Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Bek Serba Bisa, Catat VO2 Max Terbaik 

Bachtiar Febrianto • Kamis, 30 November 2017 | 14:50 WIB
bek-serba-bisa-catat-vo2-max-terbaik
bek-serba-bisa-catat-vo2-max-terbaik


Sugeng Efendi menunjukkan penampilan gemilang di Persela U-19. Meski winger 19 tahun tersebut tak membawa Persela U-19 juara, potensinya dilirik manajemen tim senior. Fendi diproyeksikan masuk skuad Laskar Joko Tingkir musim depan bersama Ghifari Vaiz Aditya.


----------------------------------


INDRA GUNAWAN, Lamongan 


----------------------------------


SETELAH Liga 1 U-19 berakhir, ada dua pemain yang dipanggil manajemen Persela Lamongan untuk magang. Selain striker Ghifari Vaiz Aditya, juga Sugeng Efendi.


Kemampuan Fendi menarik hati Aji Santoso dan manajemen Persela. Dia sudah diberi informasi bahwa dirinya masuk dalam proyeksi skuad Persela musim depan. 


‘’Sangat bangga. Bisa bermain di tim senior merupakan impian semua pemain muda, termasuk saya,’’ tutur putra bungsu Mariono dan Sumartinah tersebut kepada Jawa Pos Radar Lamongan Senin (27/11).


Saat bersama Persela U-19, Fendi dikenal sebagai winger serba bisa. Pelatihnya, Didik Ludiyanto, meminta Fendi beroperasi di sayap kanan atau sayap kiri.


Selain itu, Fendi mencatatkan diri sebagai pemain dengan VO2 Max tertinggi di U-19, yakni 61,1. Bahkan, Didik saat itu tercengang karena nilainya sama seperti pemain timnas. 


‘’Saya bisa bermain di sayap kiri dan sayap kanan, tergantung instruksi dari pelatih. Tapi dulu di U-19 sering rolling position,’’ katanya. 


Fisiknya yang kuat itu berkat ketertarikannya untuk menambah pengetahuan saat bertemu pelatih fisik.


Dari sering sharing, Fendi menambah porsi latihan sendiri untuk meningkatkan kemampuannya.


Bagi dia, cobaan terberat dalam sepak bola adalah melatih fisik secara kontinu. 


‘’Tergantung dari diri sendiri Mas. Latihan fisik memang paling berat, tapi harus dipaksakan jika ingin berkembang,’’ ujar putra bungsu dari enam bersaudara tersebut.  


Tribute match Choirul Huda Rabu (15/11), memberikan kesan mendalam bagi winger kelahiran 1998 tersebut.


Pertama kalinya Fendi merasakan bermain bersama rekan-rekan senior Laskar Joko Tingkir.


Seperti mimpi rasanya bisa bermain satu lapangan bersama Andik Vermansyah, Ponaryo Astaman, Samsul Arif Munif, dan Kurniawan Dwi Yulianto. 


‘’Sempat canggung sih. Dulu hanya bisa nonton di televisi, sekarang bisa berada satu lapangan dengan mereka,’’ tutur pemain kelahiran 31 Agustus 1998 tersebut. 


Darah sepak bola Fendi tidak diturunkan dari orang tuanya. Namun, sejak kecil Fendi suka sepak bola. Dia kemudian masuk popda di Magelang.


Saat duduk di bangku 2 SMP, Fendi masuk diklat sepak bola Ilo Sportivo sekitar 2013.


Ayah Fendi yang menjadi petani harus bersusah payah mendukung hobinya. Kondisi itu justru menjadi pelecut semangatnya untuk memilih jalur sepak bola. 


‘’Kedua orang tua sangat mendukung. Kadang juga di-support kakak yang bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW),’’ imbuhnya.  


Pada 2015, Fendi ikut seleksi dan masuk dalam skuad Bali United U-21. Musim 2016, dia berkontribusi membawa Serdadu Tridatu Muda menjadi runner up U-21.


Saat itu, dia berhadapan dengan pemain muda yang kini menjadi bintang Persela.


Di antaranya M. Fahmi Al-Ayyubi, Ahmad Birrul Walidain, Ahmad Nurhardianto, Dendy Sulitiyawan, Rio Valentino Pratama, dan Bima Nizzard Nandaka. 


‘’Tahun ini ditawari manajemen Persela U-19 untuk bergabung di sini,’’ tuturnya.

Editor : Bachtiar Febrianto
#persela