BOJONEGORO – Keberadaan rental studio musik di Bojonegoro semakin langka. Ada banyak penyebab yang memengaruhi. Salah satunya, studio musik tidak upgrade alat musiknya. Sehingga, tak sedikit orang lebih banyak memanfaatkan teknologi serta mempunyai studio musik sendiri di rumah.
Salah satu pengusaha rental studio musik di Desa Sukorejo Bojonegoro, Fajar Satritama, mengungkapkan, konsumen rental studio musik sangat jauh dari harapan.
Banyak remaja pehobi musik sudah punya alat musik sendiri di rumah. Selain itu, kemajuan teknologi sangat memengaruhi turunnya jumlah konsumen.
”Software pendukung untuk bermusik saat ini sangat banyak, sehingga para remaja yang ingin berkreasi lebih mudah dan tidak begitu membutuhkan studio musik konvensional lagi,” ujarnya.
Mengatasi kondisi tersebut, Fajar mengandalkan sosial media dan relasi pertemanan dengan para remaja.
Kini, konsumennya tiap hari 4-5 band. ”Intinya, sebagai pemilik usaha di bidang jasa, harus mengedepankan pelayanan,” imbuhnya.
Terpisah, salah satu pengusaha rental studio musik di Kelurahan Mojokampung, Bojonegoro, Sandy, mengatakan, omzet setiap bulannya sekarang jauh berbeda dengan sebelumnya.
Dulu omzet lebih dari Rp 10 juta, kini hanya Rp 2 jutaan. Menurut dia, penurunan omzet tersebut karena minimnya acara musik di Bojonegoro.
Selain itu, kini tiap sekolah juga sudah memfasilitasi peserta didiknya dengan studio musik yang mumpuni.
”Jadi, sebenarnya, omzet turun itu wajar, saya sebagai pengusaha yang harus lebih inovatif,” ujarnya.
Saat ini, yang datang ke studionya hanya 2-3 band setiap hari.
Untuk mendongkrak omzetnya, dia menyewakan alatnya kepada orang-orang yang sedang menggelar acara.
Seperti sekolah, pernikahan, atau event besar di alun-alun. “Jujur, rental studio musik kurang prospektif, sehingga tidak terlalu bisa diandalkan sekarang,” katanya.
Editor : Bachtiar Febrianto