3 Poin Inti dari Artikel Ini:
-
Efek Protektif Hewan Kecil: Pemeliharaan hewan seperti ikan, kura-kura, dan hamster secara konsisten sepanjang masa kanak-kanak awal terbukti melindungi anak dari masalah kesehatan mental karena menuntut kontak yang stabil dan mudah.
-
Catatan Khusus pada Kucing: Memiliki kucing pada usia 4 hingga 5 tahun dikaitkan dengan lebih banyak masalah kesehatan mental, yang kemungkinan dipengaruhi oleh sifat kucing yang lebih independen serta risiko penularan toksoplasmosis.
-
Manfaat Umum Ikatan Hewan: Secara positif, kehadiran hewan peliharaan dapat meningkatkan regulasi emosi, membangun rasa tanggung jawab serta empati, dan berfungsi sebagai objek kenyamanan bagi anak.
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernahkah kamu bertanya-tanya apakah memelihara hewan benar-benar mendatangkan kebaikan bagi kesehatan mental anakmu?
Dilansir dari laman independent.co.uk, sebuah studi komprehensif dari Proyek INMA di Spanyol yang melibatkan sekitar 1.900 keluarga mengungkapkan fakta menarik bahwa tidak semua hewan peliharaan memberikan dampak yang sama.
Hewan peliharaan kecil seperti hamster, kelinci, kura-kura, atau ikan yang dipelihara secara konsisten justru terbukti memberikan efek protektif terhadap kesehatan mental anak, sementara kepemilikan kucing pada usia tertentu justru menunjukkan kaitan dengan peningkatan masalah kesehatan mental.
Baca Juga: 6 Bahaya Paparan Layar HP pada Anak, Bisa Ganggu Perkembangan Otak hingga Kesehatan Mental
Membedah Hubungan Anak dan Hewan Peliharaan
Ikatan emosional antara anak yang sedang berkembang dengan pengasuh atau hewan peliharaan dikenal sebagai attachment. Hubungan ini terbukti mendatangkan berbagai efek bermanfaat bagi anakmu.
Hewan peliharaan membantu meningkatkan regulasi emosi agar anak belajar menenangkan diri, membangun tanggung jawab, empati, serta standar moral. Selain itu, hewan juga bertindak sebagai katalisator hubungan sosial dengan orang lain dan berfungsi sebagai objek kenyamanan saat figur utama tidak ada di dekatnya.
Untuk mengkaji dampak nyata pada kesehatan mental anak, para peneliti menganalisis data dari Proyek INMA (Infancia y Medio Ambiente atau Anak dan Lingkungan) di Spanyol.
Studi kohort ini memantau kelompok partisipan sejak masa kehamilan hingga anak berusia 6–7 tahun melalui kuesioner dan tes klinis di berbagai wilayah seperti Asturias, Gipuzkoa, Sabadell, dan Valencia.
Dari sekitar 1.900 rumah tangga yang dianalisis, sebanyak 52,3% memiliki atau pernah memiliki hewan peliharaan. Rinciannya meliputi 19,1% memelihara anjing, 8,7% kucing, 14,8% burung, dan 28,6% hewan lain seperti hamster, kelinci, kura-kura, atau ikan.
Temuan Mengejutkan: Kucing vs Hewan Kecil
Hasil analisis menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak pernah memiliki hewan peliharaan justru menunjukkan skor kesehatan mental yang paling positif.
Sementara itu, anak-anak yang selalu memelihara hewan atau memilikinya secara intermiten menunjukkan tren tertentu, di mana kepemilikan kucing secara intermiten membawa risiko masalah yang lebih tinggi secara signifikan.
Setelah disesuaikan dengan faktor kelas sosial, jenis kelamin, usia, dan kohort, tidak ada perbedaan berarti antara yang tidak punya hewan sama sekali dengan yang selalu atau sesekali memilikinya, termasuk untuk anjing dan burung.
Namun, temuan paling menarik adalah kepemilikan kucing pada usia 4–5 tahun yang berkaitan erat dengan masalah kesehatan mental.
Baca Juga: Menjaga Kesehatan Mental di Bulan Suci Ramadan
Peneliti menjelaskan bahwa cara interaksi kucing yang lebih independen membatasi ikatan emosional, dan terkadang keluarga memilih kucing karena anak mereka memang memiliki kebutuhan emosional tersendiri.
Selain itu, faktor infeksi toksoplasmosis yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii pada kucing lebih umum dan telah dikaitkan dengan masalah perilaku hingga gangguan mental serius seperti bipolar dan skizofrenia.
Sebaliknya, memiliki ikan, kura-kura, dan hamster secara konstan justru melindungi anak dari masalah mental karena hewan-hewan ini menuntut interaksi yang stabil, membantu anak belajar tanggung jawab, empati, serta pengendalian diri.
Meski demikian, studi ini mencatat bahwa paparan hewan pada anak usia sangat dini memerlukan penelitian lanjutan pada anak yang lebih besar. Hubungan yang konsisten terbukti lebih bermanfaat dibandingkan paparan sporadis.
Dampak nyata dari kehadiran hewan peliharaan bagi anakmu tetap sangat bergantung pada sifat ikatan, usia, dan pola pengasuhan di dalam keluarga. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko