Beberapa orang, khususnya para remaja kerap kali memperingati hari Valentine yang diartikan sebagai hari kasih sayang setiap 14 Februari. Sehingga, biasanya para pengusaha toko kado mengalami peningkatan omzet ketika jelang Valentine. Tetapi ternyata tidak sepenuhnya benar, ada pengusaha yang merasa naik maupun turun, dikarenakan sudah tidak begitu diperhatikan anak muda.
Salah satu pengusaha toko kado di Jalan Teuku Umar Bojonegoro, Kosim mengatakan bahwa tiap tahunnya saat hari Valentine yang diperingati 14 Februari tersebut tidak mengalami kenaikan omzet harian.
Kata dia, stagnasi omzet pada hari Valentine dimulai sejak tiga tahun yang lalu. Menurut dia, anak-anak muda masa kini sudah memperoleh nasihat dari guru maupun orang tuanya tentang tidak ada manfaat memperingati hari Valentine, sehingga berimbas kurangnya anak muda membeli kado.
“Saat ini sudah banyak yang tahu kalau hari kasih sayang tidak harus pas Valentine,” tuturnya.Dulunya, H-7 Valentine pasti sudah menggelontor stok cokelat, bunga, dan boneka.
Sedangkan kini, sudah tidak lagi, justru hari-hari penting yang kerap kali mampu mendongkrak omzet harian saat hari guru, hari ibu, dan lebaran. “Pas hari guru, hari ibu, dan lebaran, omzet bisa meningkat 3-5 kali lipat,” ujarnya.
Adapun kado yang laris di toko tersebut ialah boneka, harganya mulai Rp 15 ribu hingga Rp 300 ribu. Selain itu, kotak kado yang harganya mulai dari Rp 3 ribu hingga Rp 28 ribu. “Rata-rata kalau boneka tiap harinya terjual 10-15 buah, sedangkan kotak kado terjual sekitar 30 buah,” tuturnya.
Sementara itu, salah satu seniman muda yang jago menggambar sketsa asal Kauman Bojonegoro, Sigit Widiatmoko mengatakan, jelang Valentine mulai banyak konsumen berdatangan.
Rata-rata konsumen memesan gambar sketsa sepasang kekasih. Dia memasang tarif antara Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu tergantung ukuran kertas. “Jelang Valentine lumayan banyak konsumen yang pesan, sekitar 5 orang, kalau hari-hari biasa hanya 1-3 orang,” ujarnya.
Pengerjaannya juga minimal tiga hari, beberapa sudah pesan bulan lalu.
Editor : Bachtiar Febrianto