RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) kini semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari membeli kopi, makan di warung, berbelanja di minimarket, hingga membayar berbagai kebutuhan lainnya, semuanya bisa dilakukan hanya dengan memindai kode QR melalui ponsel.
Kemudahan tersebut membuat transaksi menjadi lebih praktis karena masyarakat tidak perlu repot membawa uang tunai atau menunggu uang kembalian. Namun, di balik kepraktisannya, penggunaan QRIS juga bisa membuat seseorang kurang menyadari jumlah uang yang telah dikeluarkan.
Berbeda dengan pembayaran tunai yang membuat seseorang bisa melihat langsung uang berkurang dari dompet, transaksi digital terkadang terasa lebih ringan. Akibatnya, pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali bisa menumpuk dan membuat anggaran bulanan membengkak.
Bukan berarti masyarakat harus menghindari pembayaran digital. Kuncinya adalah tetap bijak dalam mengatur keuangan. Berikut lima tips yang bisa diterapkan agar kebiasaan menggunakan QRIS tidak membuat pengeluaran menjadi tidak terkendali.
1. Bedakan kebutuhan dan keinginan
Sebelum melakukan pembayaran, biasakan bertanya kepada diri sendiri apakah barang yang akan dibeli benar-benar dibutuhkan atau sekadar keinginan sesaat.
Misalnya, membeli kopi atau camilan setiap kali melewati kedai favorit mungkin terlihat sepele. Namun, jika dilakukan hampir setiap hari, pengeluaran tersebut bisa menghabiskan anggaran yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan lain.
Baca Juga: Transaksi Digital RI Tembus 6,11 Miliar, QRIS Makin Kencang
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menekankan pentingnya memahami perbedaan kebutuhan dan keinginan sebagai langkah dasar dalam mengelola keuangan.
2. Tentukan batas pengeluaran harian
Agar tidak kebablasan, buat batas maksimal pengeluaran setiap hari. Anggaran tersebut bisa dibagi berdasarkan kebutuhan, seperti makan, transportasi, belanja, dan hiburan.
Sebagai contoh, jika anggaran jajan dan makan di luar sebesar Rp50 ribu per hari, usahakan tidak melewati batas tersebut meskipun saldo dompet digital masih tersedia.
Cara ini membantu seseorang lebih disiplin dan mengetahui kapan harus berhenti berbelanja.
3. Rutin periksa riwayat transaksi
Jangan hanya mengandalkan notifikasi pembayaran. Luangkan waktu untuk memeriksa riwayat transaksi QRIS melalui aplikasi perbankan atau dompet digital yang digunakan.
Lakukan evaluasi setiap minggu untuk mengetahui berapa banyak uang yang telah dihabiskan. Perhatikan pula transaksi kecil yang sering dilakukan, seperti membeli minuman, memesan makanan, atau berbelanja barang yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan.
Dengan begitu, pengguna bisa mengetahui kebiasaan belanja yang perlu dikurangi.
4. Jangan mudah tergiur promo dan cashback
Diskon, cashback, hingga potongan harga sering menjadi daya tarik tersendiri dalam transaksi digital. Tidak jarang seseorang justru membeli barang yang tidak dibutuhkan hanya karena ingin mendapatkan keuntungan dari promo.
Padahal, membeli barang dengan harga diskon tetap berarti mengeluarkan uang.
Baca Juga: Transaksi Tunai Masih Dominan di Bojonegoro, QRIS Makin Mudah Dijumpai
Manfaatkan promo hanya untuk kebutuhan yang memang sudah direncanakan. Jangan sampai niat berhemat justru membuat pengeluaran semakin besar.
5. Sisihkan uang tabungan sebelum digunakan
Salah satu kebiasaan penting dalam mengelola keuangan adalah menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan sejak awal menerima gaji atau pendapatan.
Jangan menunggu uang tersisa di akhir bulan untuk mulai menabung. Tentukan nominal yang realistis, kemudian pisahkan dari saldo yang digunakan untuk transaksi sehari-hari.
Dengan demikian, uang untuk kebutuhan rutin, transaksi QRIS, dana darurat, dan tabungan tidak tercampur.
Bijak Menggunakan Pembayaran Digital
Kemudahan QRIS merupakan bagian dari perkembangan sistem pembayaran digital yang memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Bank Indonesia menjelaskan bahwa QRIS dirancang agar transaksi menjadi lebih cepat, mudah, murah, aman, dan andal.
Namun, kemudahan bertransaksi tetap perlu diimbangi dengan kedisiplinan mengelola keuangan. Jangan sampai kebiasaan membayar hanya dengan sekali pindai membuat seseorang kehilangan kendali atas pengeluarannya.
Pada akhirnya, bukan metode pembayarannya yang menentukan seseorang menjadi boros, melainkan bagaimana kebiasaan mengatur uang tersebut dilakukan.
Selama memiliki perencanaan keuangan yang jelas, masyarakat tetap bisa menikmati praktisnya QRIS tanpa harus mengorbankan kondisi keuangan di akhir bulan. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko