7 Kesalahan Orang Tua yang Sering Dilakukan Saat Membesarkan Anak

Farhan Reza Ardiansyah • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 18:15 WIB
Ilustrasi anak laki-laki. (MAGNIFIC)
Ilustrasi anak laki-laki. (MAGNIFIC)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM — Membesarkan anak merupakan perjalanan panjang yang penuh tantangan. Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik agar anak tumbuh menjadi pribadi yang bahagia, mandiri, dan percaya diri. Namun, tanpa disadari, ada beberapa kebiasaan yang justru dapat memengaruhi perkembangan anak, baik secara emosional maupun sosial.

Kesalahan dalam pola asuh bukan berarti orang tua gagal, melainkan menjadi bagian dari proses belajar bersama anak. Dengan memahami hal-hal yang perlu dihindari, orang tua dapat membangun hubungan yang lebih sehat dan positif dengan buah hati.

1. Terlalu Sering Membandingkan Anak

Membandingkan anak dengan saudara, teman, atau anak lain dapat menurunkan rasa percaya diri mereka. Kalimat seperti, “Kenapa tidak bisa seperti kakak?” atau “Lihat temanmu, nilainya lebih bagus,” dapat membuat anak merasa tidak cukup baik.

Setiap anak memiliki kemampuan, minat, dan kecepatan belajar yang berbeda. Fokuslah pada perkembangan anak dibandingkan dengan pencapaian dirinya di masa lalu, bukan dengan orang lain.

2. Terlalu Melindungi Anak

Keinginan melindungi anak adalah hal yang wajar. Namun, jika orang tua terlalu sering membantu atau melarang anak mencoba hal baru karena takut gagal, anak bisa kesulitan belajar mandiri.

Baca Juga: 7 Cara Membesarkan Anak Laki-Laki agar Tumbuh Percaya Diri dan Tidak Bingung dengan Dirinya

Biarkan anak menghadapi tantangan sesuai usianya, seperti merapikan mainan, memilih pakaian, atau menyelesaikan masalah kecil sendiri. Pengalaman ini membantu membangun rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri.

3. Kurang Mendengarkan Perasaan Anak

Kesibukan sering membuat orang tua hanya fokus pada perilaku anak tanpa memahami apa yang dirasakannya. Padahal, mendengarkan cerita dan emosi anak sangat penting untuk membangun kedekatan.

Saat anak marah, sedih, atau kecewa, cobalah mendengarkan tanpa langsung menghakimi atau menyalahkan. Anak yang merasa didengar biasanya lebih terbuka kepada orang tua.

4. Terlalu Banyak Melarang Tanpa Penjelasan

Larangan yang diberikan tanpa alasan dapat membuat anak bingung atau justru memberontak. Misalnya, hanya mengatakan “Jangan!” tanpa menjelaskan alasannya.

Berikan penjelasan sederhana sesuai usia anak agar mereka memahami konsekuensi dari suatu tindakan. Cara ini juga membantu anak belajar berpikir dan membuat keputusan yang lebih baik.

5. Menuntut Anak Selalu Sempurna

Harapan yang terlalu tinggi dapat membuat anak merasa tertekan. Anak perlu memahami bahwa melakukan kesalahan adalah bagian dari proses belajar.

Berikan apresiasi pada usaha dan proses yang dilakukan anak, bukan hanya hasil akhirnya. Dengan begitu, anak akan lebih berani mencoba dan tidak takut gagal.

6. Terlalu Sering Menggunakan Gadget Sebagai Pengalihan

Memberikan gadget untuk menenangkan anak memang terasa praktis, tetapi jika dilakukan terlalu sering, anak dapat menjadi kurang terlatih dalam mengelola emosi dan berinteraksi secara langsung.

Baca Juga: 8 Cara Membesarkan Anak Laki-Laki agar Tumbuh Percaya Diri dan Bertanggung Jawab

Orang tua dapat mengganti kebiasaan tersebut dengan mengajak anak bermain, membaca buku, atau melakukan aktivitas bersama yang menyenangkan.

7. Tidak Menjadi Contoh yang Baik

Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika orang tua ingin anak bersikap sopan, jujur, dan disiplin, maka orang tua perlu menunjukkan perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Keteladanan adalah salah satu cara paling efektif dalam mendidik anak. Kebiasaan baik yang dilakukan orang tua akan lebih mudah ditiru oleh anak.

Tidak ada orang tua yang sempurna dalam membesarkan anak. Yang terpenting adalah terus belajar, memperbaiki diri, dan membangun komunikasi yang hangat dengan anak. Dengan pola asuh yang tepat, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, dan memiliki kesehatan emosional yang baik. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
membesarkan anak anak gadget orang tua tanggung jawab