BOJONEGORO - Anak-anak ikut menggerakkan tangannya ketika mendengar suara tari jaranan. Menirukan gerak para penari cantik dengan rancak. Seakan-akan larut karena seni ini begitu enak tetabuhannya dan rancak gerakannya.
Berpadu reog, seni asal Jawa Timur ini begitu menghibur ketika pentas di Lapangan Desa/Kecamatan Dander, di acara tasyakuran Hari Bhayangkara ke-73 kemarin siang (16/7).
Tari jaranan berpadu reog seakan-akan menjadi hiburan khas masyarakat Kecamatan Dander. Meskipun kesenian reog dan jaranan bukan asli Bojonegoro, namun animo masyarakat sangatlah tinggi.
Di Desa Dander, sedikitnya ada lima grup seni jaranan tersebut. Sedangkan, se-Bojonegoro, sedikitnya ada 30 grup seni jaranan. “Sudah banyak kesenian saya pelajari, tapi reog dan jaranan hingga kini masih dicintai masyarakat,” kata Jupri, pembina Mustiko Putri, salah satu grup seni jaranan.
Menurut Jupri, perkembangan kesenian secara meluas memang memiliki keunikannya masing-masing. Berbagai kesenian seperti tayub, campursari, reog, dan jaranan, memang masih jadi idola masyarakat.
Di sanggarnya, kata Jupri, membina sekitar 55 pemain dari berbagai kota. Panggilan pentas di Bojonegoro, Lamongan, Tuban, dan Jombang, tak pernah surut. Jupri menggeluti kesenian karena memang mencintai seluruh kesenian nusantara. Ia belajar otodidak sekaligus sering berkunjung ke Ponorogo, Nganjuk, hingga Tulungagung.
Dia memastikan, kini di Bojonegoro sudah ada 30-an grup reog dan jaranan. Ia berharap selalu muncul grup-grup kesenian lain agar tetap terus lestari.
Setidaknya, anak cucu kita kelak masih mengenal kesenian-kesenian asli Indonesia. Dia melihat hingga sekarang masih banyak anak muda tertarik mempelajari kesenian Indonesia.
Editor : Bachtiar Febrianto