Jangan Sepelekan Cara Berpakaian, Begini Cara Orang Lain Menilai Kepribadian Anda

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 19:45 WIB
Ilustrasi pria menyendiri. (MAGNIFIC)
Ilustrasi pria menyendiri. (MAGNIFIC)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Cara berpakaian sering kali menjadi penilaian pertama seseorang sebelum percakapan dimulai.

Pakaian sederhana bisa membuat seseorang terlihat santai, sementara penampilan rapi dapat memberikan kesan profesional. Menariknya, persepsi tersebut tidak selalu menggambarkan kepribadian atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.

Dalam psikologi sosial, penampilan merupakan salah satu informasi yang digunakan seseorang ketika membentuk first impression atau kesan pertama. Sebelum mengetahui karakter, kemampuan, bahkan latar belakang seseorang, orang lain sudah dapat membuat dugaan berdasarkan apa yang terlihat.

Baca Juga: Kepribadian Orang yang Sering Berbicara di Depan Kaca

Karena itu, pakaian bukan sekadar persoalan selera. Cara seseorang berpenampilan dapat menjadi bagian dari komunikasi nonverbal yang menyampaikan pesan tertentu kepada lingkungan sosialnya.

Pakaian Menjadi Sinyal Sosial

Ketika bertemu orang baru, informasi yang tersedia biasanya masih sangat terbatas. Otak kemudian menggunakan berbagai petunjuk yang terlihat untuk membuat penilaian awal. Pakaian menjadi salah satu petunjuk tersebut.

Seseorang yang mengenakan pakaian formal dalam lingkungan kerja, misalnya, dapat dianggap lebih profesional atau serius. Sebaliknya, pakaian yang sangat kasual dapat memberikan kesan lebih santai dan tidak terlalu formal.

Penilaian tersebut belum tentu benar. Namun, kesan awal dapat memengaruhi bagaimana seseorang memperlakukan orang lain pada tahap interaksi berikutnya.

Baca Juga: Menurut Psikologi, Ini Arti 5 Kebiasaan Menggigit Kuku Saat Cemas

Penelitian mengenai thin-slice judgment menunjukkan bahwa manusia dapat membuat penilaian terhadap orang lain hanya berdasarkan potongan informasi yang sangat singkat. Penampilan menjadi salah satu sumber informasi yang dapat digunakan dalam proses tersebut.

Rapi Tidak Selalu Berarti Lebih Baik

Menariknya, berpakaian rapi tidak otomatis membuat seseorang memiliki kepribadian lebih baik.

Seseorang bisa terlihat sangat profesional tetapi ternyata tidak memiliki kemampuan yang sesuai dengan kesan awal. Sebaliknya, orang yang berpakaian sederhana bisa saja memiliki kompetensi dan pencapaian yang jauh lebih besar.

Inilah alasan mengapa kesan pertama tidak sama dengan penilaian yang akurat.
Pakaian lebih tepat dipahami sebagai sinyal.

Orang lain kemudian menggabungkan sinyal tersebut dengan cara berbicara, perilaku, bahasa tubuh, serta pengalaman ketika berinteraksi untuk membentuk penilaian yang lebih lengkap.

Baca Juga: Mengenal Top Note, Middle Note, dan Base Note dalam Parfum, Ini Perbedaannya!

Mengapa Orang Kaya Bisa Berpakaian Sangat Sederhana?

Fenomena ini juga dapat dilihat dari perubahan cara seseorang menggunakan pakaian sebagai simbol status.

Beberapa tahun terakhir, publik kerap melihat figur pengusaha atau orang dengan kekayaan sangat besar tampil dengan pakaian sederhana dalam aktivitas sehari-hari. Kaus, celana pendek, sandal, atau pakaian tanpa merek mencolok tidak selalu menunjukkan rendahnya status sosial.

Justru dalam konteks tertentu, kesederhanaan dapat menjadi simbol bahwa seseorang tidak perlu menunjukkan status melalui penampilan.

Namun, tren belakangan juga memperlihatkan semakin banyak figur publik dan profesional yang memilih penampilan lebih rapi ketika tampil di ruang publik.

Perubahan tersebut tidak selalu berarti mereka ingin terlihat lebih kaya. Lingkungan sosial juga berubah. Media sosial, dunia profesional, personal branding, hingga intensitas pertemuan bisnis membuat penampilan semakin menjadi bagian dari cara seseorang membangun citra.

Baca Juga: Penting! Ini 5 Kesalahan Orang Tua yang Sering Dilakukan Saat Mengasuh Anak Balita

Pakaian Juga Memengaruhi Pemakainya

Pengaruh pakaian ternyata tidak hanya datang dari bagaimana orang lain melihat kita.

Konsep enclothed cognition menjelaskan bahwa pakaian yang dikenakan seseorang dapat berkaitan dengan cara ia memandang dirinya sendiri dan menjalankan perilaku tertentu.

Pakaian formal, misalnya, dalam kondisi tertentu dapat membuat seseorang merasa lebih siap menghadapi situasi profesional. Sebaliknya, pakaian yang nyaman dapat membantu seseorang merasa lebih rileks.

Artinya, pakaian dapat bekerja dalam dua arah: memengaruhi persepsi orang lain sekaligus memengaruhi kondisi psikologis pemakainya.

Meski demikian, efek tersebut sangat bergantung pada konteks, makna pakaian bagi individu, serta lingkungan sosial tempat seseorang berada.

Baca Juga: Penting! Ini 5 Kesalahan Orang Tua yang Sering Dilakukan Saat Mengasuh Anak Balita

Tidak Perlu Mengikuti Tren untuk Terlihat Baik

Pada akhirnya, berpakaian bukan tentang membuat semua orang menyukai penampilan kita. Hal yang lebih penting adalah memahami konteks.

Pakaian yang cocok untuk bekerja belum tentu sesuai untuk berolahraga. Begitu pula pakaian santai yang nyaman di rumah belum tentu memberikan kesan yang sama ketika digunakan dalam pertemuan formal.

Baca Juga: Adu Mekanik Motor Bebek Sport Kesayangan Tongkrongan: CS1 vs Satria FU vs Jupiter MX, Mana Jagoanmu?

Karena itu, memilih pakaian dapat menjadi bentuk kesadaran sosial sederhana. Bukan berarti seseorang harus kehilangan gaya pribadi, melainkan memahami pesan apa yang mungkin muncul dari penampilannya.

Cara berpakaian memang tidak dapat menjelaskan seluruh kepribadian seseorang. Namun, sebelum seseorang memiliki kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya melalui tindakan dan perkataan, pakaian sering kali sudah lebih dulu berbicara. (kam/bgs) 

Editor : Hakam Alghivari
berpakaian kepribadian cara penampilan persepsi