Mengatasi Anak Tantrum di Tempat Umum, Orang Tua Bisa Lakukan 7 Cara Ini

Farhan Reza Ardiansyah • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 18:41 WIB
Ilustrasi anak tantrum di tempat umum(AI/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi anak tantrum di tempat umum(AI/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Tangisan keras, berteriak, berguling di lantai, hingga menolak diajak pulang menjadi situasi yang cukup sering dihadapi orang tua ketika anak mengalami tantrum di tempat umum. Kondisi tersebut tidak hanya membuat orang tua panik, tetapi juga kerap menimbulkan rasa malu karena menjadi perhatian orang di sekitar.

Tantrum sebenarnya merupakan bagian dari perkembangan emosi anak, terutama pada usia balita. Anak belum selalu mampu mengungkapkan rasa kecewa, lelah, marah, lapar, atau keinginannya melalui kata-kata. Akibatnya, emosi tersebut dapat muncul dalam bentuk perilaku yang sulit dikendalikan.

Meski demikian, orang tua tetap perlu mengetahui cara menghadapi tantrum dengan tepat. Respons yang terlalu keras justru dapat membuat anak semakin sulit menenangkan diri. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan ketika anak tantrum di tempat umum.

1. Tetap tenang dan jangan langsung membentak

Hal pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah mengendalikan reaksi diri sendiri. Ketika anak berteriak dan menangis, membalas dengan bentakan atau ancaman biasanya tidak langsung menyelesaikan masalah.

Orang tua dapat berbicara dengan suara lebih rendah dan tenang. Sikap tersebut membantu menciptakan suasana yang lebih terkendali sehingga anak memiliki kesempatan untuk menurunkan intensitas emosinya.

Baca Juga: Sering Tantrum? Kenali Penyebab dan Cara Menghadapi Emosi Anak Balita

2. Pastikan anak berada di tempat yang aman

Jika tantrum terjadi di jalan, pusat perbelanjaan, tempat parkir, atau lokasi lain yang memiliki risiko bahaya, keselamatan harus menjadi prioritas.

Jauhkan anak dari kendaraan, tangga, benda tajam, atau area yang ramai. Jika memungkinkan, ajak anak berpindah ke tempat yang lebih tenang tanpa menyeret atau mempermalukannya di depan orang lain.

3. Jangan langsung memenuhi semua keinginannya

Salah satu tantangan terbesar ketika anak tantrum di tempat umum adalah keinginan orang tua untuk segera menghentikan tangisan.

Namun, memberikan apa pun yang diminta setiap kali anak tantrum dapat membuat anak belajar bahwa menangis atau berteriak merupakan cara efektif untuk mendapatkan sesuatu.

Orang tua tetap dapat menunjukkan empati tanpa mengubah batasan yang sudah ditetapkan.

Misalnya, orang tua bisa mengatakan, "Ayah tahu kamu ingin main lebih lama, tetapi sekarang waktunya pulang."

4. Akui perasaan anak

Anak mungkin belum mampu menjelaskan emosinya dengan baik. Karena itu, orang tua dapat membantu memberikan nama pada perasaan tersebut.

Contohnya, "Kamu kecewa karena tidak boleh membeli mainan itu, ya."

Kalimat sederhana seperti ini menunjukkan bahwa perasaan anak didengar. Setelah anak mulai tenang, orang tua dapat menjelaskan alasan di balik aturan yang diberikan.

Baca Juga: Terlalu Memanjakan Anak Bisa Picu Tantrum Manipulatif? Ini Kata Riset Psikologi

5. Berikan pilihan sederhana

Pada beberapa situasi, memberikan dua pilihan yang masih dapat diterima orang tua dapat membantu anak merasa memiliki kendali.

Misalnya, "Kamu mau pulang sambil digandeng atau digendong?"

Pilihan seperti ini berbeda dengan membiarkan anak menentukan seluruh keputusan. Orang tua tetap memegang batasan, sementara anak diberikan ruang untuk memilih di antara dua opsi yang aman.

6. Jangan mempermalukan anak

Komentar seperti "Jangan bikin malu" atau "Lihat, semua orang melihat kamu" mungkin keluar secara spontan ketika orang tua menghadapi tantrum.

Namun, mempermalukan anak bukan cara yang efektif untuk mengajarkan pengelolaan emosi. Anak justru dapat merasa bahwa menunjukkan emosi merupakan sesuatu yang memalukan.

Orang tua sebaiknya fokus pada perilaku dan kebutuhan anak, bukan pada pandangan orang lain.

7. Setelah tenang, ajarkan cara menghadapi emosi

Pembelajaran penting justru dapat dilakukan setelah tantrum selesai. Ketika anak sudah tenang, orang tua dapat membicarakan apa yang terjadi.

Tanyakan dengan bahasa sederhana mengapa anak marah dan bantu mencari cara lain untuk menyampaikan keinginannya. Anak dapat diajarkan mengatakan "aku kecewa", "aku mau istirahat", atau meminta bantuan ketika merasa kesulitan.

Dengan latihan berulang, anak secara bertahap dapat belajar bahwa emosi boleh dirasakan, tetapi tidak semua keinginan harus dipenuhi melalui tangisan atau amukan.

Baca Juga: Menghadapi Anak yang Sulit Diatur: Memahami Akar Masalah dan Cara Mendidik yang Lebih Efektif

Tantrum Tidak Selalu Berarti Anak Nakal

Tantrum pada dasarnya merupakan bagian dari proses belajar anak dalam mengenali dan mengatur emosi. Karena kemampuan regulasi emosi masih berkembang, anak membutuhkan pendampingan orang dewasa untuk memahami apa yang sedang dirasakannya.

Orang tua tidak perlu merasa gagal ketika anak mengalami tantrum di tempat umum. Yang lebih penting adalah bagaimana orang tua merespons situasi tersebut dengan tetap menjaga keselamatan, memberikan batasan, dan membantu anak belajar mengelola emosinya.

Jika tantrum sangat sering terjadi, berlangsung sangat lama, semakin berat, atau disertai perilaku yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain, orang tua dapat mempertimbangkan berkonsultasi dengan dokter anak atau tenaga profesional untuk mendapatkan penilaian yang sesuai. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
anak tantrum emosi anak orang tua kecewa