TUBAN - Wisata Kambang Putih Tuban Park (KPTP) dalam ancaman serius. Selain tak banyak diminati pengunjung, tempat wisata di kompleks Terminal Wisata Kambang Putih Tuban tersebut terkesan hilang hingar-bingarnya. Tak terlihat event apa pun untuk menarik pengunjung selama beberapa bulan terakhir. Dampaknya, wisata yang dikontrak pihak ketiga PT Cahya Ananta asal Pati, Jawa Tengah ini terancam tak berkembang.
Pantauan Jawa Pos Radar Tuban, ikon kuda KPTP di pintu gerbangnya terkesan kurang terawat. Debu tebal membalut patung tersebut. Begitu juga dengan dua patung di pintu masuk tempat wisata yang dibuka pada 2015 itu. Kotor dan kumuh.
Problem keuangan tempat wisata bahari ini disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Tuban Sulistiyadi. Dia mengatakan, pengelola wisata tersebut terlambat membayar kontrak tahunan kepada Pemkab Tuban. Besarnya Rp 127 juta per tahun. ''Jatuh temponya pada Juni 2017. Sampai sekarang belum dibayar,’’ ujar Didit, panggilan akrab Sulistiyadi via ponselnya, kemarin.
Dikatakan dia, atas keterlambatan tersebut pihaknya sudah melayangkan surat dua kali. Surat tersebut tentang pemberitahuan agar pihak ketiga segera melakukan pelunasan. ‘’Sempat ke sini sekali. Dan, pemkab masih menunggu kesediaan pembayaran,’’ tegas dia.
Mantan kabag humas dan media Setda Tuban ini menegaskan, pemkab tetap menunggu jawaban resmi terkait kesediaan membayar dari pihak ketiga tersebut. Dikatakan Didit, dalam perjanjian kontrak, keterlambatan pembayaran tidak dikenakan denda apa pun. ''Keterlambatan pembayaran hanya berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah,'' imbuh mantan camat Tuban itu.
Dikonfirmasi terpisah, Direktur PT Cahya Ananta Hartatik mengatakan, kondisi wisata yang dikelolanya sekarang ini sedang lesu. Pengunjung yang masuk tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan setiap hari. Praktis, hal ini berpengaruh terhadap pemasukan wisata tersebut. ‘’Kita kalah bersaing dengan (wisata, Red) yang gratis di sebelahnya,’’ tegas dia. Wisata dimaksud adalah pantai Cemara.
Kondisi lesunya pemasukan, lanjut Hartatik, berlangsung sekitar lima bulan terakhir. Merasa prospeknya tak sesuai espektasi, sedikitnya enam karyawannya memilih mengundurkan diri. Sementara sejumlah karyawan lain masih bertahan hingga sekarang.
Ditanya rencana pengembangan lebih lanjut, Hartatik memastikan tidak mungkin dilakukan dengan kondisi seperti ini. ‘’Maaf belum bisa mikir karena saya masih repot Idul Adha,’’ jawab dia ketika ditanya lebih detail terkait pengelolaan KPTP.
Editor : Bachtiar Febrianto