RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang pasti dihadapkan pada berbagai pilihan. Mulai dari keputusan sederhana seperti memilih pekerjaan, menentukan tempat tinggal, hingga keputusan besar yang dapat memengaruhi masa depan. Namun, tidak semua orang mampu mengambil keputusan dengan mudah. Ada kalanya seseorang justru merasa takut, ragu, terlalu banyak berpikir, atau memilih menunda keputusan.
Dalam psikologi, rasa takut mengambil keputusan dapat berkaitan dengan berbagai faktor. Kondisi ini tidak selalu berarti seseorang lemah atau tidak mampu menentukan pilihan. Sering kali, ada pengalaman, pola pikir, maupun tekanan tertentu yang membuat seseorang merasa tidak yakin terhadap keputusan yang akan diambil.
Baca Juga: Menurut Psikologi, Ini 7 Penjelasan Mengapa Seseorang Bisa Tiba-Tiba Kehilangan Motivasi
1. Takut Membuat Kesalahan
Salah satu faktor yang paling umum adalah ketakutan terhadap kesalahan. Seseorang mungkin berpikir bahwa keputusan yang salah akan membawa konsekuensi buruk, sehingga memilih tidak mengambil keputusan sama sekali.
Pikiran seperti “Bagaimana kalau saya salah?” atau “Bagaimana kalau keputusan ini membuat semuanya menjadi lebih buruk?” dapat membuat seseorang semakin ragu.
2. Terlalu Banyak Memikirkan Risiko
Mempertimbangkan risiko memang penting sebelum mengambil keputusan. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, seseorang dapat terjebak dalam kondisi yang sering disebut sebagai overthinking.
Berbagai kemungkinan buruk terus dipikirkan hingga akhirnya seseorang kesulitan menentukan pilihan. Bahkan, keputusan sederhana pun dapat terasa sangat berat.
3. Pengalaman Buruk di Masa Lalu
Pengalaman masa lalu juga dapat memengaruhi keberanian seseorang dalam mengambil keputusan. Jika sebelumnya pernah mengalami kegagalan atau mendapatkan kritik setelah membuat keputusan, seseorang mungkin menjadi lebih berhati-hati pada kesempatan berikutnya.
Pengalaman tersebut dapat membuat munculnya keyakinan bahwa mengambil keputusan selalu berisiko menyebabkan kegagalan.
4. Perfeksionisme
Orang yang memiliki kecenderungan perfeksionis dapat mengalami kesulitan mengambil keputusan karena ingin mendapatkan pilihan yang benar-benar sempurna.
Masalahnya, dalam kehidupan nyata tidak semua keputusan memiliki pilihan yang sempurna. Menunggu sampai semua kondisi ideal justru dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan.
5. Rendahnya Kepercayaan Diri
Kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri memiliki peran penting dalam proses pengambilan keputusan. Seseorang yang kurang percaya diri mungkin merasa pendapat orang lain lebih tepat dibandingkan pertimbangannya sendiri.
Akibatnya, ia cenderung membutuhkan persetujuan dari orang lain sebelum menentukan pilihan.
Baca Juga: Masih Menyimpan Barang dari Masa Lalu? Bisa Jadi Ada Sisi Kepribadian Ini Menurut Psikologi
6. Takut Mendapat Penilaian Orang Lain
Tekanan sosial juga dapat membuat seseorang takut mengambil keputusan. Misalnya, seseorang sebenarnya sudah mengetahui pilihan yang diinginkan, tetapi khawatir keluarga, pasangan, teman, atau lingkungan tidak menyetujuinya.
Ketakutan terhadap kritik dan penolakan akhirnya membuat seseorang lebih memilih mengikuti keputusan orang lain.
7. Terlalu Banyak Pilihan
Menariknya, memiliki banyak pilihan tidak selalu membuat seseorang lebih mudah menentukan keputusan. Sebaliknya, terlalu banyak alternatif dapat membuat seseorang semakin bingung.
Seseorang dapat terus membandingkan satu pilihan dengan pilihan lainnya hingga akhirnya tidak mengambil keputusan apa pun.
8. Takut Menghadapi Konsekuensi
Setiap keputusan memiliki konsekuensi. Sebagian orang bukan hanya takut terhadap keputusan itu sendiri, tetapi juga terhadap apa yang mungkin terjadi setelah keputusan dibuat.
Misalnya, seseorang ingin pindah pekerjaan tetapi takut kehilangan kenyamanan, pendapatan, atau hubungan dengan rekan kerja. Ketakutan terhadap konsekuensi tersebut dapat membuatnya tetap bertahan meskipun sebenarnya sudah tidak nyaman.
9. Terbiasa Bergantung pada Orang Lain
Kebiasaan menyerahkan keputusan kepada orang lain juga dapat membuat seseorang kurang terbiasa menentukan pilihan sendiri.
Ketika harus mengambil keputusan secara mandiri, muncul rasa tidak yakin karena sebelumnya selalu mendapatkan arahan atau persetujuan dari orang lain.
Baca Juga: Menurut Psikologi, Inilah 5 Fakta Seputar Perempuan Tomboi
Jangan Selalu Menunggu Keputusan yang Sempurna
Takut mengambil keputusan merupakan hal yang dapat dialami siapa saja. Yang perlu diperhatikan adalah ketika keraguan tersebut terus-menerus menghambat aktivitas, pekerjaan, hubungan sosial, atau kehidupan sehari-hari.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membedakan antara keputusan yang memang membutuhkan pertimbangan matang dengan keputusan yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan secara berlebihan.
Cobalah mengumpulkan informasi yang cukup, mempertimbangkan risiko secara realistis, menentukan batas waktu untuk memilih, kemudian menerima bahwa tidak semua hasil dapat diprediksi.
Pada akhirnya, mengambil keputusan bukan berarti seseorang harus selalu memilih dengan tepat. Proses tersebut juga menjadi bagian dari pembelajaran. Kesalahan dapat menjadi pengalaman yang membantu seseorang memahami dirinya dan membuat keputusan yang lebih baik di kemudian hari.
Jika ketakutan mengambil keputusan terasa sangat berat dan terus mengganggu kehidupan sehari-hari, berbicara dengan psikolog atau tenaga profesional dapat menjadi salah satu pilihan untuk memahami penyebabnya secara lebih mendalam. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko