Sering Tantrum? Kenali Penyebab dan Cara Menghadapi Emosi Anak Balita

Andhika Feriawan • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:35 WIB
Cara mencegah anak jadi tantrum. (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
Cara mencegah anak jadi tantrum. (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tantrum merupakan salah satu perilaku yang cukup umum terjadi pada anak usia balita. Kondisi ini biasanya ditandai dengan menangis, berteriak, marah, berguling-guling, hingga menolak melakukan sesuatu. Meski sering membuat orang tua kewalahan, tantrum pada dasarnya merupakan bagian dari proses perkembangan emosi dan kemampuan komunikasi anak.

Pada usia balita, kemampuan anak untuk mengenali, mengendalikan, dan mengungkapkan perasaan masih berkembang. Ketika keinginannya tidak terpenuhi atau ia kesulitan menyampaikan apa yang dirasakan, emosi tersebut dapat muncul dalam bentuk tantrum.

Mengapa Balita Sering Tantrum ?

Ada berbagai faktor yang dapat memicu tantrum. Salah satunya adalah rasa lelah atau mengantuk. Anak yang kurang tidur biasanya lebih mudah rewel dan sulit mengendalikan emosinya.

Baca Juga: 5 Tips Agar Anak Mau Makan Sayur, Orang Tua Wajib Tahu

Rasa lapar juga dapat menjadi pemicu. Balita yang belum makan dalam waktu cukup lama bisa menjadi lebih sensitif terhadap keadaan di sekitarnya.

Selain itu, tantrum dapat muncul ketika anak mengalami frustrasi. Misalnya, anak ingin mengambil atau melakukan sesuatu tetapi belum mampu melakukannya sendiri. Keterbatasan kemampuan berbahasa juga dapat membuat anak kesulitan menjelaskan keinginannya.

Perubahan rutinitas, larangan dari orang tua, terlalu banyak stimulasi, atau keinginan untuk mendapatkan perhatian juga dapat memicu ledakan emosi.

Jangan Langsung Membentak Anak

Ketika anak tantrum, orang tua sebaiknya berusaha tetap tenang. Membentak atau memarahi anak ketika emosinya sedang memuncak justru dapat membuat situasi semakin sulit dikendalikan.

Orang tua dapat memastikan terlebih dahulu bahwa anak berada di tempat yang aman. Setelah itu, berikan ruang bagi anak untuk menenangkan diri tanpa meninggalkannya dalam kondisi yang berbahaya.

Jika anak mulai lebih tenang, orang tua dapat berbicara menggunakan kalimat sederhana. Misalnya, “Kamu marah karena tidak boleh mengambil mainan itu, ya?” Kalimat seperti ini membantu anak mengenali dan memberi nama pada emosinya.

Ajarkan Anak Mengenali Perasaannya

Salah satu cara menghadapi tantrum dalam jangka panjang adalah membantu anak mengenali berbagai emosi. Orang tua dapat mengajarkan kata-kata seperti marah, sedih, kecewa, takut, atau senang.

Anak juga perlu belajar bahwa merasa marah atau kecewa merupakan hal yang wajar, tetapi tidak semua perilaku boleh dilakukan ketika sedang marah. Memukul, menendang, menggigit, atau menyakiti orang lain tetap perlu diberi batasan secara tegas dan konsisten.

Berikan Pilihan Sederhana

Memberikan pilihan dapat membantu balita merasa memiliki kendali tanpa membuat orang tua kehilangan batasan. Contohnya, “Mau memakai baju warna biru atau merah?” daripada langsung memerintahkan anak untuk berganti pakaian.

Baca Juga: Jangan Asal Pilih Makanan Anak, Ini 7 Nutrisi Penting yang Wajib Diperhatikan Setiap Hari

Pilihan yang sederhana dan terbatas juga dapat mengurangi kemungkinan anak menolak karena merasa semua keputusan dibuat oleh orang dewasa.

Konsisten dengan Aturan

Orang tua perlu menerapkan aturan secara konsisten. Jika suatu perilaku dilarang hari ini tetapi diperbolehkan keesokan harinya hanya karena anak menangis, anak dapat belajar bahwa tantrum merupakan cara untuk mendapatkan sesuatu.

Konsistensi bukan berarti orang tua harus keras. Sebaliknya, aturan dapat disampaikan dengan tenang, singkat, dan mudah dipahami anak.

Kapan Tantrum Perlu Diperhatikan Lebih Lanjut ?

Tantrum sesekali merupakan bagian dari perkembangan balita. Namun, orang tua sebaiknya memperhatikan apabila ledakan emosi sangat sering, berlangsung lama, sangat intens, menyebabkan anak atau orang lain terluka, atau disertai masalah perkembangan dan perilaku lain.

Dalam kondisi tersebut, orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter anak atau tenaga profesional terkait untuk mendapatkan penilaian yang sesuai.

Pada akhirnya, menghadapi tantrum bukan sekadar menghentikan tangisan anak. Orang tua juga perlu membantu balita belajar memahami emosi, berkomunikasi, dan menemukan cara yang lebih sehat untuk mengekspresikan keinginannya. Dengan pendampingan yang tenang, konsisten, dan penuh kasih, kemampuan anak dalam mengelola emosi akan berkembang secara bertahap. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
emosi anak tantrum Balita orang tua