RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kemampuan seorang anak mengambil keputusan tidak muncul begitu saja ketika beranjak dewasa.
Keterampilan mengambil keputusan berkembang secara bertahap sejak masa kanak-kanak, termasuk melalui kesempatan untuk menentukan pilihan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam banyak keluarga, orang tua tanpa sadar lebih sering mengambil alih keputusan karena dianggap lebih cepat, lebih aman, atau lebih mudah. Padahal, anak juga membutuhkan ruang untuk belajar menentukan pilihan sesuai usia dan kemampuannya.
Baca Juga: Anak Lebih Sering Bertanya kepada Ayah atau Ibu? Kebiasaan Ini Bisa Menggambarkan Pola Komunikasinya
Penelitian mengenai perkembangan otonomi menunjukkan bahwa kemampuan mengambil keputusan meningkat secara bertahap sepanjang masa kanak-kanak dan remaja.
Tujuannya bukan membuat anak selalu mengambil keputusan sendiri. Yang perlu dibangun adalah kemampuan mempertimbangkan pilihan, memahami konsekuensi, meminta pertimbangan ketika diperlukan, kemudian bertanggung jawab terhadap keputusan yang dibuat.
1. Berikan Pilihan yang Sesuai Usia
Latihan mengambil keputusan dapat dimulai dari pilihan sederhana yang memiliki risiko rendah. Orang tua dapat memberikan beberapa alternatif yang memang masih berada dalam batas yang dianggap aman dan sesuai kebutuhan anak.
Cara ini membuat anak memiliki ruang untuk menentukan preferensi tanpa harus menghadapi terlalu banyak pilihan. Seiring bertambahnya usia dan kemampuan berpikir, ruang tersebut dapat diperluas secara bertahap.
Baca Juga: 7 Cara Membesarkan Anak agar Berani Mengungkapkan Perasaan
Penelitian mengenai perkembangan otonomi menunjukkan bahwa keputusan anak memang berbeda menurut usia dan jenis keputusan. Artinya, tingkat kebebasan yang diberikan orang tua sebaiknya tidak disamaratakan untuk semua situasi.
2. Jangan Langsung Mengambil Alih Saat Anak Ragu
Keraguan ketika memilih tidak selalu berarti anak tidak mampu mengambil keputusan. Dalam proses belajar, anak memang membutuhkan waktu untuk membandingkan pilihan dan memahami apa yang menjadi pertimbangannya.
Ketika anak terlihat bimbang, orang tua dapat membantu dengan mengarahkan proses berpikir tanpa langsung menentukan jawabannya. Pendekatan seperti ini memberi kesempatan kepada anak untuk belajar menyusun pertimbangan sendiri, sekaligus mengetahui bahwa meminta bantuan bukan berarti kehilangan kemandirian.
3. Ajarkan Memikirkan Konsekuensi
Anak juga perlu memahami bahwa setiap pilihan memiliki akibat. Namun, penjelasan tersebut sebaiknya disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak dan tidak berubah menjadi ceramah panjang.
Untuk keputusan sederhana, orang tua dapat membantu anak melihat perbedaan antara beberapa pilihan dan memperkirakan apa yang mungkin terjadi setelahnya. Dari proses tersebut, anak secara bertahap belajar bahwa mengambil keputusan bukan hanya soal memilih sesuatu yang paling disukai.
Baca Juga: 7 Kesalahan Orang Tua yang Sering Dilakukan Saat Membesarkan Anak
4. Biarkan Anak Mengalami Kesalahan yang Aman
Tidak semua keputusan anak akan menghasilkan pilihan terbaik. Selama konsekuensinya ringan dan tidak membahayakan, pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari proses belajar.
Orang tua tidak harus selalu memperbaiki keputusan anak sebelum anak merasakan hasilnya. Setelah itu, orang tua dapat membantu mengevaluasi apa yang terjadi tanpa mempermalukan atau menyalahkan anak.
Kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan memang menjadi bagian dari proses perkembangan otonomi. Dalam konteks tertentu, pengambilan keputusan bersama antara anak dan orang tua bahkan dipandang sebagai tahap yang mendukung perkembangan menuju kemandirian.
Baca Juga: 8 Tips Memberikan Makanan kepada Anak agar Mendukung Pertumbuhan Tinggi Badan
5. Jangan Samakan Mandiri dengan Selalu Memilih Sendiri
Kemandirian bukan berarti anak harus mampu menyelesaikan semua persoalan tanpa bantuan orang tua. Justru, kemampuan mengetahui kapan harus meminta pertimbangan juga merupakan bagian dari pengambilan keputusan yang matang.
Meta-analysis terhadap 238 studi dengan lebih dari 126 ribu partisipan menemukan bahwa pola pengasuhan yang mendukung otonomi berkaitan dengan kesejahteraan anak, sementara kontrol psikologis berkaitan dengan berbagai indikator ketidakberfungsian. Hubungan tersebut tetap terlihat pada berbagai kelompok budaya dan tahap perkembangan.
Karena itu, orang tua dapat tetap memberikan batas sekaligus menyediakan ruang bagi anak untuk memiliki suara dalam keputusan yang memang sesuai untuknya.
6. Jangan Menganggap Mengubah Pilihan sebagai Kegagalan
Anak juga perlu memahami bahwa keputusan dapat dievaluasi kembali ketika muncul informasi baru. Mengubah pilihan setelah menemukan alasan yang lebih baik tidak sama dengan tidak memiliki pendirian.
Yang perlu dilatih adalah kemampuan menjelaskan alasan di balik perubahan tersebut. Dengan begitu, anak belajar bahwa mengambil keputusan bukan sekadar berani memilih, tetapi juga mampu menilai kembali apakah pilihannya masih sesuai dengan keadaan.
7. Perluas Tanggung Jawab Secara Bertahap
Seiring bertambahnya usia, keputusan yang dapat dipercayakan kepada anak juga dapat berkembang. Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa otonomi dalam pengambilan keputusan meningkat sepanjang masa kanak-kanak dan remaja, meski perkembangannya tidak sama untuk setiap jenis keputusan.
Karena itu, orang tua tidak perlu menunggu anak beranjak dewasa untuk mulai melatih kemandirian. Keputusan kecil yang diberikan secara bertahap dapat menjadi latihan untuk menghadapi keputusan yang lebih kompleks pada tahap berikutnya.
Pada akhirnya, anak yang mandiri bukanlah anak yang selalu yakin dan tidak pernah membutuhkan bantuan. Kemandirian lebih dekat dengan kemampuan memahami pilihan, mempertimbangkan konsekuensi, meminta bantuan ketika diperlukan, serta belajar dari keputusan yang pernah dibuat.
Memberikan ruang untuk memilih sejak kecil dapat menjadi salah satu cara orang tua mempersiapkan anak menghadapi keputusan yang lebih besar ketika dewasa, tanpa harus melepaskan peran orang tua sebagai pendamping dan pemberi batas. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari