Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menjaga Kesehatan Mental di Bulan Suci Ramadan

M
Penulis: Muhammad Suaeb❯

dr. Utami Sanjaya, Sp.KJ.
dr. Utami Sanjaya, Sp.KJ.

Oleh: dr. Utami Sanjaya, Sp.KJ.

BULAN Ramadan dikenal sebagai waktu untuk memperkuat iman dan mengasah kesabaran, namun dari sudut pandang kedokteran jiwa, bulan suci ini juga merupakan momen penting bagi kesehatan mental.


Advertisement

Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih otak dan emosi untuk beradaptasi dengan perubahan serta menumbuhkan keseimbangan batin.

Saat seseorang berpuasa, tubuh mengalami proses penyesuaian terhadap perubahan jam makan dan tidur.

Kondisi ini ternyata menstimulasi sistem saraf untuk beradaptasi, meningkatkan disiplin diri, dan membangun kemampuan mengendalikan dorongan.

Advertisement

Dalam konteks kesehatan mental, kemampuan menunda keinginan dan menahan emosi adalah bentuk latihan psikologis yang sangat berharga.

Orang yang berpuasa belajar mengenali ritme tubuh dan pikirannya, sehingga lebih sadar terhadap apa yang dirasakan.

Secara biologis, berpuasa juga berkaitan dengan penurunan kadar hormon stres seperti kortisol, serta peningkatan produksi hormon endorfin dan serotonin yang berperan dalam menciptakan perasaan tenang dan bahagia.

Advertisement

Kombinasi keduanya membantu menstabilkan suasana hati, menurunkan kecemasan, dan meningkatkan fokus.

Banyak orang merasakan bahwa pikirannya lebih jernih dan hatinya lebih ringan selama Ramadan, bukan hanya karena ibadah, tetapi juga karena keseimbangan kimiawi di otak yang mendukung perasaan damai.

Dari aspek sosial, Ramadan mendorong interaksi yang lebih hangat melalui kegiatan berbuka bersama, tarawih berjemaah, dan berbagi dengan sesama.

Dukungan sosial seperti ini terbukti sangat penting bagi kesehatan mental, karena memperkuat rasa memiliki dan mengurangi perasaan kesepian. 

Selain itu, momen refleksi diri yang sering dilakukan di bulan ini membantu individu mengenali makna hidup yang lebih dalam, mengurangi tekanan batin, dan menumbuhkan rasa syukur.

Namun, agar manfaat ini optimal, keseimbangan tetap menjadi kunci. Kurang tidur akibat aktivitas malam, konsumsi berlebihan saat berbuka, dan jadwal yang terlalu padat bisa mengganggu kestabilan emosi.

Menjaga pola makan bergizi, tidur cukup, dan memberi waktu untuk istirahat mental sangat diperlukan agar tubuh dan pikiran tetap selaras.

Dengan memahami puasa melalui lensa ilmu kedokteran jiwa, Ramadan menjadi lebih dari sekadar ritual keagamaan.

Ia adalah proses pemulihan batin yang menenangkan pikiran, menumbuhkan empati, dan memperkuat daya tahan mental, membawa manusia pada keseimbangan yang utuh antara tubuh, jiwa, dan spiritualitas.

*Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa di RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro dan Pengurus IDI Bojonegoro Bidang Pelayanan Profesi dan Kegiatan Ilmiah

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Fenomena Inner Child Pria Terbawa hingga Dewasa, Suka Nonton Kartun hingga Koleksi Mainan

Fenomena Inner Child Pria Terbawa hingga Dewasa, Suka Nonton Kartun hingga Koleksi Mainan

Kebiasaan menonton kartun, mengoleksi action figure, membeli diecast mobil, hingga memainkan permainan yang populer pada masa kecil ternyata tidak selalu ditinggalkan ketika seseorang beranjak dewasa.

Mitos atau Fakta, Benarkah Wanita Berkumis Memiliki Nafsu Seksual Lebih Tinggi?

Mitos atau Fakta, Benarkah Wanita Berkumis Memiliki Nafsu Seksual Lebih Tinggi?

Biasanya, perempuan dengan rambut di atas bibir atau bagian wajah lainnya dikaitkan dengan kadar hormon androgen yang lebih tinggi sehingga dianggap memiliki libido yang juga lebih besar.

Mengapa Anak Lebih Sering Melawan Orang Tua daripada Orang Lain? Ini Penjelasan Psikologinya

Mengapa Anak Lebih Sering Melawan Orang Tua daripada Orang Lain? Ini Penjelasan Psikologinya

Pernah melihat anak yang terlihat sopan dan penurut ketika berada di sekolah, tetapi justru sering membantah saat berada di rumah? Kondisi ini sering membuat orang tua bertanya-tanya. Apakah anak memang lebih sulit diatur di rumah?

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer