RADARBOJONEOGRO.JAWAPOS.COM - Coba perhatikan akun media sosial seseorang. Ia mungkin tetap aktif membuka Instagram, TikTok, atau Facebook, tetapi hampir tidak pernah mengunggah kehidupan pribadinya.
Tidak ada foto saat sedang liburan, jarang membagikan aktivitas sehari-hari, bahkan momen bersama pasangan, keluarga, atau teman pun hampir tidak pernah muncul di akunnya.
Menariknya, kebiasaan tersebut tidak selalu berarti seseorang pemalu, tertutup, atau tidak memiliki kehidupan sosial. Setiap orang memiliki alasan berbeda dalam menggunakan media sosial.
Namun, pada sebagian orang, kebiasaan jarang membagikan kehidupan pribadi bisa berkaitan dengan beberapa kecenderungan berikut.
Baca Juga: Sering Tertawa Sendiri karena Membayangkan Sesuatu? Bisa Jadi Ini Ciri Kepribadianmu
1. Nyaman Menyimpan Hal Pribadi untuk Diri Sendiri
Ada orang yang merasa tidak semua hal dalam hidup perlu diketahui orang lain.
Ketika mendapatkan kabar baik, misalnya, ia mungkin lebih memilih menceritakannya kepada keluarga atau sahabat dekat daripada membuat unggahan untuk banyak orang.
Begitu pula ketika sedang berlibur. Ia bisa saja mengambil banyak foto, tetapi tidak merasa perlu mengunggahnya ke media sosial.
Orang seperti ini biasanya memiliki batas yang cukup jelas antara kehidupan pribadi dan kehidupan yang ingin diketahui publik.
2. Tidak Terlalu Membutuhkan Validasi dari Orang Lain
Sebagian orang merasa senang ketika unggahannya mendapatkan banyak tanda suka atau komentar. Namun, ada pula yang tidak terlalu memikirkan respons tersebut.
Mereka bisa menikmati pencapaian tanpa merasa harus menunjukkannya kepada banyak orang.
Misalnya, ketika mendapatkan pekerjaan baru, membeli sesuatu yang sudah lama diinginkan, atau pergi ke tempat menarik, mereka tidak merasa wajib membuat unggahan agar orang lain mengetahuinya.
Bukan berarti tidak suka mendapatkan apresiasi. Mereka hanya tidak menjadikan perhatian dari media sosial sebagai sesuatu yang harus selalu dicari.
3. Lebih Suka Menikmati Momen Secara Langsung
Pernah melihat seseorang yang ketika sedang berkumpul dengan teman justru jarang memegang ponsel?
Bisa jadi ia memang lebih menikmati momen yang sedang dijalani daripada memikirkan bagaimana pengalaman tersebut terlihat di media sosial.
Baca Juga: Masih Menyimpan Barang dari Masa Lalu? Bisa Jadi Ada Sisi Kepribadian Ini Menurut Psikologi
Saat liburan, misalnya, ia mungkin lebih fokus menikmati suasana daripada sibuk membuat konten.
Bagi orang seperti ini, sebuah pengalaman tetap terasa berharga meskipun tidak diketahui atau dilihat banyak orang.
4. Cukup Selektif dalam Mempercayai Orang
Jarang membagikan kehidupan pribadi juga bisa terlihat dari cara seseorang memilih orang yang dipercaya.
Ia mungkin tidak mudah menceritakan masalah pribadi kepada orang yang baru dikenal. Cerita tentang keluarga, hubungan, pekerjaan, atau persoalan hidup hanya dibagikan kepada orang-orang tertentu.
Menariknya, ketika sudah merasa nyaman dan percaya, orang tersebut bisa menjadi sangat terbuka.
Jadi, sedikit bercerita di media sosial bukan berarti tidak memiliki cerita. Bisa saja ia hanya memilih dengan hati-hati siapa yang boleh mengetahuinya.
5. Tidak Suka Kehidupannya Menjadi Sorotan
Ada orang yang merasa tidak nyaman ketika kehidupan pribadinya terlalu banyak diperhatikan.
Ketika mendapatkan pencapaian, misalnya, ia mungkin lebih senang menikmatinya sendiri daripada membuat unggahan yang kemudian mengundang banyak pertanyaan dan komentar.
Orang dengan kecenderungan seperti ini biasanya lebih nyaman jika kehidupan pribadinya tetap menjadi miliknya sendiri.
Hal tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa ia antisosial. Ia bisa saja sangat aktif bersosialisasi di kehidupan nyata, hanya saja tidak ingin seluruh aktivitasnya diketahui publik.
Jarang Posting Bukan Berarti Punya Kepribadian Tertentu
Meski beberapa kecenderungan di atas mungkin terasa familiar, kebiasaan jarang mengunggah kehidupan pribadi tidak bisa digunakan untuk menentukan kepribadian seseorang secara pasti.
Ada orang yang jarang posting karena menjaga privasi. Ada yang memang tidak terlalu tertarik menggunakan media sosial. Ada pula yang merasa lebih nyaman menjalani kehidupan tanpa perlu membagikan setiap momennya kepada orang lain.
Sebaliknya, orang yang sering mengunggah kehidupan pribadi juga tidak otomatis mencari perhatian atau membutuhkan validasi.
Pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa sering seseorang mengunggah sesuatu, tetapi alasan di balik kebiasaan tersebut. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko