RADARBOJONEGORO.JAWAPSO.COM - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) tidak hanya terjadi saat ini. Pada Juni 2005 silam masyarakat Bojonegoro pernah merasakan kelangkaan BBM jenis minyak tanah.
Beradasarkan arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro 2005 kelangkaan minyak tanah terjadi di beberapa wilayah. Mulai dari Kecamatan Bojonegoro Kota, Kapas, Balen, Sumberrejo, Baureno, Kepohbaru, hinga Kedungaem.
Akibat kelangkaan tersebut, harga minyak tanah naik. Sebelumnya harga per liter hanya Rp 1.200. Kamudian naik menjadi Rp 1.400 per liter.
Harga itu jauh lebih mahal dibandingkan harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah sekitar Rp 925 per liter.
Rosyidi salah satu pedagang di Pasar Sroyo mengatakan, kelangkaan minyak tanah di daerahnya terjadi sudah seminggu. Penyebabnya mendapatkan pasokan yang minim dari Pertamina.
"Jika biasanya seminggu dikirim lima truk tangki yang berisi 5 ribu liter, tapi sekarang seminggu hanya dikirim dua kali, makanya sekali datang langsung habis," katanya.
Sementara itu, di sejumlah pangkalan minyak tanah di Bojonegoro tampak antrean pembeli. Misalnya di salah satu pangkalan yang berada di Jalan KH. Mansyur, Ledok Wetan.
Menurut Lia, salah seorang ibu umah tangga, sejak seminggu terakhir minyak tanah sulit didapatkan.
Kasubdin Usaha Dagang Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bojonegoro Gumantijo memastikan bahwa kesulitan pasokan minyak tanah tersebut bukan disebabkan pasokan dari Pertamina kurang. Namun karena permintaan terhadap minyak tanah meningkat.
"Kalau dari Pertamina tetap, sesuai dengan delivery order (DO) yang ada. Namun, hal itu terjadi karena mamng adanya peningkatan permintaan oleh masyarakat,” ungkapnya kala itu.
Peningkatan permintaan tersebut disebabkan adanya penggunaan minyak tanah untuk subtitusi bahan bakar. Dicontohkan pengoplosan minyak tanah dengan solar bahan bakar mesin disel.
"Selain itu, kenaikan harga minyak tanah ini juga disebabkan kenaikan harga elpiji yang cukup tinggi. Sehingga lebih memilih kembali lagi ke minyak tanah,” jelasnya.
Gumantijo mengaku sudah melaporkan hal itu ke Pertamina maupun kepada bupati Bojonegoro. Dari hasil koordinasi dengan pihak Pertamina, sudah dilakukan langkah untuk mencari solusinya.
Baca Juga: Radar History: Ketika Pertamina Izinkan Warga Jepon Kelola Sumur Minyak Tua Semanggi Pada 2003 Lalu
Seluruh agen yang ada di Bojonegoro dikumpulkan di Pertamina Surabaya untuk mencari solusi terbaik masalah tersebut,” ujarnya.
Bojonegoro yang termasuk dalam rayon 3 terdapat 18 agen dan 213 pangkalan. Namun, dari jumlah agen tersebut tidak seluruhnya berdomisili di Bojonegoro.
Sementara itu, terkait perlunya operasi pasar, Gumantijo mengatakan masih menunggu persetujuan dari Pertamina dan Bupati Bojonegoro.
"Jika disetujui operasi pasar, akan melakukannya,” katanya.
Editor : Hakam Alghivari