LAMONGAN - Proyek pengerukan sungai, waduk, atau embung di Lamongan dikritisi. Sebab, proyek tersebut banyak menggusur pohon-pohon penghijauan.
Padahal, pohon-pohon tersebut berfungsi sebagai penguat tanggul.
’’Setiap ada proyek pengerukan waduk atau sungai, pohon-pohon di sekelilingnya justru dipotongi. Bahkan dimatikan.
Padahal, untuk bisa menanam pohon-pohon itu butuh waktu bertahun-tahun. Apalagi Lamongan sangat butuh pohon, karena daerahnya panas,’’ kata Amin, warga Kecamatan Deket kemarin (21/9).
Tentu, kata dia, sangat disayangkan pohon penghijauan justru dimatikan. Kalau pohon-pohon itu dimatikan, otomatis tangkis sungai, waduk atau embung menjadi tidak kuat dan mudah longsor.
Itu berarti harus dilakukan pengerukan lagi. ’’Artinya, kalau pohon-pohon itu dihilangkan, akan mudah terjadi longsor, sehingga harus sering dilakukan pengerukan.
Dan, itu berarti harus sering dianggarkan proyek pengerukan. Tentu membuat pemborosan keuangan daerah,’’ ujarnya.
’’Masyarakat dirugikan (pohon penghijauan dimatikan memicu longsor), karena uang negara cepat habis untuk proyek yang itu-itu saja.
Tapi, buat kontraktor diuntungkan, karena menjadi lebih sering mendapat proyek,’’ lanjut dia.
Tidak hanya itu, tambah dia, penanaman pohon di tangkis sungai, waduk, dan embung dibutuhkan waktu sangat lama untuk bisa tumbuh besar dan akarnya bisa menjadi penguat tangkis.
Sekaligus akar pohon berfungsi menyimpan air. ’’Sehingga, pemotongan di tangkis sungai, waduk, dan embung harus dihentikan,’’ tegasnya.
Digusurnya pohon-pohon penghijauan di tepi waduk, kata dia, terkesan hanya kepentingan jangka pendek.
Hanya untuk memudahkan beroperasinya peralatan pengerukan, seperti backhoe (alat berat pengerukan). Karena tidak terganggu adanya pohon.
Kepala Dinas PU Sumber Daya Air Lamongan Supandi belum bisa dikonfirmasi. Namun, sebelumnya dia menyatakan juga pernah mendapatkan masukan seperti itu dan akan dikaji.
Editor : Bachtiar Febrianto