Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Penanganan yang Tepat Membuat Kobra Ditaklukkan

M. Yusuf Purwanto • Sabtu, 6 Juli 2019 | 22:00 WIB
Penanganan yang Tepat Membuat Kobra Ditaklukkan
Penanganan yang Tepat Membuat Kobra Ditaklukkan


PULUHAN remaja di Tuban memiliki keahlian khusus menaklukkan hewan melata yang berbisa dan mematikan. Mereka yang tergabung dalam Tuban Reptile Community (TRC) ini dianggap masyarakat sebagai pawang. Mereka pun kerap dimintai bantuan menangkap  hewan berbisa yang masuk rumah.


Tidak sulit untuk bertemu dan berkenalan dengan para pemuda Tuban pecinta reptil ini. Setiap car free day Minggu pagi, mereka berkumpul di GOR Rangga Jaya Anoraga Tuban. Persisnya di sekitar arena wall climbing. Yang khas dari mereka, setiap kumpul tak pernah tangan kosong. Selalu ada hewan tak lazim yang dibawa. Mulai iguana, kadal papua, biawak, ular piton, kobra, hingga buaya. ‘’Silakan yang mau foto bersama, dijamin aman,’’ ujar salah satu pemuda menawarkan.


Untuk menarik perhatian, sesekali para pemuda tersebut menampilkan atraksi ekstrem. Salah satunya  mencium kepala king kobra. Ular paling mematikan tersebut seakan takluk di tangan para pemuda terlatih tersebut. Adegan berbahaya tersebut membuat siapa pun yang penasaran, mendekat. Namun, anggota komunitas melarang masyarakat lebih dekat dengan kobra. ‘’Siapa pun yang berani bisa foto bersama hewan, kecuali kobra,’’ kata Dimas Asta Nugraha, anggota komunitas TRC.


Seluruh hewan yang dibawa para personel TRC asli dari alam. Bukan hasil ternak atau hewan yang sudah disterilisasi. Kobra pun masih dibiarkan berbisa. Untuk keamanan, raja ular tersebut selalu ditempatkan pada kotak kayu yang tertutup rapat. Berbeda dengan hewan lain yang dibiarkan bebas berkeliaran di lapangan sepak bola sekitar GOR. Jika hewan merangkak terlalu jauh, sang pemilik langsung menggendong untuk di bawa mendekat.


Ganuk, sapaan akrab Dimas Asta Nugraha mengatakan, kedekatan batin para hewan dengan sang pemelihara membuat seolah peliharaan tersebut jinak. Untuk hewan buas seperti buaya dan ular piton, para pemilik wajib memberi makan dulu sebelum dibawa ke tempat umum.


Ganuk mengatakan, jika hewan kenyang, maka akan lebih jinak dan mudah ditaklukkan. ‘’Hewan akan menyerang jika merasa terancam dan posisi perut kosong,’’ kata guru SDN Semanding ini.


Ganuk cs sudah paham betul risiko bergelut dengan hewan berbisa mematikan. Ketika akan menjinakkan kobra, digigit dan disembur pun sudah biasa. Namun, dengan penanganan yang tepat, racun kobra tidak sampai merenggut nyawa para pecinta hewan tersebut. ‘’Saya digigit belasan kali. Alhamdulillah dengan penanganan yang tepat, saya masih hidup sampai sekarang,’’ kata dia terkekeh.


Ketua TRC ini mengatakan, racun kobra yang disembur hanya membuat kulit gatal dan efeknya akan hilang setelah dibilas air bersih. Semburan kobra berhaya saat terkena mata karena bisa menyebabkan kebutaan. Sementara gigitan kobra hanya bisa disterilkan dengan serum atau obat dari dokter. Untuk penanganan pertama, jangan biarkan racun gigitan kobra menjalar ke jantung atau otak dengan mengikat bagian yang tergigit ular tersebut. ‘’Ini yang terus kami edukasi ke masyarakat,’’ terang dia.


Penjinak kobra lainnya, Sandra Anggara mengatakan, tidak perlu rapalan khusus atau mantra untuk menaklukkan hewan berbisa tersebut. Siapa pun bisa. Hanya perlu latihan dan keberanian khusus. Ketika latihan, pemuda yang akrab disapa Gondrong ini  mengaku lebih dari lima kali dipatok ular berbisa tersebut.‘’Saat tergigit, terpenting jangan sampai panik agar aliran darah tidak terganggu,’’ ujar mengungkapkan tipsnya.

Editor : M. Yusuf Purwanto
#cfd