BOJONEGORO - Rencana pengembangan gunung batu kapur di Desa Gajah, Kecamatan Baureno, menjadi kawasan destinasi wisata relief Gunung Watu Jodoh terancam mundur. Terganjal izin tambang gunung batu kapur tersebut ternyata masih aktif.
Kepala Desa (Kades) Gajah Mahyun mengatakan, izin tambang gunung batu kapur dikelola PT Wirabumi itu masih aktif hingga 2022. “Kemungkinan besar mundur pengembangan gunung batu kapur tersebut, setidaknya baru bisa dikembangkan pasca tambang,” katanya kemarin (23/11).
Padahal, kata Mahyun, segala persiapan destinasi wisata relief itu sudah matang. Selama ini, tambang akan dikembangkan sudah tidak dieskplorasi oleh PT Wirabumi. Banyak warga desa maupun luar kota kerap mampir ke lokasi untuk berswafoto.
Namun, terkait regulasi izin tambang masih aktif, tentu dia harus menghargainya. “Apa boleh buat, kami harus menghargai regulasi izin tambang. Karena pihak pengelola juga tak ingin ambil risiko ketika ada hal-hal tidak diinginkan saat digelarnya acara pahat gunung batu kapur tersebut,” jelasnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Amir Syahid membenarkan agenda pengembangan Gunung Gajah menjadi wisata Gunung Watu Jodoh ditunda. Saat ini fokusnya mengumpulkan desain-desain dari masyarakat dengan cara sayembara.
“Nantinya, desain-desain terpilih akan direalisasikan,” ujarnya.
Terkait agenda pahat Gunung Gajah? Amir mengatakan, menunggu kepastian dari Pemerintah Desa Gajah. Karena menurutnya ada miskomunikasi antara kepala desa dan pihak pengelola tambang.
“Kami kurang mengetahui terkait izin-izin pertambangan itu, karena domain kami ialah acara dan pengembangan sebagai destinasi wisata,” ujarnya.
Jadi, imbuh dia, tinggal nanti kades bisa atau tidak melakukan pendekatan lebih lanjut agar bisa terlaksana.
Editor : Bachtiar Febrianto