RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Seorang anak tidak selalu menjadikan ayah dan ibu sebagai tempat bertanya dengan porsi yang sama.
Terkadang, anak yang lebih sering mencari jawaban kepada ibu, sementara anak lainnya justru terbiasa mengandalkan ayah ketika ingin mengetahui sesuatu.
Perbedaan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa anak lebih menyayangi salah satu orang tua. Namun, kebiasaan itu dapat memberikan gambaran mengenai pola komunikasi yang terbentuk di dalam keluarga, termasuk bagaimana anak menilai respons orang tua ketika mereka membutuhkan informasi, bantuan, atau sekadar ingin berdiskusi.
Baca Juga: 5 Peran Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak Perempuan, Mengapa Begitu Penting?
Anak Cenderung Mencari Orang yang Responsif
Dalam psikologi perkembangan, respons orang tua menjadi salah satu bagian penting dalam kualitas interaksi dengan anak.
Responsivitas tidak hanya berarti memberikan jawaban, tetapi juga kemampuan orang tua memperhatikan sinyal anak, memahami maksudnya, kemudian memberikan tanggapan yang sesuai.
Kajian sistematis yang diterbitkan pada 2025 menunjukkan bahwa responsivitas orang tua mencakup berbagai bentuk, antara lain respons verbal, sensitivitas terhadap sinyal anak, ketepatan waktu merespons, serta kualitas interaksi antara orang tua dan anak. Pola tersebut berkaitan dengan berbagai aspek perkembangan anak.
Pengalaman komunikasi yang berulang kemudian dapat memengaruhi kebiasaan anak ketika membutuhkan sesuatu.
Jika seorang anak terbiasa mendapatkan perhatian dan tanggapan ketika berbicara dengan salah satu orang tua, ia dapat lebih sering mendatangi orang tersebut pada kesempatan berikutnya.
Baca Juga: Tips Menjadi Ayah yang Bijak untuk Anak Laki-Laki, Bangun Karakter Tangguh Sejak Dini
Bukan Berarti Anak Lebih Sayang
Di sinilah kebiasaan anak bertanya kepada ayah atau ibu perlu dibaca secara hati-hati. Orang tua yang lebih sering ditanya belum tentu merupakan orang tua yang lebih disukai anak secara emosional.
Pilihan tersebut dapat dipengaruhi oleh konteks. Anak mungkin lebih sering bertanya kepada ibu karena ibu lebih banyak mendampingi aktivitas sehari-hari.
Pada situasi berbeda, ayah bisa menjadi tempat bertanya karena memiliki pengalaman atau pengetahuan yang dianggap sesuai dengan hal yang ingin diketahui anak.
Karena itu, frekuensi pertanyaan saja tidak cukup untuk menentukan kedekatan anak dengan salah satu orang tua. Hubungan tersebut terbentuk dari banyak aspek, mulai dari waktu bersama, kualitas interaksi, dukungan emosional, hingga pengalaman anak ketika membutuhkan bantuan.
Respons Orang Tua Ikut Membentuk Pola Komunikasi
Cara orang tua menanggapi pertanyaan juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Respons yang memberikan ruang bagi anak untuk melanjutkan pembicaraan dapat membuat interaksi berkembang menjadi percakapan yang lebih panjang dan memberi kesempatan bagi anak untuk belajar.
Baca Juga: 7 Cara Membesarkan Anak agar Berani Mengungkapkan Perasaan
Sebuah systematic review dan meta-analysis terhadap 25 penelitian yang melibatkan 804 pasangan orang tua-anak menemukan hubungan antara respons verbal orang tua dan kemampuan komunikasi anak. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya kualitas respons orang tua dalam lingkungan komunikasi anak.
Penelitian lain yang diterbitkan Pediatrics juga menemukan hubungan antara pengasuhan yang sensitif dan responsif dengan kemampuan bahasa anak. Namun, temuan semacam ini menunjukkan hubungan antarfaktor dan tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa satu respons tertentu secara langsung menyebabkan kemampuan bahasa anak menjadi lebih baik.
Ayah dan Ibu Bisa Memiliki Peran Berbeda
Dalam kehidupan sehari-hari, anak juga dapat membentuk pola komunikasi yang berbeda dengan ayah dan ibu. Perbedaan itu tidak selalu menunjukkan adanya masalah dalam hubungan keluarga, selama anak tetap memiliki kesempatan berkomunikasi secara terbuka dengan keduanya.
Ayah mungkin lebih sering menjadi tempat anak membicarakan aktivitas tertentu, sedangkan ibu lebih sering menjadi tempat anak menyampaikan pengalaman sehari-hari. Pola tersebut dapat muncul dari pembagian aktivitas, kebiasaan keluarga, minat orang tua, maupun pengalaman interaksi yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah anak merasa aman untuk menyampaikan pertanyaan dan pendapat kepada kedua orang tua. Ketika hanya satu orang tua yang selalu menjadi tempat bertanya, kondisi tersebut dapat menjadi kesempatan bagi orang tua lainnya untuk membangun pola komunikasi yang lebih aktif.
Baca Juga: 6 Rahasia Membesarkan Anak Laki-Laki yang Percaya Diri Sekaligus Berempati
Jangan Jadikan Kebiasaan Ini sebagai Persaingan
Anak yang lebih sering bertanya kepada ibu tidak otomatis berarti lebih dekat dengan ibu. Begitu pula anak yang lebih banyak mencari jawaban kepada ayah tidak otomatis menunjukkan bahwa ayah merupakan orang tua favoritnya.
Orang tua sebaiknya melihat kebiasaan tersebut sebagai petunjuk kecil untuk memahami dinamika komunikasi di rumah. Alih-alih mempermasalahkan siapa yang paling sering ditanya, perhatian dapat diarahkan pada bagaimana masing-masing orang tua merespons rasa ingin tahu anak.
Pada akhirnya, pertanyaan anak bukan hanya bagian dari proses memperoleh informasi. Interaksi tersebut juga menjadi kesempatan bagi orang tua untuk menunjukkan bahwa anak didengar, dihargai, dan memiliki ruang untuk menyampaikan rasa ingin tahunya.
Jadi, ketika anak lebih sering bertanya kepada ayah atau ibu, tidak perlu buru-buru mengartikannya sebagai tanda pilih kasih. Bisa jadi, anak hanya sedang mencari orang yang menurut pengalamannya paling siap mendengarkan dan memberikan respons. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari