RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kemampuan mengambil keputusan tidak muncul begitu saja ketika anak beranjak dewasa. Keterampilan tersebut berkembang melalui pengalaman sehari-hari, termasuk ketika anak diberi kesempatan memilih, mencoba, menghadapi kesalahan, dan memahami konsekuensi dari pilihannya.
Karena itu, kebiasaan orang tua dalam menentukan banyak hal untuk anak dapat memengaruhi proses tersebut. Niat awalnya mungkin untuk membantu atau melindungi anak, tetapi pola yang terlalu mengatur dapat membuat anak semakin bergantung pada keputusan orang lain.
Penelitian tentang pola asuh menunjukkan bahwa dukungan terhadap otonomi anak berkaitan dengan kesejahteraan yang lebih baik. Sebaliknya, kontrol psikologis yang terlalu kuat berkaitan dengan berbagai dampak negatif pada perkembangan anak dan remaja. Temuan tersebut terlihat dalam meta-analisis yang mencakup 238 studi dengan lebih dari 126 ribu partisipan.
Baca Juga: Jangan Hanya Menuntut Anak, Ini 8 Cara Orang Tua Mendukung Potensi dan Bakatnya
Ada beberapa kebiasaan orang tua yang perlu diperhatikan.
1. Terlalu Sering Memilihkan untuk Anak
Orang tua memang perlu menentukan banyak hal ketika anak masih kecil. Namun, seiring bertambahnya usia, anak membutuhkan ruang untuk mulai mengambil keputusan sesuai tahap perkembangannya.
Jika hampir semua pilihan ditentukan orang tua, kesempatan anak untuk berlatih mempertimbangkan pilihan menjadi lebih sedikit. Anak akhirnya terbiasa mengikuti keputusan yang sudah dibuat orang lain daripada membangun pertimbangan sendiri.
Memberikan pilihan sederhana yang sesuai usia dapat menjadi cara untuk melatih kemampuan tersebut tanpa membuat anak harus menghadapi keputusan yang terlalu berat.
Baca Juga: Yang Bisa Dilakukan Orang Tua Pekerja agar Anak Tidak Merasa Ditinggalkan
2. Cepat Mengoreksi Pilihan Anak
Kebiasaan langsung membenarkan atau mengganti pilihan anak juga dapat membuat proses belajar mengambil keputusan menjadi kurang optimal.
Anak membutuhkan kesempatan untuk mengetahui bahwa tidak semua pilihan harus menghasilkan keputusan yang sempurna. Dalam situasi yang aman dan risikonya kecil, kesalahan dapat menjadi bagian dari proses belajar.
Orang tua tetap dapat memberikan arahan, terutama ketika pilihan anak berkaitan dengan keselamatan atau konsekuensi besar. Namun, untuk keputusan sehari-hari, ruang untuk mempertimbangkan dan memilih sendiri tetap diperlukan.
3. Selalu Mencegah Anak Mengalami Kesulitan
Keinginan melindungi anak dapat membuat orang tua terlalu cepat membantu. Ketika anak menghadapi kesulitan, orang tua langsung menyelesaikan persoalan sebelum anak memiliki kesempatan mencoba.
Pola tersebut dapat mengurangi pengalaman anak dalam memecahkan masalah secara mandiri. Padahal, kemampuan mengambil keputusan berkaitan dengan kesempatan untuk mempertimbangkan pilihan dan memahami kemampuan diri.
Dalam konteks pengasuhan, dukungan terhadap otonomi bukan berarti membiarkan anak tanpa batas. Orang tua tetap memberikan struktur dan pendampingan, tetapi tidak mengambil alih seluruh proses yang sebenarnya masih mampu dilakukan anak.
Baca Juga: Ingin Anak Laki-Laki Tumbuh Jadi Pria Baik? Tanamkan 7 Kebiasaan Ini Sejak Kecil
4. Terlalu Menekankan Kesalahan
Reaksi orang tua setelah anak mengambil keputusan juga menentukan bagaimana anak memandang proses memilih.
Ketika kesalahan selalu mendapatkan teguran berlebihan, anak dapat menjadi lebih berhati-hati terhadap keputusan berikutnya. Fokusnya bukan lagi pada mencari pilihan yang paling sesuai, melainkan menghindari kemungkinan mendapat reaksi negatif.
Pola seperti ini berbeda dengan memberikan batasan atau konsekuensi yang wajar. Anak tetap perlu belajar bahwa setiap keputusan memiliki akibat, tetapi proses tersebut sebaiknya menjadi kesempatan untuk memahami kesalahan dan memperbaikinya.
Baca Juga: Warga Ditangkap karena Mengambil Kayu Dua Batang di Hutan, Istri Sulit Memenuhi Kebutuhan Ekonomi
5. Mengambil Alih Keputusan yang Seharusnya Mulai Diberikan kepada Anak
Seiring bertambahnya usia, jenis keputusan yang dapat diberikan kepada anak juga perlu berkembang.
Orang tua yang terus mengambil alih keputusan meskipun anak sudah mampu mempertimbangkannya dapat membuat kesempatan untuk mengembangkan kemandirian menjadi terbatas.
Penelitian mengenai pola pengasuhan dan perkembangan otonomi menunjukkan bahwa dukungan orang tua terhadap kemampuan anak menentukan arah dirinya memiliki kaitan dengan perkembangan yang lebih positif.
Hal ini bukan berarti orang tua harus membebaskan anak menentukan segala sesuatu. Anak tetap membutuhkan aturan, batasan, dan arahan. Perbedaannya terletak pada bagian mana yang memang harus ditentukan orang tua dan bagian mana yang dapat mulai dipercayakan kepada anak.
Melatih Anak Berani Mengambil Keputusan
Membantu anak menjadi pengambil keputusan yang lebih percaya diri tidak berarti membiarkannya menghadapi semua persoalan sendiri.
Orang tua dapat mulai dari keputusan yang sederhana dan sesuai usia. Setelah anak menentukan pilihan, orang tua dapat membantu membahas alasan di balik pilihan tersebut, termasuk ketika hasilnya tidak sesuai harapan.
Baca Juga: Mitos atau Fakta? Sering Masturbasi Bikin Otak Tidak Fokus dan Mudah Lupa
Pendekatan seperti ini memberi anak pengalaman bahwa keputusan tidak selalu harus sempurna. Yang penting, anak belajar mempertimbangkan pilihan, bertanggung jawab terhadap hasilnya, dan memperbaiki keputusan ketika diperlukan.
Pada akhirnya, kemandirian anak tidak dibentuk dengan mengurangi peran orang tua secara tiba-tiba. Kemandirian tumbuh ketika orang tua secara bertahap memberikan ruang, tetap menyediakan batasan, dan membiarkan anak memiliki pengalaman dalam menentukan pilihan sendiri. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari