Tak Selalu Nike dan ASICS, 5 Sepatu Running Underrated yang Layak Dilirik Pelari Indonesia

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:28 WIB
Lari tengah menjadi tren akhir-akhir ini.
Lari tengah menjadi tren akhir-akhir ini.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Dunia sepatu lari tidak hanya soal model yang paling sering muncul di media sosial. Di tengah popularitas ASICS Superblast, Nike Pegasus, Hoka Clifton hingga berbagai sepatu karbon, ada sejumlah model yang justru tidak terlalu ramai dibicarakan, tetapi mendapat penilaian positif dari reviewer dan komunitas running.

Istilah underrated atau slept-on sendiri tidak berarti sepatu tersebut buruk atau tidak laku. Sebaliknya, istilah ini biasanya digunakan untuk model yang dinilai memiliki kemampuan bagus, tetapi kalah populer dibandingkan produk lain dalam lini merek yang sama.

Salah satu reviewer yang cukup vokal membahas kategori ini adalah Yowana Wamala dari Supwell. Pada 2025, ia membuat daftar sepatu paling under-rated dari sejumlah merek besar, termasuk ASICS, Brooks, On, New Balance dan Hoka.

Baca Juga: Mitos atau Fakta? Minum Air Es Bikin Gemuk, Ini Penjelasannya!

Berikut beberapa model yang menarik diperhatikan pelari Indonesia.

1. ASICS GlideRide Max

Nama ASICS lebih sering dikaitkan dengan lini Gel-Nimbus, Novablast dan Superblast. Namun, Yowana Wamala dari Supwell justru memasukkan GlideRide Max sebagai salah satu model ASICS yang underrated.

Menurut Supwell, GlideRide Max menawarkan karakter yang lembut, nyaman dan protektif berkat konstruksi midsole dengan FF Blast Max dan FF Blast+. Sepatu ini juga dinilai cocok untuk recovery run maupun lari harian dengan jarak lebih panjang.

Menariknya, penerusnya, ASICS GlideRide Max 2, masih tercantum di situs resmi ASICS Indonesia dengan harga Rp2.899.000.

Artinya, model ini cukup relevan untuk pelari Indonesia yang mencari sepatu dengan bantalan tebal tetapi tidak ingin selalu mengikuti tren Superblast atau Nimbus.

Baca Juga: Jangan Plank Kalau Mau Perut Sixpack, Lakukan 5 Gerakan Ini

2. Brooks Hyperion 2

Brooks Hyperion 2 memiliki karakter yang berbeda dari sepatu dengan bantalan supertebal yang sedang populer.

Supwell menyebut model ini sebagai sepatu yang slept-on karena memiliki konstruksi ringan, sensasi pijakan yang lebih dekat ke permukaan dan karakter yang relatif firm. Model ini ditujukan untuk latihan kecepatan dan fast daily miles, tanpa menggunakan pelat.

Karakter tersebut justru membuat Hyperion 2 menarik bagi pelari yang menginginkan sepatu latihan cepat tanpa harus langsung menggunakan sepatu balap karbon.

Di pasar Indonesia, ketersediaan Hyperion 2 dapat bergantung pada toko dan ukuran. Karena itu, calon pembeli sebaiknya mengecek stok dan ukuran sebelum membeli.

3. On Cloudmonster Hyper

On merupakan salah satu merek yang popularitasnya terus meningkat di kalangan pelari. Namun, Yowana justru menilai Cloudmonster Hyper sebagai salah satu model On yang kurang mendapatkan perhatian dibandingkan popularitas mereknya.

Baca Juga: Olahraga Harus Sampai Ngos-ngosan agar Efektif? Ini Kata Penelitian

Supwell menilai Cloudmonster Hyper sebagai sepatu latihan serbaguna yang bisa digunakan untuk lari harian maupun latihan dengan jarak tinggi. Karakter bantalan dan kombinasi foam-nya juga membuat sepatu ini dirancang untuk memberikan perlindungan sekaligus respons yang cukup baik.

Untuk pasar Indonesia, lini Cloudmonster sendiri masih tersedia melalui situs resmi On Indonesia. Saat ini On Indonesia menampilkan Cloudmonster 3 dan Cloudmonster 3 Hyper, dengan harga masing-masing Rp3,2 juta dan Rp3,6 juta.

Sementara itu, varian Cloudmonster Hyper generasi sebelumnya juga masih muncul pada katalog On Indonesia, meski ketersediaan ukuran dapat berubah.

4. New Balance FuelCell Rebel V4

New Balance memiliki banyak model running populer, tetapi FuelCell Rebel V4 cenderung berada di luar daftar sepatu yang paling sering menjadi pusat perhatian.

Baca Juga: 7 Tips Merawat Ginjal agar Tetap Sehat, Cegah Penyakit Sejak Dini

Model ini menarik karena memiliki bobot relatif ringan dan dirancang untuk penggunaan mulai dari lari harian hingga latihan kecepatan. Salah satu retailer Indonesia mencantumkan bobot sekitar 212-218 gram untuk versi pria, dengan drop 6 mm dan karakter penggunaan untuk daily running serta speed training.

FuelCell Rebel V4 juga masih dapat ditemukan di sejumlah retailer Indonesia. Namun, stoknya sudah tidak merata dan beberapa varian tercatat habis, sehingga ketersediaan ukuran perlu diperiksa sebelum membeli.

Karena itu, Rebel V4 bisa menjadi pilihan menarik bagi pelari yang menginginkan sepatu ringan dan responsif tanpa harus mengejar model terbaru.

5. Hoka Skyflow

Hoka identik dengan sepatu berbantalan tebal seperti Clifton dan Bondi. Justru karena itulah Skyflow menarik perhatian ketika Supwell memasukkannya dalam daftar sepatu Hoka yang underrated.

Skyflow disebut sebagai sepatu yang berada di tengah-tengah. Bantalan tetap terasa nyaman, tetapi tidak dibuat dengan konsep super max. Sepatu ini juga tidak menggunakan pelat, tetapi masih dapat digunakan untuk berlari lebih cepat. Supwell menggambarkannya sebagai sepatu serbaguna yang tidak terlalu rumit tetapi mampu menjalankan berbagai fungsi.

Bagi pelari yang merasa sepatu max cushion terlalu berat atau terlalu tinggi, karakter seperti ini bisa menjadi alternatif.

Baca Juga: 7 Sayuran Underrated, Padahal Kandungan Gizinya Luar Biasa Menurut Penelitian Terbaru

Underrated bukan berarti terbaik untuk semua orang

Menariknya, pembahasan tentang sepatu underrated tidak berhenti pada satu reviewer.

Pada 31 Juli 2026, The Mileage Podcast yang dipandu Yowana juga menerbitkan episode berjudul Top 10 Underrated Shoes for Marathon Training. Daftar tersebut memasukkan sejumlah model yang berbeda, seperti Nike Structure Plus, Puma MagMax 2, ASICS Gel-Nimbus 28, Hoka Clifton Pro, On Cloudmonster Hyper 3, Hoka Skyward X 2, Mizuno Neo Vista 3 dan Brooks Hyperion Max 3.

Hal tersebut menunjukkan bahwa istilah underrated sangat bergantung pada kebutuhan pelari. Sepatu yang dianggap kurang menarik bagi pelari lain bisa saja justru cocok untuk daily training, long run, recovery run atau latihan kecepatan.

Bahkan Mizuno Neo Vista 3, yang masuk daftar overlooked shoes tersebut, sudah tersedia di pasar Asia melalui kanal resmi Mizuno.

Bagi pelari Indonesia, karena itu, memilih sepatu sebaiknya tidak hanya berdasarkan popularitas merek atau jumlah konten yang muncul di media sosial. Faktor seperti bentuk kaki, jenis latihan, jarak lari, karakter bantalan, bobot sepatu dan gaya berlari tetap lebih penting.

Jadi, sepatu running underrated bukan berarti sepatu yang kalah kualitas. Bisa jadi, model tersebut hanya kalah populer dari produk yang lebih sering muncul di media sosial. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
Underrated sepatu running