Pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) kerap kali menghadapi dilema. Salah satunya adalah membaca, menulis, dan menghitung (calistung) bagi anak didik. Ada yang mewajibkannya, tapi ada juga yang tak mengajarkannya.
Duduk seorang perempuan yang berusia sekitar 29 tahun di luar kelas. Perempuan itu bernama Zubaidah (nama samaran) sedang mendampingi anak perempuannya yang sedang sekolah di salah satu TK di Bojonegoro.
Dia mengamati anaknya sedang belajar sekaligus bermain di dalam kelas. Dia berorientasi agar anaknya bisa calistung usai lulus dari TK. Sebab, bagi dia, TK merupakan tahap untuk belajar calistung.
Bahkan, di rumah pun masih kerap Zubaidah suruh belajar calistung. Dia seperti ibu-ibu lain kebanyakan yang masih menganggap bahwa calistung sebuah keharusan bahkan prasyarat untuk bisa masuk SD. Padahal sebenarnya tidak seperti itu, Zubaidah pun sebenarnya merasa mengikuti arus di kalangan ibu-ibu lainnya.
“Lingkungannya kan anak-anak teman saya perkembangannya cepat bisa calistung, kalau anak saya belum bisa calistung, kan malu,” tuturnya. Rasa-rasanya bagi Zubaidah, rugi bayarnya kalau anak sekolah TK tidak diajarkan calistung.
Adapun kecemasan-kecemasan lain yang dirasakan Zubaidah apabila saat usianya sudah 7 tahun namun belum bisa calistung. Ditakutkan ada keterlambatan perkembangan IQ-nya, sehingga distereotipekan sebagai anak yang kurang cerdas. Padahal pada dasarnya memang perkembangan anak seperti itu, tidak boleh menghabiskan stamina otak di awal-awal.
Terpisah, Kepala PAUD/TK Ar-Ridho Bojonegoro, Ridho Nur Isnani mengungkapkan, bahwa memang sudah menerapkan sistem pembelajaran PAUD/TK yang ramah anak. Banyak orang tua yang menuntut dan protes terhadap pola pengajaran di PAUD/TK Ar-Ridho.
Sebab, Isnani sebagai kepala sekolah sejak dua tahun yang lalu tidak menerapkan pembelajaran calistung. “Kami sedang berproses menuju sekolah yang ramah anak, dulu awal berdiri pada 2012, kami pun ajarkan calistung, bahkan ada PR bagi para peserta didik,” ujarnya.
Lalu, sejak meniadakan pembelajaran calistung di PAUD/TK Ar-Ridho, perempuan usia 24 tahun itu merasakan dampak yang begitu terasa. Sebab, dari yang awalnya ada 42 siswa, lalu berkurang menjadi 33 siswa, dan ajaran tahun ini hanya 16 siswa. “Hanya 16 siswa yang masih percaya dengan sistem kami, itu terdiri dari 1 siswa TK A, 1 siswa TK B, dan 14 siswa PAUD,” ujarnya.
Isnani memang sudah menebak hal tersebut akan terjadi. Karena memang banyak orang tua yang menentang ketika anaknya disekolahkan namun isinya hanya bermain terus-menerus. “Kami hanya berdoa, semoga para orang tua segera sadar bahwa perkembangan anak itu tidak bisa instan dan diseragamkan,” ujar ibu anak satu itu.
Isnani pun mengatakan bahwa PAUD/TK tidak boleh mengajarkan calistung sudah diatur dalam Permendikbud RI Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini dan Permendikbud RI Nomor 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini.
Sehingga aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah sudah jelas, namun masih banyak sekali penyelenggara PAUD/TK yang tidak berani menerapkannya. “Kami memahami mereka pasti ketakutan kehilangan siswa-siswanya, sebab desakan dari orang tua yang memang susah diberi pemahaman,” tuturnya.
Terpisah, guru di salah satu PAUD/TK di seputaran kota, Rini Amalia, mengatakan, bahwa sistemnya memang tetap permainan. Banyak dari orang tua ingin secara eksplisit pembelajaran calistung di kelas.
“Karena saat di rumah, anak-anak itu pasti disuruh belajar lagi sama orang tuanya, apabila belum bisa calistung, tentu mereka akan protes ke sekolah, menganggap sekolah kurang kompeten,” ujarnya. Menjalin kekompakkan dan kesepahaman antara orang tua dan guru PAUD/TK butuh proses yang panjang.
Sementara itu, menanggapi adanya kecemasan orang tua terhadap tes calistung saat masuk SD. Kepala SDN Kadipaten 1 Bojonegoro, Muslikah mengatakan, tidak pernah ada tes calistung saat ingin daftar SD. Namun sekolah favorit sepeti SDN Kadipaten 1 tentu memrioritaskan anak-anak terdekat di wilayah Kelurahan Kadipaten.
“Apabila ada anak Kadipaten dan anak Kalitidu sama-sama daftar ke sini, pasti kami memilih anak asal Kadipaten, walaupun belum bisa calistung,” ujarnya. Saat daftar juga hanya wawancara sederahana saja.
Kembali lagi dari pihak anak yang mau sekolah dan orang tua yang mendampingi apakah siap berkomitmen dengan segala aturan yang ada di SDN Kadipaten 1 Bojonegoro. Muslikah menambahkan, pagu siswa saat ini 28 anak per kelas. Padahal tahun ajaran sekarang ada 106 pendaftar, sehingga dieliminasi berdasarkan kriteria-kriteria yang sudah ditentukan.
“Selain memrioritaskan wilayah, kami pun prioritaskan anak yang memang punya riwayat kakaknya dulu sekolah di sini,” pungkasnya.
Editor : Bachtiar Febrianto