BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bojonegoro ternyata masih bergantung oleh minyak dan gas (migas). Bahkan, distribusi produk domestik regional bruto (PDRB) masih didominasi oleh sektor pertambangan dan penggalian hingga 47,54 persen.
Hal itu membuat Kapuaten Bojonegoro perlu menyiapkan sektor selain pertambangan. Terlebih dengan ekonomi secara keseluruhan yang baru tumbuh 1,67 persen, hal itu berdasarkan data dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro pada 3 Maret lalu.
Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa saat mengahidiri serah terima jabatan (sertijab) di Bojonegoro menyampaikan, bahwa memang setiap daerah perlu menyiapkan sektor-sektor selain migas.
Menurutnya, hal tersebut sesuai arahan dari pemerintah pusat. ’’Ada semacam direction dari pemerintah pusat supaya menyiapkan sektor lain, yakni ekonomi kreatif,” terangnya.
Sementara itu, Kepala BPS Bojonegoro Kiki Ferdiana menyampaikan, distribusi persentase PDRB masih didominasi oleh sektor pertambangan sebesar 47,54 persen. Meski pada 2024, kategori pertambangan dan penggalian mengalami konstraksi sebesar -2,01 persen.
’’Besarnya andil pada kategori ini sehingga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Bojonegoro secara menyeluruh,” imbuhnya. Kiki menambahkan, bahwa Kabupaten Bojonegoro mengalami pertumbuhan ekonomi, dengan nilai PDRB atas dasar harga berlaku (adhb) 2024 sebesar Rp 101.794,09 triliun.
Menurutnya, angka tersebut meningkat dari 2023 sebesar Rp 97.971,82 triliun. ’’Pertumbuhan ekonomi Bojonegoro tumbuh sebesar 1,67 persen,” terangnya kemarin (4/3).
Sementara itu, dari data BPS Bojonegoro, pertumbuhan ekonomi nonmigas Bojonegoro tumbuh sebesar 5,15 persen. Dengan nilai PDRB nonmigas adhb tahun 2024 sebesar Rp 53.848,72 triliun, sedangkan pada tahun 2023 sebesar Rp 49.943,08 triliun. (dan/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana