Syifana Isya Sabilla cukup lengket dengan adiknya. Sejak kecil, adiknya selalu diajak bersama. Kebersamaan dengan adiknya itu terpaksa berkurang karena dia harus menempuh pendidikan di Surabaya.‘’Saya selalu memerhatikan adik karena saya anak yang paling utama pengganti ibunya sendiri,’’ kata perempuan kelahiran 30 Desember 1999 asal Desa Kandangrejo, Kecamatan Kedungpring tersebut.
Sejak ibunya meninggal, sebagian waktu Syifana dicurahkan kepada adiknya. Karena itu, saat di Surabaya, dia khawatir adinya makan tidak teratur dan keseringan bermain hingga lupa belajar.
Saat tidur hampir setiap malam, dirinya juga ingat sama adiknya. Agar sang adik dalam pantauannya, Syifana menyempatkan waktu untuk menelepon. Tidak hanya ingin bercanda. Juga memberikan motivasi agar adik bersemangat dan menjadi anak yang berguna.
‘’Sampai saat ini saya memikirkan makan adik dan ayah karena masak juga hanya sebatas bisa saja,’’ ujar mahasiswi semester dua di Surabaya tersebut.
Editor : Ebiet A. Mubarok