LAMONGAN - Kawasan perkotaan Lamongan justru menjadi penyumbang terbanyak penyakit tuberkulosis (TB) paru. Berdasar data dinas kesehatan (dinkes) selama 2017, total terdapat 2.237 penderita penyakit yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis.
Terbanyak di pusat Lamongan, ditemukan 341 penderita. Kecamatan Babat 208 penderita, Paciran 176 penderita, Ngimbang 118 penderita, dan Mantup 116 penderita. “Tapi kita tidak hanya fokus di lima kecamatan dengan kasus terbanyak.
Tapi, seluruh kecamatan juga menjadi perhatian,” kata Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinkes Lamongan Bambang Susilo sabtu (27/1).
Menurut Bambang, banyaknya kasus ditemukan di sebuah kecamatan, bukan berarti jika lingkungannya buruk. Sehingga, memiliki analogi negatif. Sebaliknya, makin banyak temuan menunjukkan jika komitmen ditunjukkan petugas kesehatan. “Semakin banyak kasus yang ditemukan makin bagus,” ujar Bambang.
Kepala Puskesmas Lamongan, Ahmad tidak menampik jika temuan TB paru di lingkup pusat kota cukup tinggi. Jumlah penduduk lebih tinggi dibanding wilayah lainnya, membuat temuan di Lamongan paling besar. “Yang jelas Lamongan ini kan penduduknya paling banyak,” terangnya.
Dia mengatakan, tingginya kasus TB paru yang ditemukan di kota bukan suatu hal yang buruk. Namun, diakuinya, pihaknya lebih proaktif dalam melakukan pencarian penderita TB paru. “Bukan berarti yang lebih tinggi itu buruk. Serta daerah yang paling rendah ditemukan itu tidak ada kasus. Kita upayakan secara maksimal melakukan temuan,” ujar Ahmad.
Sehingga, lanjut dia, ditemukan banyak penderita, tentu cepat dilakukan pengobatan. Artinya kesempatan menularkan pada lingkungan sekitar juga bisa ditekan. “Itu kan harus dipotong penularannya. Justru makin banyak ditemukan makin bagus,” imbuhnya.
Ahmad mengatakan, belum membuat paguyuban penderita TB paru. Tapi, sekarang kita melakukan pendataan keluarga sehat (KS). Dia memastikan petugas di Puskesmas Lamongan telah mendata di Desa Rancangkencono dan Kelurahan Sukomulyo.
“Siang ini (kemarin) masih ada petugas yang datang ke desa-desa. Salah satunya untuk mencari kasus TB paru itu,” tukasnya.
Apabila ditemukan penderita baru yang belum terdata sebelumnya bisa dimasukkan. Sebab, terkadang tak banyak yang menyadari gejala dan penyebab TB paru. “Selama ini pengobatan TB paru gratis. Itu kan program pemerintah. Kita juga sampaikan itu pada masyarakat saat pendataan KS ini,” ujarnya.
Editor : Muhammad Suaeb