Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Bermula dari Salatiga, Dibawa Seorang Perempuan 

Bachtiar Febrianto • Sabtu, 31 Maret 2018 | 16:30 WIB
Bermula dari Salatiga, Dibawa Seorang Perempuan 
Bermula dari Salatiga, Dibawa Seorang Perempuan 

Seorang anak kecil berlari. Dia dikejar temannya. Senyum mereka lepas. Penuh kebahagian bermain di halaman Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU) Jalan Teuku Umar, Jumat pagi (30/3). 


Anak-anak yang bermain di luar gereja sedang menunggu orang tuanya ibadah. Jumat itu adalah Jumat Agung. Bertepatan Jumat sebelum Minggu Paskah. Sehingga jemaat GKJTU penuh keceriaan melangsungkan kebaktian. 


Sekitar pukul 10.15 kebaktian usai. Jemaat meninggalkan gereja. Anak-anak bermain di halaman pun ikut pulang bersama orang tuanya. Di dalam gereja, masih terisa beberapa majelis gereja yang belum pulang. Seorang pendeta dari Salatiga Heru Purwanta berbincang dengan majelis gereja. Mereka lantas berjalan menuju ruangan belakang. 


Heru mulai menceritakan tentang awal mula Gereja Kristen Jawa Tengah Utara. Tangannya mengarah ke dinding. Di tembok itu ada foto seorang perempuan. Foto dipasang dengan posisi paling atas dibandingkan foto lainnya. 


“Pendirinya ibu D.D Le Jolle pada 1853,” ujarnya dengan menujuk ke arah foto tersebut. 


Dia menceritakan, Ibu Le Jolle adalah orang Belanda tapi tinggal di Simo sekitaran Salatiga. Dia memiliki perkebunan. Lantas Ibu Le Jolle ingin mengajarkan agama Kristen pada buruhnya. Hanya, terkendala bahasa. Karena mendapat kesulitan bahasa penghubung tentang bahasa, akhirnya ada yang membantu Petrus Sadoyo. Petrus inilah yang mengajarkan para buruh tentang ajaran Kristen. 


Dari awalnya hanya sepuluh orang, akhirnya berkembang menjadi 50 orang. Setelah menyebar ke Simo. Ajaran Kristen terus disebarkan ke Nyemoh, Wonorejo, Jawa Tengah. Saat di Nyemoh ini, Petrus belum bisa membaptis akhirnya meminta tolong De Boer. 


Dari Wonorejo, jemaat Kristen semakin banyak. Selanjutnya, terus berkembang ke daerah utara. Mulai masuk ke Purwodadi, Blora, hingga ke Bojonegoro. Heru menjelaskan, awal persebaran Kristen itu sebenarnya ditentang oleh Belanda. Sebab, Belanda ke Indonesia itu tidak pernah membawa agama. 


“Justru mereka khawatir kalau banyak yang ikut Kristen,” kata dia. 


Alasannya, dikhawatirkan menjadi ancaman politik bagi Belanda saat itu. Jadi, pemerintah Hindia Belanda saat datang ke Nusantara tidak membawa agama. Metode penyebaran Kristen ke masyarakat juga bermacam-macam. Misalnya seperti Kiai Sadrach, seorang pribumi Kristen menggunakan pendekatan tradisional ke masyarakat agar bisa memeluk agama tersebut. “Termasuk memberikan ruang untuk merawat sawah ataupun dengan peternakan,” kata dia. 


Sementara itu, Slamet Mulyadi majelis GKJTU Jemaat Bojonegoro melanjutkan, dari data dikumpulkan orang majelis GKJTU ini didirikan oleh orang Jerman. Awalnya, 31 Maret 1903 datanglah seorang misionaris Salatiga Zending yang bernama Wilhelm Barth untuk merintis gereja di Bojonegoro. 


Lembaga Salatiga Zending itu mendapat wilayah pelayanan, dari pemerintah Hindia Belanda, di Jawa Tengah Utara dan di Bojonegoro. 


Salatiga Zending ini terbentuk dari gabungan antara misionaris Jerman diutus Neukirchener Mission berpusat di kota Neukirchen, Jerman dan misionaris Belanda diutus Vireeniging tot ondersteuning van de zendelingen der Salatiga-zending op java atau Perhimpunan untuk Mendukung Para Misionaris Salatiga Zending di Jawa yang berpusat di Utrecht, Belanda.


Barth itu berasal dari Weiterode Jerman. Dalam data GKJTU disebutkan pada 1894-1899 Barth studi di seminari misi di Neukirchen. Lalu, mendapatkan tugas ke Jawa oleh Yayasan Misi Neukichener Mission.


“Setelah tiba di Jawa pada 1899 beliau belajar bahasa Jawa dan menikah dengan Gesina Lopman pada 1901. Baru akhir Maret 1903 keluarga muda ini ditempatkan di Bojonegoro, bersama dengan anak putri mereka bernama Anna Margarete, yang lahir di Kaliceret. Dan baru beberapa bulan dibawa ke Bojonegoro,” kata Slamet. 


Dia melanjutkan, dalam pelayanannya Barth didukung asisten residen Bojonegoro, seorang Kristen yang setia. Mereka bersama-sama mendirikan pelayanan medis. Dan, masyarakat menganggapnya sebagai dokter. 


Istri Barth, Gesina membuka kelas menjahit. Awalnya untuk gadis Belanda kemudian juga bagi gadis Jawa. Dalam pekabaran Injil ini, keluarga Barth dibantu Guru Injil Jawa, yaitu Jochanan dan Joesoep beserta anaknya Johanes. Keberadaan Barth mendirikan sekolah Kristen. Termasuk melebarkan sayap ke Ngaringin. 


Dari awal, Barth berusaha agar mendapat lahan membangun gedung gereja. Atas bantuan para misionaris yang lain dan pemerintah Hindia Belanda, akhirnya terkumpul dana membeli sebidang tanah seluas 2 hektare terletak di Desa Kadipaten. 


Lalu, pada 7 November 1905 didirikan terlebih dulu sebuah pastori. Selama kurang lebih tiga bulan, setelah pembangunan Pastori, dibangunlah gedung gereja perdana di Bojonegoro. “Pembangunan gedung gereja selesai Desember 1905. Dan 10 Desember 1905 diresmikan,” ujar pria bergelar insinyur itu.  


Dia melanjutkan, pada Hari Natal 1905 ada baptisan pertama dengan 16 orang percaya sebagai hulu hasil pelayanan Barth serta pelayanan guru Injil Jawa. Menjelang kemerdekaan, GKJTU memasuki masa suram. Sebab tengah dilanda Perang Dunia II. Pada 10 Mei 1940 Jerman menyerang Belanda, lalu semua misionaris Jerman di Hindia Belanda ditangkap. 


“Patut disyukuri bahwa sebelum 1940 jemaat Bojonegoro sudah mandiri dan memiliki Pandhita Jawa, yaitu Bapak Pdt. R. Soetjipto. Sehingga pelayanan yang ditinggal oleh keluarga Kroh bisa diambil-alih dan dilanjutkan,” terangnya. 


Zaman penjajahan Jepang, keadaan jemaat semakin memprihatinkan. Karena kekejaman Jepang, orang-orang Kristen baik di kota maupun di desa semakin berkurang, akibat penganiayaan dan intimidasi. Bahkan, gedung gereja di Bojonegoro dirampas dan dijadikan gedung sandiwara. 


Juga segala peralatan gereja dirampas sehingga jemaat di Bojonegoro, waktu itu harus kebaktian di rumah-rumah. 


Pada 1950-an jemaat Bojonegoro mulai mengalami pencerahan. Berdirilah pepathan baru, mulai dari barat yaitu Padangan, Kendung, Kalitidu; terus ke timur Sugihwaras, Sumberejo, Sroyo, Babat, Lamongan, Sumber Gondang, dan Ngasemlemahbang. Ke arah selatan yaitu Mojoranu, Kwangenrejo, Dander, Bobolan, Kedungadem, Gares, Tondomulo; sedangkan ke utara yaitu Cengkong, Jatirogo, dan Tuban. 


Slamet menuturkan, keberadaan gereja memang tidak hanya menjadi pusat ibadah saja. Melainkan, dari gereja bisa muncul rumah sakit hingga lembaga pendidikan.

Editor : Bachtiar Febrianto
#gereja