KONSEKUENSI sebagai anak rantau ialah harus mampu melakukan segala pekerjaan secara mandiri. Karena itu, Titin Mustika Wahyu Ningsih merasa perlu untuk menikmatinya. Sebab, tak banyak perempuan yang siap untuk merantau jauh-jauh ke kota orang. Namun, Titin, sapaan akrabnya, menyikapi perantauannya sebagai pengalaman dalam beradaptasi dan mengenal dunia luar secara seksama.
Lanjut dia, jadi anak rantau punya mental yang jauh lebih kuat dibanding anak yang masih tinggal bersama orang tuanya.
“Karena, setiap permasalahan yang ada harus dihadapi sendiri dan mandiri,” katanya.
Selan itu, Titin juga ingin menimba ilmu demi masa depannya. Sehingga, sejak lulus SMA, perempuan asal Desa Hajimena Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan itu hijrah ke Bojonegoro sembari bantu usaha ibu dan kakeknya.
“Saya sejak lulus SMA pindah ke Bojonegoro, sekalian kuliah dan kerja jadi karyawan bantu toko emas milik ibu dan kakek saya yang asli Blora,” jelas mahasiswi Unigoro jurusan ekonomi pembangunan semester 5 itu.
Titin pun di Bojonegoro tidak ada rasa minder tinggal bersama karyawan-karyawan lain yang juga kerja di toko emas milik keluarganya itu.
Dia justru sangat nyaman dan bisa banyak memetik pelajaran penting bahwa semua sama di mata Tuhan.
Titin sedari kecil memang sudah dididik untuk mandiri. “Mandiri itu tidak membuat rugi, apalagi saya juga anak sulung, jadi setidaknya harus mampu memberikan contoh yang baik bagi ketiga adik saya,” terang perempuan kelahiran 14 Mei 1996 itu.
Keinginan Titin adalah menjadi seorang wirausaha yang sukses seperti yang telah dicontohkan oleh keluarganya.
Tetapi dia memaknai bahwa kesuksesan tentu penuh dengan perjuangan. “Tidak ada kesuksesan yang diraih tanpa kegagalan, sebab menurut saya orang sukses tentu orang-orang yang tangguh dan bisa mengatasi segala masalah dengan baik,” pungkasnya.
Editor : Bachtiar Febrianto