RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Mengatur waktu belajar dan bermain anak terkadang menjadi tantangan bagi orang tua. Anak membutuhkan waktu untuk belajar dan menyelesaikan tugas, tetapi bermain juga penting untuk membantu perkembangan fisik, sosial, kreativitas, dan emosinya.
Karena itu, orang tua tidak perlu menghilangkan waktu bermain hanya demi menambah jam belajar. Kuncinya adalah membuat rutinitas yang seimbang dan sesuai dengan usia anak.
1. Buat Jadwal Harian yang Sederhana
Anak akan lebih mudah mengikuti rutinitas jika memiliki jadwal yang jelas. Tidak perlu terlalu banyak aturan, cukup tentukan waktu untuk bangun, makan, sekolah, belajar, bermain, dan tidur.
Jadwal tersebut bisa ditempel di tempat yang mudah dilihat anak. Untuk anak yang masih kecil, gunakan gambar atau simbol agar mereka lebih mudah memahami urutannya.
2. Tentukan Waktu Belajar yang Tepat
Tidak semua anak memiliki waktu konsentrasi yang sama. Pilih waktu ketika anak berada dalam kondisi cukup segar dan tidak mengantuk.
Baca Juga: Mengenal Nature Deficit Disorder, Saat Anak Terlalu Jarang Bermain di Alam
Sesi belajar juga tidak harus berlangsung berjam-jam. Untuk anak yang lebih kecil, waktu belajar dapat dibuat lebih singkat dengan jeda di antaranya. Anak yang lebih besar bisa memiliki sesi belajar yang lebih panjang sesuai kebutuhan sekolahnya.
3. Jangan Hilangkan Waktu Bermain
Bermain bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Melalui permainan, anak dapat belajar berkomunikasi, memecahkan masalah, berimajinasi, dan mengembangkan kemampuan motoriknya.
Karena itu, setelah menyelesaikan kewajiban belajar, berikan anak kesempatan untuk bermain secara aktif maupun kreatif.
4. Gunakan Sistem Belajar dan Istirahat
Belajar terus-menerus dapat membuat anak cepat bosan. Orang tua bisa membagi waktu belajar menjadi beberapa sesi yang diselingi istirahat.
Misalnya, anak belajar selama beberapa puluh menit kemudian diberikan waktu untuk beristirahat sebelum kembali belajar. Durasi dapat disesuaikan dengan usia dan kemampuan konsentrasi anak.
5. Libatkan Anak dalam Membuat Jadwal
Anak cenderung lebih mudah menerima aturan jika ikut dilibatkan. Orang tua dapat bertanya, misalnya, "Kamu mau belajar setelah makan atau setelah istirahat?"
Berikan beberapa pilihan yang tetap berada dalam batas aturan keluarga. Dengan begitu, anak belajar mengenal tanggung jawab sekaligus merasa memiliki kendali atas rutinitasnya.
6. Batasi Penggunaan Gadget
Gadget sebaiknya tidak mengambil sebagian besar waktu bermain anak. Buat aturan yang jelas mengenai kapan anak boleh menggunakan ponsel, tablet, atau menonton televisi.
Sebagai gantinya, tawarkan aktivitas lain seperti bermain di luar rumah, menggambar, membaca buku, bermain dengan mainan, membantu pekerjaan sederhana di rumah, atau bermain bersama keluarga.
7. Pastikan Anak Mendapatkan Tidur yang Cukup
Jangan sampai jadwal belajar dan bermain membuat waktu tidur anak berkurang. Tidur yang cukup merupakan bagian penting dari rutinitas anak karena tubuh dan otak membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Jika anak harus bangun pagi untuk sekolah, tentukan waktu tidur yang konsisten dan hindari kegiatan yang terlalu aktif menjelang waktu tidur.
Baca Juga: Waspada! Lindungi Anak dari Ancaman Siber Saat Bermain Roblox
8. Jangan Membandingkan Jadwal Anak
Setiap anak memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda. Ada anak yang dapat berkonsentrasi lebih lama, sementara anak lainnya membutuhkan lebih banyak jeda. Karena itu, jadwal sebaiknya disesuaikan dengan usia, karakter, kebutuhan sekolah, serta kondisi anak. Jangan memaksakan jadwal hanya karena anak lain memiliki rutinitas yang berbeda.
Belajar dan Bermain Sama-Sama Penting
Membuat jadwal anak bukan berarti mengisi seluruh hari dengan kegiatan yang terstruktur. Anak tetap membutuhkan ruang untuk bermain bebas, beristirahat, dan menghabiskan waktu bersama keluarga.
Dengan rutinitas yang konsisten tetapi tetap fleksibel, anak dapat belajar mengenal tanggung jawab tanpa merasa bahwa belajar adalah beban. Pada saat yang sama, waktu bermain tetap menjadi bagian penting dari kesehariannya.
Yang terpenting, orang tua tidak hanya mengejar berapa lama anak belajar, tetapi juga memperhatikan kualitas belajar, waktu bermain, istirahat, dan kondisi emosional anak. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko