RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Diet One Meal a Day (OMAD) menjadi salah satu metode penurunan berat badan yang menarik perhatian karena hanya memperbolehkan seseorang makan satu kali sehari. Meski dinilai praktis untuk membatasi asupan kalori, pola makan ekstrem ini memiliki risiko kesehatan yang perlu diperhatikan.
Diet menjadi salah satu cara yang banyak dilakukan untuk menurunkan berat badan. Berbagai metode pun bermunculan, mulai dari mengatur porsi makan hingga menjalani intermittent fasting atau puasa berselang.
Salah satu metode yang cukup ekstrem adalah One Meal a Day (OMAD). Sesuai namanya, metode ini mengharuskan seseorang mengonsumsi makanan hanya satu kali dalam sehari, sedangkan waktu lainnya digunakan untuk berpuasa.
Pola makan ini umumnya merupakan bentuk pembatasan waktu makan yang lebih ketat dibandingkan metode intermittent fasting lainnya. Pelaku OMAD biasanya mengonsumsi seluruh makanan hariannya dalam satu periode makan, sementara asupan kalori selama sisa hari dibatasi.
Metode tersebut kerap dianggap sebagai jalan pintas untuk menurunkan berat badan. Namun, apakah makan satu kali sehari benar-benar lebih efektif dan aman bagi kesehatan?
Baca Juga: Ini Dia 5 Fakta Menarik Manfaat Kimpul, Alternatif Menu Diet Pengganti Nasi
Mengenal Diet OMAD dan Cara Kerjanya
OMAD merupakan singkatan dari One Meal a Day, yaitu pola makan yang membatasi konsumsi makanan menjadi satu kali sehari.
Berbeda dengan pola intermittent fasting yang memberikan jendela makan selama beberapa jam, OMAD biasanya membatasi waktu makan dalam periode yang relatif singkat. Seseorang kemudian berpuasa selama sebagian besar waktu dalam sehari.
Secara teori, pembatasan tersebut dapat membantu mengurangi asupan kalori harian. Ketika jumlah energi yang dikonsumsi lebih rendah daripada energi yang digunakan tubuh, berat badan berpotensi menurun.
Namun, penurunan berat badan tidak semata-mata ditentukan oleh frekuensi makan. Jumlah kalori, kualitas makanan, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, serta konsistensi pola hidup juga berperan penting.
Karena hanya memberikan satu kesempatan makan, OMAD dapat menyulitkan seseorang untuk memenuhi kebutuhan energi, protein, vitamin, mineral, dan zat gizi lainnya dalam jumlah yang memadai.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The BMJ pada 2025 mengevaluasi berbagai metode intermittent fasting dan membandingkannya dengan pembatasan kalori konvensional.
Penelitian berupa tinjauan sistematis dan meta-analisis tersebut mencakup 99 uji klinis acak dengan total 6.582 peserta dewasa.
Hasilnya menunjukkan bahwa berbagai metode intermittent fasting maupun pembatasan kalori dapat membantu menurunkan berat badan dibandingkan pola makan tanpa pembatasan. Namun, ketika dibandingkan dengan pembatasan kalori secara konvensional, hanya metode puasa selang sehari yang menunjukkan keunggulan penurunan berat badan, dengan selisih rata-rata sekitar 1,29 kilogram.
Temuan ini menunjukkan bahwa intermittent fasting tidak otomatis lebih unggul daripada metode diet konvensional. Selain itu, penelitian tersebut mengevaluasi beragam pola puasa, sehingga hasilnya tidak dapat langsung dianggap sebagai bukti bahwa OMAD memberikan manfaat yang sama.
Baca Juga: Rekomendasi Menu Diet yang Enak dan Praktis, Tetap Nikmat Tanpa Takut Kalori Berlebih
Penelitian tersebut juga menunjukkan pentingnya mempertimbangkan efektivitas dan keamanan diet berdasarkan bukti ilmiah, bukan sekadar popularitasnya.
Sumber: The BMJ, 2025, “Intermittent fasting strategies and their effects on body weight and other cardiometabolic risk factors: systematic review and network meta-analysis of randomised clinical trials.”
Ahli Gizi Mengingatkan Risiko Diet OMAD
Ahli Gizi IPB University, Prof. Sri Anna Marliyati, mengingatkan bahwa diet OMAD tidak cocok untuk semua orang dan perlu dilakukan dengan hati-hati.
Dalam publikasi IPB University pada Januari 2026, OMAD dijelaskan sebagai bentuk intermittent fasting ekstrem yang berisiko menimbulkan gangguan kesehatan apabila dilakukan tanpa persiapan dan pemahaman yang tepat.
Pola makan yang terlalu ketat dapat membuat seseorang kesulitan memenuhi kebutuhan zat gizi hariannya. Risiko tersebut menjadi perhatian, terutama bagi pemula yang langsung menerapkan pembatasan makan tanpa mempertimbangkan kondisi tubuh.
Risiko Diet OMAD yang Perlu Diperhatikan
Meskipun berpotensi membantu mengurangi asupan kalori, pola makan satu kali sehari dapat menimbulkan sejumlah masalah apabila tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh.
1. Tubuh mudah lemas dan sulit berkonsentrasi
Jeda makan yang panjang dapat membuat sebagian orang mengalami rasa lapar berlebihan, kelelahan, sakit kepala, atau kesulitan berkonsentrasi.
Gejala tersebut dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama bagi orang yang memiliki pekerjaan dengan tuntutan fisik tinggi.
2. Risiko kekurangan zat gizi
Mengonsumsi seluruh kebutuhan gizi dalam satu kali makan bukanlah hal yang mudah.
Baca Juga: Rahasia Diet Mediterania yang Terbukti Berdasarkan Sains Efektif Menurunkan Berat Badan
Jika menu yang dikonsumsi tidak mencukupi kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral, seseorang berisiko mengalami kekurangan zat gizi. Dalam jangka panjang, asupan yang tidak memadai dapat mengganggu pemeliharaan massa otot dan kesehatan tubuh.
3. Memicu makan berlebihan
Menahan lapar selama sebagian besar hari dapat membuat seseorang sangat lapar ketika waktu makan tiba.
Sebagian orang kemudian mengonsumsi makanan dalam jumlah besar atau memilih makanan tinggi kalori untuk mengatasi rasa lapar. Kebiasaan tersebut dapat menyulitkan pengaturan asupan energi dan membuat pola diet sulit dipertahankan.
4. Berpotensi mengganggu pengaturan gula darah
Puasa panjang perlu mendapat perhatian khusus bagi orang yang memiliki gangguan pengaturan gula darah atau menggunakan obat diabetes tertentu.
Perubahan waktu dan jumlah asupan makanan dapat meningkatkan risiko hipoglikemia atau gula darah terlalu rendah, terutama pada pengguna insulin dan obat-obatan tertentu.
Karena itu, penderita diabetes tidak sebaiknya menjalani OMAD tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis.
5. Belum cukup bukti mengenai keamanan jangka panjang OMAD
Penelitian tentang intermittent fasting secara umum terus berkembang. Namun, hasil penelitian berbagai metode puasa tidak selalu dapat diterapkan langsung pada OMAD.
Bukti khusus mengenai efektivitas dan keamanan OMAD dalam jangka panjang masih terbatas. Oleh karena itu, penurunan berat badan yang cepat tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan diet.
Siapa yang Sebaiknya Menghindari Diet OMAD?
Diet dengan pembatasan makan ekstrem tidak dianjurkan untuk semua kelompok.
Anak-anak dan remaja yang masih dalam masa pertumbuhan, ibu hamil, ibu menyusui, serta orang dengan riwayat gangguan makan perlu menghindari pola diet ekstrem tanpa arahan profesional.
Orang yang memiliki penyakit tertentu, termasuk diabetes, atau menggunakan obat yang harus disesuaikan dengan waktu makan juga perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum mencoba metode puasa.
Bagi orang yang ingin menurunkan berat badan, pendekatan yang lebih aman adalah menyesuaikan asupan energi dengan kebutuhan tubuh, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, melakukan aktivitas fisik secara teratur, dan menjaga kualitas tidur. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko