5 Cara Mengajarkan Anak Mengelola Emosi Sejak Dini, Orang Tua Perlu Tahu

Andhika Feriawan • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 19:30 WIB
Cara mengajarkan mengelola emosi anak. (PINTEREST/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
Cara mengajarkan mengelola emosi anak. (PINTEREST/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Mengajarkan anak untuk mengenali dan mengelola emosi sejak dini merupakan salah satu bagian penting dalam proses tumbuh kembangnya. Anak yang mampu memahami perasaannya akan lebih mudah berkomunikasi, menghadapi masalah, serta membangun hubungan yang sehat dengan orang di sekitarnya.

Emosi seperti marah, sedih, kecewa, takut, maupun senang merupakan hal yang wajar dialami anak. Namun, anak belum selalu memiliki kemampuan untuk memahami apa yang sedang dirasakan atau bagaimana cara mengekspresikannya.

Karena itu, peran orang tua sangat penting dalam membantu anak belajar mengelola emosi secara bertahap. Berikut lima cara yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Bantu Anak Mengenali Perasaannya

Langkah pertama adalah mengajarkan anak mengenali berbagai macam emosi. Orang tua dapat menggunakan kata-kata sederhana seperti marah, sedih, takut, kecewa, senang, atau khawatir.

Baca Juga: Rasa Ingin Tahu Anak Perlu Didukung, Ini Cara Orang Tua Membantu Mengembangkannya

Misalnya, ketika anak menangis karena mainannya rusak, orang tua dapat mengatakan, “Kamu sedih karena mainannya rusak, ya?” Dengan cara tersebut, anak belajar menghubungkan peristiwa yang dialaminya dengan perasaan yang muncul.

2. Jadilah Contoh dalam Mengelola Emosi

Anak banyak belajar melalui apa yang mereka lihat dari orang tua. Karena itu, orang tua perlu memberikan contoh bagaimana menghadapi emosi dengan cara yang sehat.

Ketika sedang menghadapi situasi yang membuat kesal, orang tua dapat menunjukkan bahwa emosi dapat dikendalikan dengan menarik napas, berbicara dengan tenang, atau mengambil waktu sejenak sebelum merespons.

Dengan melihat contoh tersebut secara berulang, anak perlahan dapat meniru cara orang tua menghadapi situasi emosional.

3. Ajarkan Cara Menenangkan Diri

Anak perlu mengetahui bahwa ada berbagai cara untuk menenangkan diri ketika sedang marah atau kecewa. Orang tua dapat mengajarkan teknik sederhana sesuai usia anak.

Beberapa contohnya adalah menarik napas dalam-dalam, menghitung sampai sepuluh, memeluk orang tua, minum air, atau pergi sejenak ke tempat yang tenang.

Kebiasaan tersebut dapat membantu anak memahami bahwa mereka memiliki pilihan dalam merespons emosi, bukan sekadar meluapkannya melalui tangisan atau perilaku agresif.

4. Jangan Langsung Memarahi Saat Anak Mengalami Ledakan Emosi

Ketika anak tantrum atau menangis keras, orang tua mungkin merasa kesal. Namun, memarahi anak ketika emosinya sedang memuncak sering kali tidak membantu mereka memahami perasaannya.

Orang tua dapat terlebih dahulu memastikan anak berada dalam kondisi aman, kemudian memberikan ruang untuk menenangkan diri. Setelah anak lebih tenang, barulah orang tua mengajak berbicara mengenai apa yang terjadi dan bagaimana cara menghadapinya.

Pendekatan ini membantu anak belajar bahwa perasaan mereka dapat diterima, tetapi perilaku yang menyakiti diri sendiri maupun orang lain tetap memiliki batas.

Baca Juga: 5 Permainan Tradisional yang Bisa Kamu Kenalkan kepada Anak, Seru dan Edukatif

5. Berikan Apresiasi Ketika Anak Berhasil Mengendalikan Emosi

Jangan hanya memberikan perhatian ketika anak menangis atau marah. Orang tua juga perlu memberikan apresiasi ketika anak berhasil mengungkapkan perasaannya dengan cara yang tepat.

Misalnya, ketika anak mengatakan, “Aku kesal karena kakak mengambil mainanku,” orang tua dapat memberikan respons positif karena anak sudah berusaha menyampaikan perasaannya melalui kata-kata.

Apresiasi sederhana dapat meningkatkan kepercayaan diri anak dan membuat mereka semakin terbiasa menggunakan cara yang sehat untuk menghadapi berbagai emosi.

Pentingnya Mengajarkan Pengelolaan Emosi Sejak Dini

Kemampuan mengelola emosi bukan sesuatu yang langsung dikuasai anak. Keterampilan tersebut berkembang secara bertahap seiring bertambahnya usia dan pengalaman.

Oleh sebab itu, orang tua tidak perlu berharap anak selalu tenang dalam setiap situasi. Yang lebih penting adalah membantu anak memahami apa yang mereka rasakan, memberikan contoh yang baik, serta mengajarkan cara merespons emosi secara lebih positif.

Dengan pendampingan yang konsisten, anak dapat belajar bahwa marah, sedih, kecewa, dan takut merupakan bagian normal dari kehidupan. Mereka juga dapat memahami bahwa setiap emosi bisa diungkapkan dengan cara yang aman dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
emosi belajar anak tantrum orang tua