’Tergantung kondisi serta karakter murid di sekolah masing-masing. Juga sumber daya dan sarana prasarananya,” jelasnya.


Menurut Adi, sejumlah lembaga sekolah di perkotaan rerata telah menerapkan FDS. Sementara sekolah di luar perkotaan hanya beberapa saja yang belum. Sebab, program ini tak bisa diterapkan semua sekolah.


’’Seperti SMAN 3 Bojonegoro itu sudah menerapkan full day school,” ucapnya.


FDS ini, menurut Adi, memaksimalkan KBM dari kegiatan lain yang dapat mengganggu. Siswa benar-benar dapat menyerap materi pelajaran secara maksimal. Sehingga kegiatan di luar KBM dialokasikan pada Sabtu.


’’Contohnya kegiatan ekstrakurikuler atau peringatan hari-hari besar,” jelasnya.


Sesuai permendikbud, KBM berlangsung mulai Senin-Jumat saja. Setiap harinya siswa mengenyam pelajaran selama delapan jam. Berbeda dengan tahun sebelumnya enam jam. (dny/rij)

Editor : M. Yusuf Purwanto
#bojonegoro