Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Menelusuri Gua di Perbatasan Bojonegoro-Nganjuk

Bachtiar Febrianto • Kamis, 15 Maret 2018 | 19:09 WIB
Menelusuri Gua di Perbatasan Bojonegoro-Nganjuk
Menelusuri Gua di Perbatasan Bojonegoro-Nganjuk

FEATURES - Siapa yang menyangka jika di ujung selatan Bojonegoro menyimpan keindahan. Ada banyak gua yang bisa dinikmati disertai alam yang elok. 


Rumput masih basah karena malamnya hujan. Jalan menuju area persawahan pun becek. Beberapa kubangan air terlihat. Warga Desa Soko, Kecamatan Temayang, yang akan ke sawah tetap melangkah santai.


Kubangan tak menjadi soal. Sebab, jalan berlumpur sudah menjadi teman saat hujan. 


Raungan mesin motor terdengar dari jauh. Raungan itu semakin dekat tatkala sudah memasuki area jalan menuju hutan. Motor yang dikendarai pria berkumis itu mengangkut tiga karung jagung. 


“Monggo Pak Bayan,” kata pengendara motor yang berpapasan dengan rombongan Jawa Pos Radar Bojonegoro saat akan menelusuri gua di desa itu Kamis (8/3). 


Pak Bayan itu orang yang memandu perjalanan menuju gua yang lokasinya di atas perbukitan. Namanya Ahmad Rusmiadi. Sehari-harinya dia seorang perangkat desa. Tetapi, dia punya kegemaran menyusuri gua. 


Pak Bayan hari itu dia mengenakan celana panjang dan kaus lengan panjang. Dia membawa pedang dan sabit. Sebuah tas punggung telah melekat. Sepatu yang dikenakan Pak Bayan berbeda dengan sepatu pada umumnya.


Mirip sepatu sepak bola ada pul di alas kakinya. Tangan Pak Bayan menyabet pedangnya dengan cepat. Tanaman yang menghalangi jalan segera hilang. Kaki terus melangkah. Hingga memasuki wilayah hutan. 


Kicauan burung saling bersahut. Pohon tinggi menjulang. Sinar matahari mencoba mengintip dari rimbunan pohon. Udara begitu segar pagi itu.


Memasuki hutan jadi teringat film Jungle Book yang disutradarai Greg McLean. Di film tersebut bercerita tentang seseorang yang menelusuri hutan hingga berhari-hari. Mereka tersesat dan memakan apa yang ada di dalam hutan. 


Hutan di Desa Soko, Kecamatan Temayang, benar-benar masih rimbun. Hutan itu berada di pegunungan Kendeng Selatan. Jadi, tak hanya pohon tapi juga bebatuan pun mudah ditemukan. Termasuk gua. Jalan hutan pun licin. Jalurnya sedikit menanjak. Harus berhati-hati.


Perjalanan terus berlanjut. Saat jalanan mulai menanjak tangan harus bersiap untuk berpegang pada akar pohon. Agar tidak terpeleset. Untuk sampai di gua pembuka membutuhkan waktu yang tak lama. Sekitar 45 menit batuan mirip gua sudah terlihat. 


Jalan kaki yang cukup membakar lemak akhirnya terbayarkan saat melihat gua dengan stalaktit yang indah. Kucuran air pun masih terlihat dari atas stalaktit. Menetes hingga menyentuh tanah. Ornamen bebatun benar-benar klasik. 


Pak Bayan menyebutkan, ada enam gua. Yakni Gua Lowo, Gua Gondel atau Gua Susu, Gua Bale, Gua Gogor, Gua Gerdu dan Gua Landak. Setiap gua ini punya cerita masing-masing. 


Dia mengatakan keberadaan gua ini sudah lama sekali. Hanya, empat tahun terakhir sudah banyak orang yang berkunjung ke gua tersebut. (aam/nas/bersambung)

Editor : Bachtiar Febrianto