TUBAN – Gerakan pasukan pengibar bendera (paskibra) tidak selalu identik dengan gerakan kaku ala militer. Pada acara Adipati 18 di SMAN 1 Tuban Minggu (18/2), gerakan-gerakan yang ditampilkan 40 tim paskibra terlihat berbeda. Gerakan baris-berbaris tidak lagi monoton. Namun, masing-masing tim menampilkan gerakan yang menarik perhatian penonton. Di antaranya gerakan tari tradisional, joget ala dangdut koplo, hingga layaknya cheerleader.
Agar tidak kehilangan pakem, tim paskibra ini terlebih dahulu menampilkan gerakan baris-berbaris pada umumnya. Pada penampilan terakhir, mereka menyuguhkan gerakan – gerakan manuver serta yel-yel.
Di sesi terakhir itulah, masing-masing tim menonjolkan nilai plus dengan menampilkan gerakan terheboh. Tentu, penampilan mereka tetap harus kompak.
Ketua pelaksana acara Achmad Ony Mirza mengatakan, lomba tersebut mengadu kekompakan tim dari sejumlah sekolah se-pulau Jawa dalam baris-berbaris.
Agar tampil beda, yang ditampilkan memang tidak hanya gerakan ala militer saja. Tiap tim, menurut dia, dibebaskan menampilkan yang berbeda untuk memikat dewan juri.
‘’Tidak semua sekolah mempunyai tim khusus seperti ini. Kalau di kota-kota besar sudah lama ada, di Tuban masih bisa dihitung jari,’’ ungkapnya.
Ony menerangkan, gerakan formal dalam paskibra dipastikan hanya untuk upacara. Di luar itu, tim paskibra bisa mempertontonkan gerakan-gerakan khusus yang menghibur dan terkadang membuat hati berdebar karena aksi yang ekstrem.
Dengan penampilan yang berbeda, lanjut dia, tim paskibra bisa unjuk gigi di luar acara formal. Harapannya, masyarakat kian akrab dengan gerakan baris-berbaris.
Sebab, melalui paskibra, siswa bisa meningkatkan kedisiplinan. Tujuannya, mencetak karakter individu yang kuat dan kokoh. ‘’Inovasi dalam baris-berbaris menjadi salah satu penilaian tim juri dari aparat TNI dan Polri,’’ kata pelajar kelas XI SMAN 1 Tuban itu.
Editor : Bachtiar Febrianto