Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Mengenal ASSBI, Ruang Godok Pesepakbola Junior 

Ebiet A. Mubarok • Rabu, 21 Februari 2018 | 17:54 WIB
Mengenal ASSBI, Ruang Godok Pesepakbola Junior 
Mengenal ASSBI, Ruang Godok Pesepakbola Junior 



FEATURES - Suara anak berlarian terdengar riuh di salah satu lapangan di Jalan Kolonel Sugiono Kota Bojonegoro kemarin. Berulangkali, teriakan-teriakan meminta bola sekaligus canda tawa bergema melintas di telinga. Meski gerimis dan cuaca kurang mendukung, semangat mereka seperti tak pernah berkurang. Anak-anak bermain bola itu merupakan pemain-pemain bola tergabung dalam Asosiasi Sekolah Sepak Bola Indonesia (ASSBI) Bojonegoro.


Selain menggelar latihan berasma, ASSBI juga menghelat turnamen tiap bulan sekali. Meski, berbagai agenda itu dilakukan dengan sederhana. 


Kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro, Sekretaris ASSBI Bojonegoro, Siswoyo bercerita banyak tentang latar belakang, eksistensi hingga suka duka mengelola ASSBI yang telah berkiprah sejak 2015 lalu.


Dari keterangan Siswoyo, awal mula didirikannya ASSBI memang berasal dari keinginan menyatukan sekolah sepakbola berada di Bojonegoro. “Niat awalnya mengumpulkan anak-anak dari SSB untuk dimaksimalkan potensinya,” kata Siswoyo.


Dia mengatakan, bakat pemain bola usia dini di Bojonegoro sangat banyak. Itu terbukti dengan lumayan banyaknya SSB di Bojonegoro.  Tapi, hampir semua bakat yang ada sangat sulit maksimal. Penyebabnya, mayoritas tidak terbiasa dengan suasana kompetisi.


Karena itu, ASSBI didirikan untuk membangun nuansa kompetitif antar SSB di Bojonegoro. Guru olahraga dan pengawas pertandingan Askab PSSI Bojonegoro itu menceritakan, pembinaan usia dini di Bojonegoro sangat lemah. Jauh di bawah kota-kota lain di dekat Bojonegoro.


Karena itu, dia dan sejumlah kawannya bertekad mendirikan ASSBI meski tanpa ada backing sponsor jelas. Mengingat, meski mengusung nama berbasis formal, ASSBI sebenarnya tidak disokong sponsor dari ASSBI pusat.


“Hanya bermodal peduli pada sepakbola Bojonegoro,” imbuh dia.  Ada sebanyak delapan SSB bergabung dalam ASSBI Bojonegoro. Diantaranya; Persepa (Pacul), Mobrig (Bojonegoro), Aspro (Sugihwaras), Putra Zodiac (Balen), Bina Talenta (Sugihwaras), dan Ngasem Raya (Ngasem).


Meski Bojonegoro memiliki banyak klub bola, namun yang menyertakan pembinaan usia dini sangat jarang. SSB bergabung dengan ASSBI, kebanyakan klub internal yang memiliki pembinaan usia dini. 


Sebagai wadah yang fokus pembinaan pemain-pemain bola usia dini, fokus pembinaan ASSBI berada pada usia U10, U11, U12, U13 hingga U14 (SD dan SMP). Dia mengakui jika atlet sepak bola usia dini di Bojonegoro sangat banyak.


Tersebar di berbagai daerah, tapi tidak maksimal karena tidak terbiasa bermental kompetisi. “Tiap turnamen, kita keliling ke beberapa lapangan anggota ASSBI, sehingga tidak terpusat,” imbuh dia.  


Hampir setiap bulan, ASSBI menghelat turnamen diikuti ke delapan klub tersebut. Pelaksanaannya, dilakukan secara anjangsana berpindah-pindah secara bergantian.


Dengan dilaksanakan secara bergantian, lebih mudah menjalin silaturahmi dan kedekatan emosional. Hampir tiap bulan pula, biaya turnamen dilakukan dari iuran. 


“Tiap bulan bikin turnamen tanpa hadiah,hanya tropi. Dan itu saja semangat anak-anak sudah sangat besar,” kata dia. Dari turnamen tersebut, secara tidak langsung pihaknya juga melakukan seleksi.


Pemain-pemain hasil seleksi itulah, yang pada akhirnya dikirim untuk mengikuti perhelatan kompetisi ke luar daerah. Proses mengikuti kompetisi ke luar daerah inilah yang menjadikan fokus ASSBI untuk menghadirkan suasana kompetitif.


Sejumlah prestasi diraih ASSBI meliputi juara pertama antar SSB se-Jatim di Caruban pada 2015, juara kompetisi SSB U-13 di Magetan, juara tiga kompetisi SSB U-12 di Kediri dan menjadi juara 4 pada Danone Nation Cup di Malang pada 2018 ini. 


Pada Maret ini, pihak ASSBI berkesempatan mengikuti seleksi Liga di Surabaya. Dari hasil liga tersebut, 16 pemain terbaik bakal dikirim ke Singapura untuk ikut bergabung sebagai line up Indonesia pada Singacup.


Dia optimis jika bakal ada perwakilan dari ASSBI Bojonegoro untuk dikirim ke Singapura. Dia menceritakan, kendala terbesar pada pengelolaan ASSBI memang pada masalah biaya. Terutama biaya untuk menghelat setiap turnamen.


Sebab, selama ini tidak ada sponsor karena tiap mengajukan sponsor selalu tidak tembus dan hanya mengandalkan iuran saja.Melihat jauhnya ketertinggalan Bojonegoro dari kota-kota lainnya, dia berharap agar tahun ini Askab PSSI lebih fokus pada pembinaan usia dini.


Sebab, sejauh ini yang diurusi selalu sepakbola profesional. Padahal pondasi utama, yakni pembinaan usia dini justru kurang perhatian. 


“Kami sangat berharap Askab PSSI mulai memprioritaskan pembinaan usia dini, sebagai pondasi sepakbola di Bojonegoro,” pungkas dia.       


Editor : Ebiet A. Mubarok