Mengapa Orang Kaya dan Penganut Gaya “Old Money” Sering Memilih Jas Italia?

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 22:00 WIB
Foto Vincenzo. Dari cara duduk ungkap kepribadian seseorang.
Foto Vincenzo. Dari cara duduk ungkap kepribadian seseorang.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM — Ada satu paradoks dalam cara sebagian pria kelas atas berpakaian. Semakin mahal pakaian yang dikenakan, semakin kecil kemungkinan pakaian itu terlihat mencolok.

Alih-alih logo besar atau motif yang mudah dikenali, pilihan mereka sering kali justru sederhana: kemeja putih, celana panjang dengan potongan rapi, loafers, dan jas berwarna netral.

Namun, jika diperhatikan lebih dekat, kualitasnya terlihat dari detail.

Salah satu tradisi yang banyak dikaitkan dengan estetika tersebut adalah Italian tailoring, atau tradisi penjahitan jas Italia.

Baca Juga: 5 Mobil SUV yang Kelihatan Kalem tapi Harganya Miliaran, Identik dengan Gaya Old Money

Pertanyaannya, mengapa jas Italia begitu dekat dengan citra pria kaya dan gaya old money?

Jawabannya tidak semata-mata karena jas Italia mahal.

Ada sejarah, keterampilan menjahit, kualitas kain, hingga cara pandang terhadap kemewahan yang membuat tailoring Italia memiliki tempat khusus dalam dunia menswear.

Baca Juga: 7 Transformasi Pola Pikir atau Mindset Miliarder: Membedah Cara Orang Kaya Memandang Uang, Waktu, dan Kegagalan

Bukan Soal Harga

Dalam dunia pakaian pria kelas atas, harga bukan satu-satunya ukuran.

Ada istilah craftsmanship, yakni kualitas pengerjaan yang terlihat dari bagaimana sebuah pakaian dibuat.

Pada jas, kualitas tersebut dapat terlihat dari banyak hal, mulai dari konstruksi bahu, bentuk kerah, jatuhnya kain, proporsi lengan dan badan, hingga bagaimana pakaian mengikuti bentuk tubuh pemakainya.

Tradisi tailoring Italia berkembang dengan karakter yang berbeda-beda di sejumlah kota.

Naples, misalnya, dikenal dengan karakter tailoring yang lebih ringan dan soft shoulder. Gaya tersebut menghasilkan jas yang lebih fleksibel dan tidak terlalu kaku dibandingkan konstruksi jas tradisional yang sangat terstruktur. Vogue mencatat karakter tailoring Neapolitan yang ringan dan tidak membatasi gerakan sebagai salah satu ciri khasnya. 

Baca Juga: Orang Kaya yang Sebenarnya Justru Lebih Suka Tampil Sederhana, Psikologi Ungkap Alasannya: Old Money vs OKB

Karakter tersebut membuat jas tetap terlihat formal, tetapi terasa lebih santai ketika dikenakan.

Di sinilah salah satu daya tarik tailoring Italia muncul.

Jas tidak hanya dirancang agar terlihat bagus, tetapi juga agar nyaman digunakan.

Mengapa Jas Italia Terlihat Elegan Tanpa Berlebihan?

Salah satu ciri yang membuat tailoring Italia menarik adalah kemampuannya menggabungkan formalitas dengan kesan santai.

Jas tidak selalu dibuat dengan bahu yang kaku atau konstruksi yang berat.

Baca Juga: Cara Orang Kaya Menyikapi Utang Ternyata Berbeda, Menurut Psikologi

Dalam tradisi Neapolitan, misalnya, jaket dapat dibuat ringan, lembut, dan mengikuti pergerakan tubuh. Gaya seperti ini kemudian menjadi salah satu karakter yang membedakan tailoring Italia dari tradisi tailoring Inggris yang secara historis lebih terstruktur.

Akibatnya, sebuah jas Italia dapat dikenakan dalam berbagai situasi.

Dengan kemeja putih, tampil formal.

Dengan kemeja linen dan loafers, tampil lebih santai.

Bahkan dalam gaya kontemporer, jas dapat dipadukan dengan polo shirt atau knitwear tanpa kehilangan kesan elegannya.

Kemampuan untuk terlihat rapi tanpa tampak terlalu berusaha inilah yang membuat tailoring Italia relevan dengan estetika quiet luxury.

Ketika Logo Tidak Lagi Menjadi Hal Utama

Ada perbedaan antara menunjukkan status dan menunjukkan selera.

Logo besar dapat menjadi penanda status yang mudah dikenali. Orang tidak perlu memahami fashion untuk mengetahui bahwa sebuah produk berasal dari rumah mode tertentu.

Tailoring bekerja dengan cara berbeda.

Sebuah jas berwarna navy mungkin terlihat biasa saja bagi orang yang tidak terbiasa memperhatikan pakaian.

Namun bagi orang yang memahami tailoring, detail seperti bentuk bahu, konstruksi dada, posisi kancing, kerah, panjang jaket, hingga jatuhnya celana dapat memberikan informasi yang jauh lebih banyak.

Karena itu, kemewahan dalam tailoring sering kali bersifat subtil.

Tidak harus langsung terlihat mahal.

Cukup terasa berbeda ketika dikenakan.

Italia dan Tradisi Kain Berkualitas

Selain tradisi menjahit, Italia juga memiliki sejarah panjang dalam industri tekstil.

Ermenegildo Zegna, misalnya, memulai pabrik wolnya di Trivero, Italia, pada 1910. Perusahaan tersebut kemudian berkembang dari produsen kain menjadi salah satu nama besar dalam luxury menswear.

Begitu pula Loro Piana yang memiliki sejarah keluarga dalam perdagangan kain wol sejak abad ke-19 sebelum berkembang menjadi produsen material mewah dan kemudian pakaian jadi.

Kain menjadi bagian penting dari pengalaman menggunakan jas.

Wol berkualitas tinggi, linen, cashmere, atau campuran serat tertentu dapat memberikan karakter berbeda pada sebuah pakaian—baik dari sisi tekstur, kenyamanan, maupun bagaimana kain tersebut jatuh ketika digunakan.

Linen, misalnya, dikenal ringan dan memiliki kemampuan bernapas yang baik sehingga cocok untuk iklim panas. Zegna juga mencatat karakter linen yang ringan, lembut, dan breathable.

Bagi pria yang tinggal di negara tropis seperti Indonesia, aspek tersebut tentu bukan sekadar persoalan estetika.

Bahan yang tepat dapat menentukan apakah pakaian formal terasa nyaman atau justru menyiksa.

“Old Money” Tidak Berarti Harus Memakai Jas Italia

Meski jas Italia sering dikaitkan dengan gaya old money, ada satu hal yang perlu diluruskan.

Tidak ada formula tunggal mengenai bagaimana orang kaya atau keluarga lama harus berpakaian.

Tradisi British tailoring, misalnya, memiliki sejarah yang sama kuatnya. Gaya Inggris secara umum dikenal dengan konstruksi yang lebih terstruktur, sementara tradisi Italia menawarkan pendekatan yang lebih ringan dan relaxed.

Keduanya mempunyai bahasa sartorial masing-masing.

Karena itu, istilah old money style yang banyak digunakan di media sosial sebenarnya merupakan penyederhanaan dari tradisi berpakaian yang jauh lebih kompleks.

Apa yang sekarang disebut old money aesthetic sering kali mencampurkan berbagai elemen dari tradisi Eropa: tailoring Inggris, tailoring Italia, pakaian resort, knitwear klasik, hingga gaya preppy Amerika.

Dengan kata lain, orang yang mengenakan jas Italia belum tentu “old money”, dan orang yang berasal dari keluarga lama belum tentu memakai jas Italia.

Yang Dicari Bukan Sekadar Jas Mahal

Lalu, apa yang sebenarnya membuat jas Italia menarik bagi konsumen kelas atas?

Salah satunya adalah gagasan bahwa kualitas tidak selalu harus terlihat mencolok.

Sebuah jas dapat memiliki kain yang sangat baik, konstruksi yang rumit, serta pengerjaan yang membutuhkan keterampilan tinggi, tetapi tetap terlihat sederhana.

Justru kesederhanaan tersebut yang menjadi bagian dari daya tariknya.

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia luxury semakin banyak membicarakan konsep quiet luxury: gaya yang menekankan kualitas material, craftsmanship, desain yang relatif timeless, dan minimnya penggunaan logo sebagai pusat perhatian.

Namun, konsep ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.

Tailoring klasik sudah mengenal prinsip tersebut jauh sebelum istilah quiet luxury populer. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
jas italia tailoring italia old money orang kaya sejarah